Minggu, 13 Juni 2010

Mengejar Mimpi (1)


Dari puncak bukit kecil disebut rukue, kala matahari agak meninggi, mulai ada sedikit keraguan dan buru-buru kami memandang ke tengah-tengah kampung Sanumpito, bila pucuk tiang bendera kosong berarti kelas belum masuk, sebaliknya bila merah putih tlah berkibar di ujung tiangnya, kelas sedang berlangsung. Itulah simbol yang kami tandai bilamana dalam tiga per empat perjalanan menuju SDN Inpres Sanumpito yang bebas biaya pendidikannya tetapi sungguh jauh lokasinya bagi anak seukuran kami. Aku harus bagun pagi-pagi membersihkan tempat tidur, dapur dan halaman rumah, baru berangkat ke sekolah dengan "titania" bertelapak sobek karena aus selama 4 tahun pemakaian tak diganti-ganti. Sekali waktu, bendera telah berkibar dan aku ngotot meneruskan perjalanan. Tiga kawanku yang lain menyatakan kembali ke kampung. Karena kerasnya tekadku sebagai "pengkhianat" dalam perspektif kerdil mereka, akupun dihajar dengan mistar kayu di betisku, sebelum nanti dihajar guru karena terlambat.

Situasi itu sering terjadi, hingga pelajaran tentang makna yang lain akhirnya mengubah pandangan kami sekeluarga tentang bahayanya sekolah jauh. Aku terkapar hilang kesadaran setelah pelajaran siang dilanjutkan less sore dan aku bertahan tidak makan siang itu. Sore pukul 5 less usai, aku melangkah gontai pulang ke rumah, kulahap sebuah pala muda di jalan menuju kampungku. Entah karena zat apa dalam buah pala itu, membuat aku seketika tertidur di sebuah regel di Liwua. Akupun kaget terbangun pukul 21.00 dan pamanku berada di samping sambil meneteskan air matanya. Air mata yang membuat aku siuman. Keesokkan hari aku dipindahkan ke SD YPK Laghaeng, sekolah yang berada di belakang rumah kami. Tapi di sekolah itu aku harus bayar. Tidak apa2, kata paman,...... karena tinggal sekelas lagi aku segra tamat. Sejak saat itu aku sangat berkeinginan menjadi guru.

Setahun kemudian kepala kampung mendapat kehormatan untuk memberikan secara langsung lembaran Nilai Ebtanas Tertinggi dari puluhan siswa berseragam putih merah. Aku, anak tanpa ayah yang kerap ditinggalkan kerabatnya karena eksodus, menerima lembaran itu dari tangan kepala kampung. Uniknya, aku itu tidak tercatat sebagai juara. Aku menempati posisi keempat dalam hierarki penjuaraan sekolah. Di tempat pertama diduduki oleh putri sekretaris kampung. Demikian sekolah mengeluarkan kebijakan tentang kategori prestasi anak didik di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen milik Jemaat Efrata Laghaeng. Aku tidak melakukan protes, karena belum begitu mengerti dengan waham besar para penentu kebijakan internal sekolah. Aku menjadi siswa pendiam dengan sejuta heran dan seribu tanya.

Nyaris Mati
Nepo tetanggaku, nama lain dari Charlis, memberiku hadiah sepiring teh benda menyerupai gula yang nampak membeku. Maklum karena aku suka gula-gula. Kunikmati gula-gula itu sebagai hadiah bagi sang juara empat yang diberikan dengan tulus hati oleh seseorang yang kuanggap sebagai kakak sendiri. Hadiah Nepo adalah Pupuk Urea. Sungguh aku tidak tahu barang itu. Tubuhku tiba-tiba lemas dan rahangku seakan-akan tak bisa digerakkan lagi. Oma segera melakukan tindakan pertolongan mengambil kuah kelapa tua dan aku dipaksa minum, hingga akhirnya nyawaku terselamatkan.

Aku menapaki SMP bertempur dengan kerasnya kehidupan yang setingkat lebih keras dari kondisi sewaktu SD. Karena di Manado, bibiku harus menyelesaikan studi diploma gurunya, maka seluruh pasukan produktif harus eksodus ke Manado untuk membantu membiayai pendidikan bibiku dengan bekerja sebagai buruh kasar. Aku tertinggal seorang diri dengan satu keyakinan akan dapat melewati masa-masa sulit kala itu yang belum diketahui. Prestasi akademik tidak mengalami perubahan signifikan, pengalaman baru mengelola organisasi selaku sekretaris OSIS cukup membuat diri terlatih berhadap-hadapan dengan banyak orang. Tapi soal makan, aku tidak selalu menempatkan pada posisi urgen sehingga selalu saja mengalami lapar berat. Pantang bagiku naik turun dapur tetangga hanya untuk sesuap nasi. Aku lebih suka mengopur dan menemukan buah2 pala tua (lengeh) di kebun untuk konsumsiku, kehidupan keras layaknya Tarzan. Kulihat ada pohon pisang sepatu yang ditanam opaku di kebun, separuhnya sudah masak. Kupotong pisang itu dan kubawa pulang ke rumah tempat aku ditinggalkan kerabat, yaitu di rumah orang tua rohani. Kebetulan dia seorang gembala gereja yang sangat feodal. Peluhku seember, karena memikul buah pisang itu, tetapi satu saja kupetik dari sesikat yang masak, membuat sang gembala naik pitam. Kenapa? Menurutnya, aku melanggar etika. Entahlah etika apa? tiba-tiba telapak tangannya yang besar menghantam pipi kiriku, pisang yang kumakan muncrat tiba-tiba dan aku terjatuh pada 12 anak tangga, berakhir di jalan besar. Tulang pada bahu kiriku patah, aku menjadi cacat seumur hidup. Aku ditolong oleh seorang yang mahir memulihkan patah tulang, tetapi katanya, aku sudah sulit ditolong lagi, karena patahan itu mengandung kekuatan gaib. Oh....... aku kesakitan..... sungguh sangat kesakitan. Tapi aku tidak boleh lalai ke sekolah.

Akhirnya SMP Talawid mencetak beberapa jebolan yang memiliki kualitas, seperti Fidel Malumbot dan Elgien Kahuweka, aku yang selalu tak pernah bertengger pada posisi satu karena harus kuakui Fidel masih jauh lebih ulet belajar daripada aku. Aku sangat yakin beberapa kawan lain yang menyandang gelar juara, adalah mereka yang ditopang oleh kebijakan internal sekolah yang sarat nepotisme. Satu hal yang harus kucatat dalam masa-masa SMP ini, yaitu layanan Perpustakaan tidak sehebat waktu aku sekolah di SD Inpres di Sanumpito. Di SMP Talawid Filial Laghaeng tidak tersedia perpustakaan, semuanya tersedia di sekolah induk. Aku semakin jarang membaca di sekolah dan bahan bacaanku lebih banyak tentang kisah historik para pejuang-pejuang gereja semacam Calvin dan Kisah Perang Salib serta kisah-kisah dari Yunani. Kedua buku itu kuperoleh dari Yayasan Anugerah yang kebetulan diikuti oleh pamanku. Rumah kami sering bocor dilempari orang tak dikenal bilamana kelompok ibadah jemaat anugerah itu sedang melakukan ritual peribadatan di rumah kami. Stigma ajaran sesat menjadi label bagi keluarga kami. Kami dipandang sebagai keluarga yang unik dan wajar kalau diisolir.

Kisah-Kasih di SMA
Menanjak ke jenjang SMA, aku hidup dengan pamanku yang saat itu menikahi seorang mantri bertugas di kampung Kanang. Disana aku bekerja memproduksi pion pagar untuk pembangunan gereja. Pagi-pagi pukul 05.00 aku harus bangun mengambil pasir di pantai Kanang yang jaraknya kurang lebih sekilo dari kampung. Setelah itu diproduksi pagi sebanyak 10 buah, pulang sekolah harus mengambil pasir lagi dan memproduksi 10 buah lagi. Demikian hari-hari produktif itu dilewati sepanjang 3 tahun. Sebagai pekerjaan sampingan aku diberi tanggungjawab mengasuh anak. Anderson dan adiknya.

Di sekolah aku sering berperan sebagai orang yang memimpin barisan ketika kami hendak apel pagi. Prestasi akademikku cukup bersaing dengan 40-an kawan yang terpilih dari segi kecerdasan intelektual di jurusan Fisika (A1) yang kala itu dikenal umum sebagai jurusan milik kaum yang kutu buku dan suka repot-repot berhitung. Aku tidak sehebat Liefson Jakobus, Noldy Salindeho, Wenny Kansil, Wati, Mega, Frieds Albert, atau Max Munaung. Tapi aku masih senasib dengan Max Munaung, karena kami berasal dari latar belakang keluarga dan hidup dalam getir yang nyaris sama, tentu selain nama depan kami sama-sama Max. Bedanya, Max dibesarkan dengan pendampingan orang-orang kuat dan tegar bertarung dengan kehidupan, sedangkan aku dibiarkan sendiri tanpa pendamping. Dari cara berpakaian kami sangat berbeda, Max tampil seperti "begal-begalan" lantaran sering ditegur guru akibat perbuatannya melawan aturan, bajunya selalu kelihatan kusam, ukurannya lebih besar dari ukuran badannya dan ujung bajunya sering dilipat-lipat dan dibiarkan di luar celana. Aku sendiri sosok pendiam dan kelihatan feminim padahal dari bentuk wajahku, Lombroso (filsuf kriminologi) bisa menilai aku ini type penjahat..... syukurlah belum satupun kami di kelas saat itu belajar tentang teori Lombroso sehingga aku terhindar dari stigma yang pernah menimpaku kala SD dulu.

Singkatnya, saat duduk di bangku SMA Ulu Siau, aku menjadi manusia yang banyak belajar hal-hal positif. Dalam kehidupan berorganisasi aku bertumbuh menjadi sosok yang mengenal banyak watak dan perilaku manusia dalam organisasi sehingga kurasakan cukup sebagai pengetahuan untuk memahami makna kehidupan bersama. Kegiatan-kegiatan yang bermuatan sejarah mulai kukenal ketika Silvia Janis salah satu pengurus OSIS mengusulkan untuk melakukan napaktilas keliling Siau. Ide itu kebetulan relevan dengan obsesiku untuk mengunjungi setiap kampung di pulau Siau. Akhirnya kami berhasil melakukannya, masuk dari kampung Kanang dan keluar dari kampung Lehi dalam perjalanan pagi hingga sore hari. Dari sanalah aku mengenal dengan baik kisah patriotik sang panglima kora-kora "Hengkengu Naung" semasa kedatuan Siau dipimpin oleh datu Batahi.

Dari perspektif kacamata kuda, aku harus mengatakan bahwa jebolan SMA Ulu Siau Angkatan 1992 memiliki kreativitas yang cukup tinggi dan pantas disebut angkatan paling berprestasi dalam sejarah sekolah ini, demikian pengakuan Kepsek setelah menerima laporan OSIS yang kami serahkan kepadanya. Betapa tidak, selain memiliki tim sepak bola yang tak terkalahkan, mempunyai pasukan drum band yang tangkas dan mengagumkan, siswa-siswinya memiliki sejumlah ide kreatif yang diimplemtasikan melalui program-program OSIS, guna mengharumkan nama baik sekolah. Sulit dilupahkan.

Kelompok drum band yang paling heboh itu dimajoreti oleh empat putri cantik secara bergantian, Iske Luntungan, Sista Liuntuhaseng, Merry Makasenda dan Silvia Janis. Dalam sekali aksi biasanya diterjunkan berpasangan, Iske menjadi mayoret utama dan Silvia Janis menjadi mitranya pada barisan kedua, demikian juga bila Sista menjadi mayoret utama, maka Merry menjadi mayoret di barisan kedua. Man dan Lion mendapat kepercayaan untuk mendentumkan bass, mereka meliuk-liuk mendemonstrasikan kepiawaian masing-masing, meski Man kelihatan lebih kecil dari drumnya, tetapi kecepatan dan ketepatan pukulan tidak pernah salah. Baik Man maupun Lion memiliki karakter tersendiri memainkan bass dan bariton, sehingga seringkali mata penonton terfokus pada penampilan kedua remaja itu.

Hampir seluruh isi kelasku terpakai dalam pasukan drum band itu, kecuali aku dan Sosipater Pangumpia. Walahuallam, aku dan Sosipater memang tak berbakat dalam soal music. Sosi, ayo kita pergi dari keributan ini, ujarku pada Sosi yang sering terlihat hampir kehilangan rasa percaya dirinya. Aku mengajak kawanku satu ini ke perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah, karena aku tahu dia tidak berminat pada buku-buku aljabar apalagi aritmatika yang dipenuhi logaritma tak kunjung pernah dipahaminya. Tapi aku sungguh heran Sosipater bisa lulus dari kelas dua Fisika. Dia berani seperti Hengkengunaung kakek buyutnya dari Kiawang.

Bakatnya memahami sejarah, banyak terbantu oleh Enci Urbanus, yang kebetulan beliau adalah guru jurusan sosial. Suara enci Urbanus menggemuruh bak kegemparan Medelu bila sedang menuangkan ilmu…. Tanpa suara keras enci Urbanus, Sosipater pasti kesulitan memahami perilaku patriotisme eyangnya dari Kiawang yang dijuluki Panglima Perang Korakora, yaitu Hengkengunaung. Maklum telinga kawan karibku itu mengalami gangguan koneksi sejak masa kecilnya. Bukan karena akibat perang menaklukkan kesaktian Makaampo atau dalam rangkaian ekspansi militer dengan armada lautnya, melainkan karena serangan penyakit malaria tropika yang pernah mewabah, semasa layanan kesehatan prima belum maksimal sebagai agenda pembangunan masa orde baru. Kiawang relatif jauh dari pusat kota yang merupakan centra layanan kesehatan masyarakat di pulau Siau kala itu.

Sosi demikian saya memanggilnya, sangat tidak bahagia bila Pak Guru Tumbio mengajar Bahasa Indonesia. Sosi sering murung seperti sedang merenung nasib sial sepanjang Pak Tumbio terus menerus menggunakan lelucon dan sekali-sekali mengiris bathin pribadi feminism itu. Ketika seisi kelas menyambut dengan gelak tawa atas guyonan pak Tumbio, Sosi menunduk malu seraya menyembunyikan senyum. Dia sebenarnya ingin ketawa lepas. Tapi katanya ia masih lebih malu kalau suara ketawa yang dikiranya biasa-biasa saja justru akan menjadi sangat mengganggu suasana atau memicu penyakit jantung Pak Tumbio menjadi kambuh. Sosi benar-benar sosok yang sangat manusiawi dalam kelas kami.

Misteri Batu Giok
Kawan, jangan pernah mengira air tenang tak ada buayanya. Justru di air tenanglah, sering kita jumpai banyak hal yang sensasional. Pernah ada suatu masa, rencanaku gagal dan tersisa hanya harapan. Sebuah harapan yang selalu membuat aku terdorong untuk bangkit. Aku menyimpan banyak kisah bersama seseorang dalam banyak keterbatasan sekaligus kelebihannya yang kubanggakan. Perasaan itu telah lama kupendam dalam sanubari terdalam. Karena itu sulit dideteksi. Sekedar untuk sebuah pembenaran semu, orang semacam aku, yang mendapat tanggungjawab memimpin apel pagi, sudah wajib hukumnya untuk tiba lebih awal dari semua siswa lain.

Dalam pembagian tugas menyapu ruang kelas, aku dan beberapa teman mendapat giliran setiap hari selasa. Bukan saja hari selasa aku sendiri datang lebih awal sebelum sunset di ufuk timur terbit. Setiap hari. Setiap pagi benar. Untuk apa? Bukan untuk memimpin pasukan, bukan pula untuk tunaikan kewajiban membersihkan kelas. Hanya untuk satu hal yang tak pernah kutemukan sejak tiga tahun berselang. Yaitu dia. Dia berkilau, menyebut namanya saja aku harus pandai melafal bahasa asing dan cerdas memahami tulisan kanji, sering membaca banyak referensi tentang mite nusa-nusa sangihe yang terangkai dalam tajuk Sang Ian. Kisah ratapan airmata A-Hung yang menjelmakan sederet pulau dimana kami tinggali sekarang. Yaitu sebuah kisah abad ke 3, jauh sebelum Sense Madunde diperbincangkan dalam dongeng sebelum tidur.

Tapi kisah ini bukan tentang A-Hung dan Sang Ian atau kisah tentang Sense Madunde dan Bidadari bungsu. Ini adalah kisahku, kisah antara aku dan Nioe Sioe Lie… kisah yang menyimpan terlampau banyak misteri. Misteri tentang batu giok. Nioe Sioe Lie adalah sebuah batu giok yang berkilau. Dia memiliki kekuatan dasyat. Kekuatan untuk menarik. Berada di dekatnya, akan terserap oleh kemilau cahayanya. Bahkan bila sedang marah, ia hanya bertutur dengan suara yang sulit di dengar oleh telinga normal. Aku sering bertanya pada Sosipater. Sosi, apakah kau pernah mendengar suara batu giok? Sosi tersenyum lebar, lalu menunduk. Kataku lagi, Sosi…. Jangan-jangan kau batu giok laki-laki ya?.... Sosipater menunduk lagi. Tapi kali ini dia sudah tidak senyum. Aku tidak berani bertanya lagi.

Masih lebih baik aku bertanya langsung pada batu giok yang sedang kubicarakan. Aku terus menerus membiasakan diri untuk menatap matanya. Dia menunduk, menepi, kadang-kadang terlihat sedang membenci. Kala dia mulai menaru simpati, dia menunduk lagi…… sejurus kemudian dia bangkit dan berjalan… seakan-akan berada di pinggir ruas yang sangat sempit, pada sebuah jalan raya yang maha luas. Mataku membelalak lebar. Kuamati sekitarnya, jangan-jangan ada sesuatu yang tak terlihat kasat mata menghalau jalannya. Mataku tidak mampu menembus dimensi metafisis itu… saat kudekati, yang terjangkau dengan panca inderaku hanyalah wangi bunga endemic dari khayangan. Raganya telah menjauh, seolah-olah sudah terbang kembali ke khayangan meninggalkan harumnya, bisik hidungku sekedar membantu rabun mataku itu. Mungkin, gumamku…. Mereka yang dari khayangan memiliki sifat malu berlebihan dan sering meninggalkan misteri untuk dipecahkan oleh manusia seperti aku.

Aku mencoba dan terus mencoba mendekatinya. Aku harus bisa mendekatinya dan akan kucuri hatinya, kumasukan dalam suling bambu, aku ingin mendendangkan syair lagu-lagu indah dari suling itu di dekatmu… dalam dekapanku. Tetapi bagaimana caranya? Aku butuh bantuan seseorang. Pilihan paling dekat waktu itu adalah Telly Kabuhung. Aku berharap Telly dapat menyampaikan maksud hatiku. Telly adalah sosok yang baik hati, tidak sombong lagi penyayang. Lengkap. Telly its ok. Sewindu lamanya Telly berikhtiar membantuku, menyampaikan aspirasi politik dalam orasi-orasi yang hanya dilakukan pada waktu mereka pulang sekolah. Trik sudah beberapa kali dilakukan. Hasilnya nihil.

Nioe Sioe Lie pujaanku tak kunjung keluar sedikitpun dari balik kamarnya. Dia kutu buku paling setia menghabiskan hari-harinya untuk aktivitas memoles kemilau gioknya. Jarak terjauh dari aktivitas selain sekolah adalah mengganti jadwal jaga tokoh bapaknya. Kali ini aku harus menggunakan intrik, dengan berpura-pura membeli sesuatu di tokonya sambil berharap sedang dijaga oleh Nioe Sioe Lie. Aku melakukan survey guna memastikan calon kekasihku ada disana. Terlihat jelas wajah ayu di balik laci tidak lain dia yang kudambakan. Benar dia ada disana sedang membantu bapaknya. Inilah kesempatanku melancarkan intrik.

Rencana mendadak hendak mencari buku cetak yang ditugaskan bapak Panguliman guru Biologi di kelasku. Aku lupa satu hal. Toko itu tidak pernah menjual buku cetak. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, toko di bilangan Malele itu hanya menjual barang-barang kelontong. Walahualam….. sudah terlanjur. Aku sudah terlanjur bertanya apakah ada terjual buku cetak biologi SMA Kelas 1 di sini? Bapaknya sontak kaget dan spontan berkata, haiiiya, anak…. Sejak tempo apa jual buku disini?... disini hanya ada “buku-buku” saja. Kali ini aku benar-benar malu. Sangat malu sampai aku harus memaki diriku sendiri; Bodoh…. Bodohnya aku karena melewatkan kesempatan indah ini. Mengapa aku tidak bertanya harga ember saja? Mengapa bukan datang membeli tali Jepang saja atau hal-hal sederhana lain….? Kenapa harus buku?.... dasar kutu busuk…. dasar memang kutu buku… pikiranku buku melulu.

Kawan, aku tidak kecewa. Aku menghibur diri, kelak pada suatu masa, hoki akan memihakku. Hingga tiba waktunya kelasku melakukan kegiatan ekstra belajar sore alias less dalam rangka persiapan ujian kenaikan kelas. Jelaslah selaku anak gedongan, senjataku hanyalah buku catatan harian. Nioe Sioe Lie dilengkapi dengan serial buku cetak yang nyaris lengkap. Setiap buku yang digunakan guru, juga dimiliki Nioe. Dalam masa-masa less itu, tempat duduk kami bertukar. Aku yang tadinya sebangku dengan Sosipater si giok laki-laki itu, kini berpindah dan aku duduk di samping giok perempuan (Nioe Sioe Lie).

Melihat perpindahan posisi tempat duduk demikian, Man Dalughu selaku ketua kelas 1(1) di tetangga kami, mengamati gerak-gerik kami. Beberapa kali dia memergoki dari luar kelas, saat aku sedang memegang jemari lentik sang kekasih yang lama kupendam. Aneh bin ajaib. Nioe Sioe Lie, tidak berkelit sedikitpun saat jari-jari tangannya kusentuh dengan lembut. Jujur saja, aku baru belajar bercinta kala itu. Mulutku terkatup dan sulit dibuka, tegangan darah mungkin sudah tidak normal karena jantungku berdetak keras. Aku ngos-ngosan seperti sedang dikejar hantu. Sungguh aku tidak tahu apa yang sedang diterangkan guru di depan kelas kala itu. Nioe Sioe Lie pun tak berkata apa-apa sepanjang dia merasakan belai lembut jemariku. Aku seperti mengelus-elus batu giok dan keluarlah kesaktiannya…. desau suara yang menakjubkan, yaitu suara jantungku. Aku tidak pernah berkata kalau aku mencintainya, lazim seperti yang selalu dikatakan pasangan yang sedang jatuh cinta dalam sebuah adegan film semacam Lupus yang tenar waktu itu. Sejak saat itu, semua buku cetak bahkan catatan harian milik Nioe Sioe Lie boleh kubawa pulang ke pondok kecilku di Akesimbeka. Aku mendapat restunya. Bagiku, inilah jawaban atas ungkapan cinta yang kusimbolkan dengan mengelus jemari tangannya.

Prestasi OSIS dan Sepeda Motor Kepsek
Organisasi Siswa Intra Sekolah yang dipimpin Liefson Jakobus dan dimotori Sista Liuntuhaseng, sementara aku hanya memberi sedikit warna dalam bayang-bayang wakil sekretaris, namun kami berhasil melaksanakan napaktilas bersejarah itu dan menyelenggarakan beberapa iven pertandingan sepakbola, lomba pidato antar sekolah se Siau. Aku, Jayadi Lontolawa dan Lusye Mangolo merupakan bintang kelas dalam lomba pidato itu. Sementara Frieds Albert alias Hendra Taghulihi yang postur tubuhnya paling jangkung diimbangi Rodly Tamahari (teman sebangkuku), mereka berdua membuat Pak Guru Sada harus melompat jika mau menjewer telinga mereka dalam posisi berdiri.

Lion dan Man Dalughu, dua sosok yang paling nakal dalam kelasku. Ironisnya, Lion memiliki postur tubuh tambun dan siswa paling "ditakuti" di kelas, beliau mantan kakak kelas kami yang harus menunggu nasibnya untuk diluluskan bersama Man sesama bintang kelas sepak bola yang tandem dengan bintang2 dari kelas III Sosial yang dipelopori Winston Maloringan. Winston sebagai bintang sepak bola memiliki obsesi untuk keliling dunia menelusuri detil club-club yang menjadi favoritnya. Sementara kawan setianya yang sering menjadi pimpinan regu supporter kalau tidak mau disebut "pemandu sorak" yaitu Richard Kabuhung, pria lincah dari kompleks Akelabo itu lihai memainkan kata-kata mutiara untuk menyemangati tim sepak bola yang dipimpin Yeldi Merpati Cs dari kelas bahasa.

Kecakapan lain dari Hendra Tagulihi adalah "mengakali" kepala sekolah. Suatu saat, aku dan Hendra menyelesaikan laporan kegiatan bulanan OSIS karena waktu itu Sista mengalami sedikit persoalan dengan kekasihnya, Egriet Tinagari sehingga menyebabkan tugas pelaporan itu terbeban ke pundak saya dan Hendra. Untunglah si jangkung itu masih diidolakan oleh Verra Pande, gadis riang yang tak pernah murung. Menurut Hendra, dia lebih menyayangi Uto Pepi daripada menyambut cinta Verra. Kasihan Verra, dia mencintaimu bertepuk sebelah tangan, kataku pada Hendra.

Untuk menyelesaikan tugas laporan itu sampai tuntas, kami berdua harus begadang semalam suntuk. Tengah malam kami membangunkan kepala sekolah untuk meminjam sepeda motornya. Dengan sukarela kepsek memberikan motor kesayangannya. Tepat pukul 01.00 laporan rampung, aku dan Hendra melaju pada kecepatan normal hingga tiba di perbatasan kampung Dame dan Karalung. Sepeda Motor itu tiba-tiba mengalami pecah ban. Terpaksa perjalanan ke kampung Kanang batal dan kami berdua harus kembali ke Bahu untuk mengembalikan sepeda motor itu kepada pemiliknya dalam keadaan rusak. Sayapun tidur di kamar belakang milik Hendra bila sedang mencari inspirasi untuk membuat tembang-tembang Iwan Fals menjadi indah dinyanyikan dengan melody-melody gitarnya.

Metafak Cinta
Uto Pepi maupun Verra sebenarnya adalah dua bunga kelas yang sangat kental persahabatannya, ukuran tubuh kedua gadis mungil itu hanya sebatas pinggul Hendra. Beda-beda tipis dengan Wenny Kansil. Tetapi dari segi intelektual aku mau jujur, sulit bersaing dengan Wenny dan Uto Pepi.... Bila uto pepi dan verra ditemukan bersama Hendra, sungguh kontras bedanya, bak jari telunjuk berpasangan dengan jari kelingking (verra) dan jempol (pepi). Tetapi mereka unik.... sangat unik dan banyak yang menyukainya bila mereka sedang asyik begadang di perpustakaan.

Pak Oskar Malale guru mata pelajaran olahraga seringkali memergoki ketiga pasang sejoli itu bila sedang enjoy. Untunglah si Noldy dan Wenny hampir selalu tak meninggalkan kelas, mereka lebih memilih berdiam di dalam kelas menunggu bel masuk pasca istirahat berbunyi. Sebaliknya, Sista dan Egrie Tinagari merupakan pasangan yang tak kalah serunya dibanding Noldy dan Wenny. Kedua pasang ini, memberikan makna yang dalam bagi sebuah status berpacaran yang maha dasyat sewaktu SMA.

Demikianlah cinta mereka bersemi dan mereka layak melakukan hubungan itu karena nilai metafak yang terkandung di dalamnya. Mungkin akulah satu-satunya orang yang paling mengerti metafak dibalik hubungan cinta itu. Aku lelaki pendiam yang bertugas mengamati setiap perilaku mereka. Baik Weny-Noldy atau Egry-Sista, mereka adalah pelajaran berharga bagiku memahami kehidupan dari sisi cinta..... Kusimpulkan dari kisah mereka, Cinta hanya untuk cinta.... meskipun kelak mereka tidak harus saling memiliki ataupun mereka harus berpisah karena sebuah alasan, yaitu cinta sejati.

Bidang Fisika yang merupakan jurusan pokok kami sekaligus merupakan pelajaran yang paling kami idolakan bersama Pak Martin yang cerdas mengajar kami teknik merangkai dimmer control yaitu sistem kerja lampu yang dapat diturunkan dayanya pada batas-batas sesuai keinginan pengguna. Tentunya selain Fisika, mata pelajaran yang paling digemari adalah Matematika. Kebetulan yang mengajar Matematika kala itu adalah kakak kandung Liefson, yang kami sapa Enci Tuti Jakobus. Dia bukan saja cerdas, dia memilki kecantikan sekelas Marlyn Moendroe yang sering membuat mata jahil Liong jadi terpanah. Enci Tuti pasti menyadari situasi itu.

Mengunci Kelas
Mata pelajaran lain kurang disenangi adalah bahasa Indonesia, tapi untunglah gurunya, pak guru Tumbio memiliki sejuta jurus untuk membuat siswanya senang belajar bidang studinya. Dia nampak lugu dan sekali-kali agak sedikit keras. Man dan Liong meskipun mereka sedikit lalod (lama loading) tetapi soal kenakalan mereka tidak kalah dengan guru. Suatu saat jam Pak Tumbio harus mengajar bahasa Indonesia terpaksa batal karena kelakuan Man dan Lion yang menyembunyikan kunci pintu kelas sehingga Pak Tumbio tidak bisa masuk. Lion mengancam agar kami berdiam diri. Tidak boleh ada suara keluar sedikitpun dari mulut kami.

Sebagai teman setia, kami sekelas ikut saja pada kedua petinggi kelas itu. Jika tidak, solidaritas kelas kami pasti terganggu. Rodly Tamahari, Risno Pangulimang, Unsong, dan Sosipater Pangumpia selaku pria bersosok lembut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak setuju dan terpaksa manut demi solidaritas kelas yg diciptakan Man dan Lion. Ulah kedua lelaki itu sontak membuat lingkungan sekolah menjadi ribut karena Pak Tumbio untuk pertama kalinya mengalami marah besar karena merasa terusir oleh siswa kelas III Fisika.

Menyadari situasi ribut itu, kami sekelas justru semakin diam di dalam kelas menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Man Dalughu panik dan membuang kunci dari jendela ke semak-semak di samping kelas. Perbuatan itu coba dilerai oleh Mega dan Wati namun sayang kedua perempuan besar itu gagal menangkap tangan Man yang gesit seperti kilat. Anak kunci pintu kelas melayang ke luar jendela, tak dapat terdeteksi lagi.

Pintu kelas yang tidak dapat dibuka itu harus dibongkar oleh Pak Oskar Malale. Lantas kami dikeluarkan dari kelas dan disuruh berbaris di depan ruang tunggu. Satu-satu kami berbaris menurut derajat ketinggian, dimulai dari yang paling kecil yaitu Verra Pande, kemudian Wenni Kansil dan ketiga Uto Pepi seterusnya Unsong sampai akhirnya di paling belakang terdapat Hendra dan Rodly Tamahari. Karena ulah Man dan Lion itulah, kami semua menjadi korban dijemur di bawah terik matahari pukul 12.00. Kami diwajibkan menjawab secara jujur setiap detil pertanyaan dari guru BP yang bertindak selaku hakim kala itu. Tiga perempuan kecil-kecil itu sudah diadili dan terakhir giliran Uto Pepi nampak pucat pasih setelah menjawab puluhan pertanyaan seolah-olah dituduh melakukan korupsi.

Melihat gelagat Uto pepi yang hampir pingsan itu, serta merta Man yang berdiri di depanku bebisik pelan-pelan, Max, kalo kita jatuh tangkap akang ne?.... kataku.... rencana apa lagi bro?..... Belum selesai pertanyaanku kawan, Man sudah jatuh pingsan. Barisan kami langsung bubar karena strategi kedua yang dilancarkan Man melawan penghakiman hari itu. Barisan yang berjejer itu mengerumuni Man yang sedang pingsan, dan mungkin karena terlampau panas suhu udara di sekitar Man, maka itulah yang membuat dia menjadi pingsan beneran sehingga mulutnya mengeluarkan busa. Man pun dilarikan ke Puskesmas Ulu (kini Rumah Sakit Ulu Siau) untuk mendapatkan pertolongan emergency. Semua guru menjadi panik. Gara-gara persoalan itu, Man tidak masuk kelas selama dua minggu dan aku orang yang setia merawat dia di rumahnya.

Video Terlarang
Dalam bidang penelitian biologi, katak-katak di kompleks Akelabo terpaksa harus bersembunyi jika anak-anak berseragam putih abu-abu sudah mulai merangsek terjun kedalam kolam. Katak-katak percobaan itu lebih banyak dikonsumsi daripada digunakan untuk kepentingan penelitian. Man menggorengnya buat makan siang kami di sebuah pondok yang saya tinggali untuk menyelesaikan studi karena bersiap2 hendak Ebta sekolah dan Ebtanas.

Selesai melakukan kegiatan praktek, dan bell istirahat berbunyi, muncullah gagasan dari Lion dan kawan-kawan untuk nonton film porno. Tempat strategis yang menjadi pilihan kami untuk pemutaran video porno itu adalah di rumah Uto Sandra Maluenseng. Sandra tak bisa menolak, karena mata Lion seperti mata elang menatap penuh ancaman persis menyoroti mata kecil si "anak ayam" kurus. Kasian Uto Sandra.... dia tak sanggup mengelak. Alasan yang sangat masuk akal, rumah terdekat dengan sekolah dan cukup strategis karena jauh dari keramaian kota Ulu.

Kedua orang tua dari Sandra Maluenseng adalah guru, mereka tidak berada di rumah pada jam-jam sekolah seperti itu. Sekali lagi jam pelajaran diganti dengan aksi kuriositas anak muda yang ingin tahu banyak tentang praktek membuat manusia baru. Tetapi kami tidak melakukan hal-hal negatif, karena yang nonton film porno itu hanya laki-laki yang nakal saja. Para perempuan kami, ditugaskan oleh Ketua Osis untuk membuat rujak dari buah pepaya di kintal belakang rumah Sandra.

Rabu, 17 Februari 2010

Asal-Usul Manusia Sangihe Talaud

Oleh : Iverdixon Tinungki

Peta genetika yang kini terbuka luas, setidaknya memberikan cukup sinar atas tabir rahasia sebuah pertanyaan besar: Dari manakah nenek moyang kita berasal? Dari manakah kita datang? Meskipun masih menyisakan sejumlah teka-teki, tapi dibanding masa sebelumnya, dunia antropologi saat ini melakukan lompatan besar dalam menyusun peta genetis yang menjelaskan mata rantai persebaran umat manusia di suluruh bumi. Penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah ini mulai menggeser keyakinan klan-klan umat manusia diberbagai tempat akan cerita ke-asal-an manusia yang bersumber dari mite dan legenda.
Seperti klan lain di Indonesia, orang Sangihe Talaud sebagai sebuah indigenous, dalam kurun ribuan tahun hidup dalam mite dan legenda tersendiri, yang pada akhirnya melahirkan system nilai dalam kehidupan mereka. Tapi apakah dengan demikian membedakan ke-asal-an etnik ini dengan suku bangsa lain di jazirah Nusantara? Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangihe Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Milanesia yang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM. Kemudian disusul pada masa yang lebih muda sekitar 3.000 tahun SM dari Formosa yang berbahasa Austronesia. Penemuan terbaru yang lebih mengejutkan yang berhasil mematahkan terori linguistic di atas, adalah adanya kemungkinan nenek moyang suluruh klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, dengan ciri gen dari masa yang lebih tua sebelum migrasi Formosa.
Agak berbeda dengan sejumlah anasir antropologi kebudayaan, hasil peneletian gen manusia saat ini memberikan cerita tentang pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang berekspansi ke Eurasia. Perhitungan para paleoantropolog dan pakar genetika menyebutkan homo sapiens ini berasal dari 200.000 tahun silam dan berhasil mengembangkan keturunan sebanyak enam setengah miliar jiwa. Hal ini dibuktikan dengan pemetaan gen yang menunjukkan 99,9 persen kesamaan kode-kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia. Sisanya 1 persen hanya menegaskan perbedaan individual seperti warna mata atau resiko penyakit. Perjalanan panjang itu pun telah membawa sejumlah perubahan lain seperti mutasi neurologist yang menciptakan perbedaan bahasa lisan dan juga sebuah perubahan wajah dan ras baru.
Lalu, benarkah setiap manusia yang pernah hidup di bumi berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup pada 150.000 tahun silam di Afrika? Pertanyaan ini masih membuahkan kegelisahan para ahli untuk mengungkap jawaban yang memuaskan. Yang pasti sejumlah artefak masa lalu, menunjukkan adanya migrasi umat manusia dari suatu tempat ketempat yang lain. Dan setiap klan atau etnik telah hidup dalam milenia pada sebuah tempat hingga mengalami sujumlah mutasi budaya dan tunduk pada masing-masing dewa serta melahirkan mite-mite baru dalam kehidupan kelompok masing-masing.
Bila masuk lebih dalam menelisik aneka budaya lisan di masyarakat Sangihe Talaud, kita dipertemu dengan cerita jejak nenek moyang lebih unik dan menarik seperti pengakuan adanya para pendatang (homo sapiens) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Ampuang (manusia biasa). Selain para pendatang ini juga ada dua jenis manusia lain yang telah ada di sana dari masa sebelumnya yaitu Ansuang (raksasa) dan Apapuhang (manusia kerdil). Untuk dua jenis manusia terakhir itu, hingga kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Rujukkan terhadap keberadaan mereka masih terbatas pada kepercayaan adanya beberapa artefak seperti bekas kaki dalam ukuran besar yang terpahat di bebatuan yang bisa saja tercipta akibat fenomena alam. Apakah mereka merupakan penyimpangan genetika pada masa itu kemudian diabadikan dalam sejumlah mite dan legenda? Ini masih sebuah pertanyaan.
Sejumlah legenda pun ikut memperkaya kesimpangsiuran jejak asal muasal manusia Sangihe Talaud. Dari kepercayaan turun-temurun. Pulau-pulau Sangihe Talaud konon tercipta dari air mata seorang bidadari. Dari bidadari inilah manusia Sangihe dilahirkan. Ini sebabnya nama Sangihe itu berasal dari kata Sangi (tagis}. Di pulau-pulaud Talaud, penyebutan Porodisa untuk kawasan itu justru dikaitkan dengan anggapan dimana manusia Talaud adalah keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Padahal kata Porodisa menurut teori linguistic justru merupakan mutasi neurologist bahasa lisan dari bahasa Spanyol: Paradiso (surga). Kata Sangi di Sangihe sendiri merupakan mutasi dari kata Melayu: tangis. Mite lainnya bercerita tentang manusia yang berasal dari telur buaya. Ada juga yang beranggapan terjadi dari evolusi pelepah pisang secara mistis menjadi manusia.
Kepercayaan terhadap dewa dewi dan system nilai budaya orang Sangihe Talaud ini menujukan adanya persinggung dengan system nilai di tempat lain seperti teori keseimbangan alam, memiliki kesamaan dengan teori Fun She dan Esho Funi dalam pemahaman Hindu kuno. Kepercayaan “Manna” atau kepercayaan terhadap adanya kekuatan mekanis dalam alam yang mempengaruhi peri kehidupan manusia, bukan tidak mungkin merupakan interpretasi lain akibat mutasi dari pemahaman kaum semitik akan Tuhan. Demikian pula dengan budaya ritual persembahan kurban yang mengunakan symbol darah Manusia yang di pukul sampai mati.
Manusia Sangihe Talaud sejak masa purba, juga mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata,Ruata”, juga dinamakan ”Ghenggona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa daratan). Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.
Kendati begitu, eksplorasi yang lebih ilmiah terhadap asal usul manusia Sangihe Talaud, yang telah ada saat ini baru sebatas dari masa abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951.
Gumansalangi (Upung Dellu) sebagai Kulano tertua kerajaan Tabukan atau Tampunglawo, yang bermukim di gunung Sahendarumang bersama Ondoasa (Sangiang Killa), istrinya, adalah anak dari Humansandulage bersama istrinya Tendensehiwu, yang mendarat di Bowontehu pada awal mula migrasi Bowontehu, Desember 1399. Mereka melakukan pelayaran dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanau-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kerajaan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.
Sementara Bulango bermigrasi dari Bowontehu pada 1570 menuju Tagulandang dimana anaknya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang di pulau itu bersama para pengikutnya.
Bulango adalah saudara dari Lokongbanua II, raja pertama kerajaan Siau. Keduanya adalah anak dari raja Mokodoludut dengan istrinya Abunia dari kerajaan Bowontehu. Sedangkan Raja Bolaang Mangondow pertama, Yayubongkai, adalah juga putra Mokoduludut. Ini sebabnya ada kesamaan budaya dan marga antara orang Bolaang Mangondow dan orang Sangihe Talaud. Perubahan budaya di kedua etnik ini lebih dipengaruhi oleh alkulturasi pasca masuknya agama-agama semitik, (Kristen-Islam) di kedua kawasan etnik itu.
Untuk wilayah Kauhis-Manganitu, semuanya berasal dari keturunan Gumansalangi hingga keturunannya bernama Tolosang pada 1600 mendirikan kerajaan Kauhis- Manganitu. Demikian pula di Tahuna pada 1580 Tatehe Woba mendirikan kerajaan di sana, juga di Kendahe yang didirikan oleh Mehegelangi. Raja Kendahe ini anak dari Syarif Mansur dan istrinya Taupanglawo.
Sebelum periode migrasi Bowontehu (Manado Tua) pada 1399, kawasan itu telah dihuni manusia selama enam generasi. Tapi hal terpenting dalam hubungan kekeluargaan oranga Sangihe Talaud dan Bolang Mangondow, dipercaya karena berasal dari Migrasi Bowontehu.

KASUS ELLY LASUT DAN LELANG IKAN

Saya buta dengan dinamika politik mutakhir di Sulawesi Utara. Hari-hari ini, menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) provinsi, berita para kandidat cukup meraja di halaman media massa di Sulawesi Utara. Dengan maksud melepas kangen dengan kampung saya, hari ini saya baca Tribun Manado, harian yang dikelola kelompok Kompas-Gramedia, lewat berita online. Di harian itu, berita Elly Lasut, salah satu kandidat dan kini pejabat bupati Kepulauan Talaud, menjadi berita utama. Elly telah jadi tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi oleh Kejati Sulut.

Dugaan korupsi Elly bukan kabar baru. Awal 2007, saya sempat bercakap-cakap dan bertukar cerita dengan beberapa pegiat anti-korupsi di Sulawesi Utara. Salah satu dari mereka punya bukti dugaan korupsi tersebut. Setidaknya begitu yang ia utarakan.

Di daerah, seperti di Sulawesi Utara, membongkar korupsi relatif mudah dilakukan. Terdapat banyak orang yang bersedia memasok data-data dugaan korupsi, terutama mereka yang merasa dirugikan oleh pelaku, macam kontraktor yang kalah proyek, atau birokrat yang tak jadi diangkat. Data bukan soal. Begitu juga Whistle blower. Apa yang kurang? Barangkali Sulawesi Utara masih terus mencari pegiat anti-korupsi militan dan punya integritas. Ini masih begitu kurang, kalau bukan belum ada.

Data adalah satu syarat penting, tapi jauh dari syarat cukup. Dengan data, seorang pegiat anti-korupsi bisa berubah menjadi tukang peras para pejabat. Dengan data, ia juga bisa baku tawar untuk sejumlah privilese pribadi -- minta uang, minta proyek, minta makan, minta posisi. Bekerja dalam sebuah kelompok atau jejaring yang demokratis, menjadi syarat utama guna menekan kemungkinan-kemungkinan di atas. Kalau tidak, beragam kompromi sangat mungkin jadi akhir cerita. Lebih dari itu, gerakan anti-korupsi dapat berhasil dan punya daya tonjok, tentu, andaikata ia disokong masyarakat secara luas dan masal. Dan dilancarkan penuh perhitungan. Tidak nekad.

Catatan lain barangkali adalah kelemahan analitik terkait korupsi. Analisa korupsi, termasuk dari para pakar, rasanya belum cukup membumi. Di tempat pertama, ini bukan karena sebagian pakar itu masih dapat dibeli, baik tubuh atau jiwa mereka, sehingga mereka berkepentingan untuk membangun analisa kurang jujur. Melainkan, karena korupsi di daerah punya kerumitan yang khas. Antara lain, social proximity yang pendek. Dengan enteng, Torang dapat memaki Neoliberalisme yang abstrak. Torang dapat pula mengumpat dana talangan Century yang heboh di Jawa. Tapi, Torang harus putar otak saat berhadapmuka dengan Om, Tante, Saudara, atau anggota Majelis Jemaat gereja sendiri, yang korupsi.

Terakhir, satu sketsa kasar terkait kelembagaan dan dinamika aktor. Saat membaca berita Tribun Manado, saya berpikir begini. Mungkin, kasus Elly sepatutnya dilihat sebagai sebuah proses tawar-menawar belaka. Di mana Kejati boleh jadi sedang memainkan peran titipan (pada aras institusi) dan peran sendiri (pada aras kepentingan individu), secara serempak. Dengan begitu, barangkali kasus itu tak beda jauh dengan proses yang dapat kita amati di pasar lelang ikan di Manado. Penjual dan pembeli senang, ikan pun pindah tangan.

Bagaimanapun juga ini masa menjelang Pilkada, ketika mesin-mesin pencitraan membuat kita sulit membaui amis ikan, dan cepat tenggelam dalam fantasi kenikmatan ikan bakar. Tapi, tamang, soal pokok mungkin bukan di situ.

Sulawesi Utara sedang paceklik pegiat anti-korupsi yang militan. Semilitan Robert Wolter Monginsidi, tuama dari kampung ikan itu.***Sonny Mumbunan

Jumat, 12 Februari 2010

Bingung karena Mafia Berkeley? Sekali lagi! (Tanggapan untuk Ari Perdana)

M. Sadli adalah seorang sosialis. Saat nafas kekuasaan Sukarno di ujung leher, Sadli membaca dan menekuni karya Oskar Lange. Lange adalah sosok utama dalam debat Planning Controversy tahun 1930-an, salah satu debat paling penting dalam sejarah pemikiran ekonomi modern. Lange, bersama Abba Lerner, mewakili kelompok ekonom yang membela keutamaan perencanaan dalam perekonomian. Dalam hemat mereka, perencanaan terpusat dapat menggantikan kinerja mekanisme pasar.

Lawan debat mereka adalah Friedrich von Hayek dan Ludwig von Mises, dua ekonom liberal yang menyangkal bahwa sistem terpusat dapat mengganti keberhasilan pasar bebas. Debat sangat serius itu akhirnya dimenangkan kubu Lange, saat dunia masih dipenuhi bilur-bilur Depresi Ekonomi 1930 yang menggoyang sendi dan kepercayaan atas Kapitalisme, dan alternatif penjelasan ilmu ekonomi yang tersisa dan mengemuka adalah Keynesianisme dan Marxisme.

(Sisa debat itu masih terasa jauh sampai kini. Belum lama berselang, Hadiah Nobel Ekonomi 2007 diberikan untuk sumbangan ilmu ekonomi dalam memahami proses perencanaan perilaku ekonomi – apa yang disebut Mechanism Design – kendatipun Tembok Berlin sudah lama roboh dan banyak negara di dunia telah berpaling pada keutamaan mekanisme pasar. Termasuk Indonesia.)

Dengan membaca Lange, Sadli berharap dapat mencangkok ilmu ekonomi modern dengan prinsip-prinsip sosialis. Pikiran Sadli lebih dekat dengan gagasan “Fabian and Dutch socialist circles”, tulis ekonom Hal Hill dan Thee Kian Wee, dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies, mengenang Sadli yang berpulang 8 Januari 2008 lalu. Model ekonomi terencana sosialis moderat ala komunitas Fabian di Inggris, dan dipraktekkan di India, cukup banyak dirujuk pada dekade 1950-an. Sebelum belajar ilmu ekonomi di University of California, Berkeley, Sadli menjadi asisten peneliti dari Sumitro Djojohadikusumo, sosok yang mengirim banyak ekonom untuk belajar di Amerika Serikat. Sumitro menjadi panutan Sadli. Sumitro sendiri adalah tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Banyak orang mengenal Sadli juga sebagai salah satu tokoh terpenting dari "Mafia Berkeley", sebuah komunitas teknokrat alumnus Berkeley. Komunitas ini tak berbentuk pasti tapi oleh sebagian kalangan dianggap nyata dan berperan penting dalam khasanah pemikiran dan politik kebijakan di Indonesia. Sebagai bagian kekuasaan Orde Baru, mereka terlibat intens dalam perencanaan, perumusan, dan pelaksanaan kebijakan ekonomi yang relatif pro-pasar dan liberal. Entah sebagai menteri atau sebagai konsultan kebijakan.

Sosialis sekaligus pro-pasar dan liberal?

Ini cukup membingungkan memang. Kebingungan serupa nampaknya juga dialami rekan saya, ekonom Ari Perdana (AP), yang menulis dengan menarik perihal "Mafia Berkeley". Kebingungan tersebut terkait sekurangnya dua hal yang saling berkaitan. Kebingungan karena tipologi keliru atas paradigma ekonomi dan kebingungan lantaran memperlakukan gagasan sebagai konsep yang statik dan a-historis.

"Mafia Berkeley" adalah istilah yang dipopulerkan David Ransom, peneliti dan intelektual “kiri” yang pernah mengajar di London School of Economics. AP tidak membaca karya Ransom yang penuh detail terkait proses di belakang layar bagaimana sebuah komunitas teknokrat dipersiapkan dan direncanakan untuk sebuah rejim kebijakan dan tata ekonomi baru. (Praktik intervensionis macam ini lazim dilakukan sampai saat ini, entah terkait desentralisasi Indonesia, pencabutan subsidi publik, sistem jaringan sosial nasional, atau skema pasar karbon untuk perubahan iklim. Gitte Heij, misalnya, dalam salah satu edisi Bulletin of Indonesian Economic Studies tahun 2001, mengulas peran panjang Harvard Institute for International Development dalam mendorong reformasi pajak pendapatan Indonesia).

Paparan, analisa dan kesimpulan Ransom mungkin tidak sepenuhnya akurat, tapi mengabaikan detail yang disuguhkan Ransom bisa berakibat cukup serius: Ada dinamika kelembagaan mikro yang khas dan partikular yang tidak dapat dijelaskan dengan kacamata kelembagaan makro.

AP memilih kacamata makro. Sebagai contoh, Universitas Berkeley ia masukan dalam kelompok universitas kubu air asin (saltwater) yang cenderung Keynesian dan pro-negara, berhadaphadap dengan universitas kubu air tawar (freshwater) seperti Chicago yang neoklasik dan pro-pasar. Cacamata itu agak terbatas untuk memahami dinamika sebuah program studi Indonesia di Universitas Barkeley yang dirancang untuk memasok ekonom teknokrat pro-pasar (relatif atas posisi Sukarno), seperti digambarkan dan diyakini Ransom, atau Rizal Ramli atau Kwik Kian Gie.

Tapi, bukankah Sadli seorang sosialis? Di sini kita masuk pada kebingungan pertama, kebingungan tipologi paradigma pemikiran ekonomi. AP menggunakan tipologi Keynesianisme dan Neoklasik. Dengan tipologi macam itu, ia misalnya membandingkan kubu “pendukung” peran negara dan kubu “penentang” peran pasar. Dengan tipologi itu, perihal "Mafia Berkeley" tampak jadi seolah membingungkan. Di satu sisi, Sadli mendukung Bulog, inflasi terkontrol, dan sebagainya, yang notabene mendukung campur tangan negara. Di sisi lain, Sadli dan kelompoknya dituding "neoliberal" yang menafikan negara.

Tipologi yang lebih akurat secara historis barangkali sepatutnya adalah Marxisme, Keynesianisme dan Neoklasik, untuk menyebut kanon-kanon terpenting kala itu. Saat para ekonom menimba ilmu jadi teknokrat di Barkeley awal 1960-an, dan ketika Ransom memungut istilah Mafia Berkeley, tipologi ini yang berlaku. Di bawah cuaca perang dingin, Marxisme adalah satu kubu pemikiran yang penting. Dan karena ia begitu berbeda dengan Keynesianisme dan Neoklasik, dua pemikiran yang disebut belakangan ini kerapkali dikelompokkan sebagai satu kubu. Marxisme berhadaphadap dengan Keynesianisme+Neoklasik. Alasannya, antara lain, walaupun berbeda dalam katakanlah cara mereka memandang penyebab krisis ekonomi serta peran negara dan pasar, baik Keynesianisme dan Neoklasik mendukung Kapitalisme. Sedang Marxisme adalah nyaris sebuah kebalikan dari itu.

Dengan tipologi itu, Sadli atau Sumitro yang sosialis berada dalam kubu yang berbeda dengan Sukarno. “All those men can say to me is ‘Schumpeter and Keynes.’ When I was young I read Marx,” ujar Bung Karno, mengeluh, seusai menghadiri sebuah acara dengan para konsultan dari Amerika Serikat, seperti dikutip Ransom. Joseph Schumpeter adalah ekonom penting yang sangat membenci Sosialisme, tapi akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sosialisme adalah niscaya. Schumpeter bukan seorang Marxis.

Lantas apa kaitannya dengan kebingungan kedua, yaitu konsep gagasan yang statik dan a-historis?

Dalam tipologi itu, Sadli dan Sumitro berada di tengah. Sejalan waktu, saat Marxisme melemah, Sadli bergeser relatif ke “kanan”. Lebih lagi, saat ia menyaksikan Sosialisme ala Indonesia (baca: ala Sukarno) yang berakhir bangkrut. AP dan saya, juga sejumlah besar generasi baru ekonom Indonesia, tumbuh dan besar tanpa eksposur memadai pada ilmu ekonomi dalam terang Marx. Generasi ini hidup, berdiskusi dan berdebat dalam tipologi Keynesianisme versus Neoklasik, sejak Marxisme dilarang Suharto usai mengambil alih kekuasaan dari Sukarno. Tipologi a-historis yang dipakai untuk melihat "Mafia Barkeley" dulu dan sekarang. (Larangan itu punya dampak cukup serius dalam proses berpengetahuan para intelektual di tanah air. Contoh adalah pendapat ganjil ini: Anda bukan seorang "neoliberal" kalau punya kursi butut di rumah. Ini mirip bilang, Marx bukan seorang revolusioner kalau gemar minum anggur). Dilihat secara statik, mungkin Sadli saat itu lebih atau tak kurang "revolusioner" ketimbang Rizal Ramli dan Kwik Kian Gie kala kini.

Dalam lansekap tipologi yang lebih lebar, para pembaca tulisan-tulisan terakhir Sadli bakal bisa menangkap, kendatipun ia mendukung peran negara pada tingkat tertentu, di tempat pertama ia adalah penganjur privatisasi, deregulasi dan liberalisasi pasar. Secara umum, epistemik Sadli sama halnya seperti Boediono dan Sri Mulyani.

Dalam lansekap tipologi yang lebih sempit, generasi ekonom seperti AP dan saya mungkin akan lebih cepat sampai pada kesimpulan bahwa ideologi tidak lagi terlalu relevan saat memperbincangkan politik kebijakan. Bukankah kompensasi melalui BLT 100 ribu perak setiap bulan bagi orang miskin telah diberikan negara SBY ketika subsidi BBM dicabut dan welfare level dianggap konstan (tanpa perlu menyoal motif ekonomi-politik di balik liberalisasi sektor energi kita)? Bukankah opportunity cost menalangi Bank Century lebih besar ketimbang tidak memberi talangan (tanpa perlu menyoal krisis berkala industri keuangan dan sektor spekulatif serta keputusan mobilisasi sumberdaya publik secara teknokratik)? Ini mungkin pertanyaan-pertanyaan standar dan paling kritis yang mampu diajukan generasi ekonom seperti kami.

Jaman terus berganti. Dan gagasan adalah anak jaman. Gagasan punya konteks historis, seperti ditekankan AP tapi tidak cukup diindahkan dalam tulisan tersebut. Gagasan ekonomi pembangunan para ekonom Keynesian “moderat”, seperti Harrod dan Domar, pelan-pelan ditinggalkan di negara berkembang. Begitu juga perubahan yang dialami gagasan Sosial-demokrasi dan negara kesejahteraan Keynesian di negara-negara Eropah. Dulu Bank Dunia sempat mendorong peran negara; Bank Dunia kini penganjur peran pasar.

Kelak ada satu masa, saat mendukung pencabutan subsidi publik untuk rakyat dan menentang kenaikan upah buruh, sejumlah ekonom menjauh dari Keynes. Pada masa yang lain, sejumlah ekonom tiba-tiba jadi pembela Keynes yang cukup militan ketika mendukung subsidi publik untuk bankir guna mencegah krisis sistemik.

Wajah jelek Karl Marx yang malas bercukur itu saja telah mulai menghiasi sampul muka dan jadi bahasan utama media-media besar pendukung Kapitalisme, seperti The Economist dan Wall Street Journal, manakala ekonomi dunia didera krisis. Seperti hari-hari ini. *** Sonny Mumbunan. 2010.

GONG XI FAT CHOI

Masih cerah dalam ingatan generasi yang hidup sebelum tahun tujupuluhan tentang dikeluarkannya Inpres No. 14 tahun 1967 yang melarang segala bentuk kegiatan dan kebudayaan Tionghoa untuk ditampilkan di negeri ini. Dengan demikian maka Konghucu yang diyakini sebagai sebuah kepercayaan agama yang dianut oleh mayoritas suku Tionghoa ini juga tidak luput dari pengaruh inpres tersebut. Akan tetapi, meskipun merasa diperlakukan tidak adil karena mengalami diskriminasi, orang Tionghoa yang adalah pemeluk agama Konghucu ini tidak dapat berbuat apa-apa, tentu karena berbagai faktor penyebabnya. Akibatnya, lebih dari tiga puluh tahun masyarakat Tionghoa hanya bisa merayakan Imlek terbatas di rumah dan kalangan keluarganya saja. Sampai kemudian, diturunkannya Inpres No. 6 tahun 2000 mereka memperoleh kebebasan untuk menghirup udara segar dalam mengaktualisasikan keyakinannya. Hasil perjuangan untuk tegaknya demokratisasi dan pluralisme di Indonesia oleh mendiang alm KH. Abdurahman Wahid, telah berhasil membuka rongga untuk masyarakat suku Tionghoa menarik napas lega. Pasalnya, kini mereka dapat mengaktualisasikan imannya dalam bentuk budaya dan ritualitas lainnya secara bebas di negeri ini. Udara kebebasan yang didambakan selama lebih dari tiga puluh tahun ini (sampai terbitnya Inpres No. 6 tahun 2000), sekaligus membuktikan bahwa pemerintah dan tentunya masyarakat Indonesia saat itu dan saat sekarang telah memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk menjalankan ibadah menurut keyakinannya masing-masing. Dengan demikian, UUD 1945 pasal 29 ayat 2 tidak hanya menjadi slogan yang sering disuarakan oleh para politisi pada waktu pilkada atau pemilu untuk menarik simpati kaum beragama guna mencari dukungan politisnya. Melainkan telah menjadi kekuatan hukum yang melindungi segenap rakyat Indonesia dalam mengaktualisasikan imannya.
Beranjak dari perkembangan di atas ini saya ingin sekali memberikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia melalui beberapa buah pikiran berikut ini:

Pertama, agama adalah sebuah realitas sosial yang terus berkembang dan ditemukan dalam masyarakat kuno maupun modern. Fakta ini tidak dapat dibantah oleh siapapun tentang keberadaan agama pada masyarakat bumi.

Kedua, setiap agama sebagian besar memiliki tokoh pendiri, yang sangat berpengaruh bagi pengikut-pengikutnya, sejak agama ini ada hingga perkembangannya dikemudian hari. Oleh karena itu, para pendiri agama perlu mendapat penghargaan baik dari para pengikutnya sendiri maupun dalam tataran luas masyarakat agama lainnya. Karena mereka telah memberikan sumbangsi besar bagi kemaslahatan hidup manusia.

Ketiga, harus diakui bahwa setiap tokoh pendiri agama memiliki nilai-nilai spiritualitas dan kharismanya sendiri-sendiri yang menginspirasikan para pengikut-pengikutnya untuk menjadi manusia yang sesungguhnya dan memberi dorongan kuat untuk mereka membagikan keyakinan tersebut kepada orang lain, dengan maksud agar mereka pun dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Keempat, mereka Sidharta Gautama, Konfusius, Isa Almasih (Yesus Kristus), dan Muhammad telah memberikan landasan yang kokoh bagi manusia sejagad dalam hal moralitas, etika, kemanusiaan, sehingga hubungan baik antar sesama dapat terjalin secara harmonis.
Kelima, semua agama memiliki jiwa yang sama dalam hal menyebarkan doktrin agama yang diyakininya sebagai kebenaran yang akan membebaskan manusia dari dosa dan kehancuran akibat dosa. Itu sebabnya, agama akan terus bermisi dan terus melebar sesuai dengan semangat misinya. Disini diperlukan kebesaran hati dari setiap pengikutnya, agar terhindari dari sikap apriori terhadap keyakinan yang lain.

Kelima, perlu dibangun sebuah paradigma baru dalam kerangka NKRI dan semangat kesatuan dan persatuan bangsa di tengah realitas sosio kultural dan agama yang plurallistis ini agar terjalin persaudaraan yang kuat dibawah panji kasih ibu pertiwi. Perlu dibangun semangat pluralisme agama sebagaimana telah diperjuangkan oleh mendiang yang saya sebut dengan hormat alm KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur seorang pluralis, budayawan, politisi yang cerdas dan jenaka yang semasa Tuhan memberi kesempatan untuk beliau hidup dan berkarya di negeri tercinta ini.

Keenam, kita semua ingin menjadi lebih baik, itu pasti! Baik dengan Sang Pencipta, baik dengan sesama, baik juga dengan alam sekitar kita. Harmonis dengan Sang Pencipta, harmonis dengan sesama, harmonis juga dengan alam. Untuk mencapai hal tersebut teringat saya pada pesan Sang Guru yang berkata "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. .. dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri….” Lalu Ia melanjutkan "…Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Ketujuh, Saya berkeyakinan bila kita memiliki semangat mengasihi seperti yang diajarkan oleh Sang Guru di atas, atau ajaran moral yang diajarkan oleh pendiri agama yang lain maka kita akan bisa hidup berdampingan bersama secara damai, tanpa curiga, tanpa kekerasan dan tanpa diskriminasi. Aa Gim pernah berkata untuk memulai sesuatu yang baik “mulailah dari hal-hal yang kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang.” Niscaya!

Akhirnya, MAJULAH INDONESIAKU…….MAJULAH NEGERIKU, MAJULAH BANGSAKU…. untuk saudara-saudaraku kaum yang beragama KONGHUCU terimalah salamku GONG XI FAT CHOI.

(Catatan pendek untuk saudara-saudaraku kaum yang beragama KONGHUCU - Oleh: Maarjes Sasela) Jumat, jam 16:25


Minggu, 07 Februari 2010

TINUTUAN: DARI MATA TURUN KE PERUT

KOTA Manado pernah ditahbiskan walikota Jimmy Rimba Rogi sebagai Kota Tinutuan. Sebagian warga menggumamkan kerisihan menerima perjulukan ini. Risih karena baru pertama kali kotanya diberi julukan secara formal mengacu pada nama makanan. Meski sebenarnya ini bukan trend baru, karena banyak kota sudah diberi perjulukan sesuai makanan khasnya, misalnya Yogya diberi julukan Kota Gudeg.

Mesti jujur disebut justru tinutuan telah lama dicandrakan dengan nama embel-embel Manado, karena di tingkat nasional makanan ini lebih dikenal dengan nama ‘bubur Manado’. Karena itu logikanya penetapan Manado sebagai Kota Tinutuan galibnya hanyalah sekadar membayar hutang budi pada sang tinutuan yang telah sekian lama ‘bekerja mengkampanyekan’ brand (merek) Manado di tingkat nasional. Soal merek ini jelas bukan hal sembarangan, karena menurut para ahli pemasaran brand adalah penentu strategis pemasaran dan eksistensi produk, daerah dan diri.

Sebelumnya, citra kota Manado selalu divisikan dalam jargon semacam ‘Bersehati’ dan ‘Berhikmat’, yang bila dirinci kepanjangannya terdiri dari kumpulan kata-kata sifat seperti bersih, serasi, aman, tertib, indah, dan tentram. Pergantian rangkaian kata sifat dengan sebuah kata benda ‘tinutuan’ mesti diberi deskripsi latar belakang memadai, alias uraian rationale-nya. Deskripsi bak pertanggungjawaban verbal itu jika diberikan akan membuat warga kota paham sekaligus mahfum ihwal ‘kebijakan balas budi’ Kota Manado pada sang ‘Tuan Tinu’ (baca: tinutuan) itu.

Praksis Campur Makanan

Menurut amatan saya, harus diakui kreativitas paling besar orang-orang jazirah Manado sebenarnya justru terkait dengan kegiatan campur-mencampur makanan. Makanan baru akan dikolaborasikan dengan makanan yang sudah lama dikenal. Begitu banyak makanan baru di Manado yang hakikatnya tak lain merupakan percampuran saling silang. Katakan yang paling bisa segera diingat adalah midal. Ini adalah percampuran makanan mi kuah khas Manado yang berbumbu nikmat dan diberi cakalang fufu dengan tinutuan. Mi aslinya dari negeri Cina , juga berasal dari Jepang yang dikenal dengan nama soba serta dari Korea. Nama akhiran dal padal midal, berasal dari pedaal yakni nama lain untuk tinutuan khusus di wilayah Minahasa Selatan alias wilayah subetnik Tountemboan.

Daal alias tinutuan itu jelas sudah hakikatnya adalah campur ruah segala macam sayuran segar, kangkung, labu, bayam, gedi yang diberi bubur beras, ditambah ketela, talas dan ubi jalar alias bete and batata. Bahkan di kampung Pinabetengan turut dicampur dengan sambote yang pahit tak keruan itu. Di kalangan penjual makanan pagi hari di seputaran jalan Garuda Manado midal sering disebut saja sebagai ‘campur’.

Saya menduga kata tinutuan dulu merujuk sekadar pada aktivitas mencampur makanan itu dan tidak ada yang tahu mana yang merupakan resep asalnya atau dengan memakai istilah gerai makan franchise KFC (Kentucky Fried Chicken) disebut sebagai original recipe-nya alias resep asli. Dugaan ini saya yakini karena di Mindanao, Filipina -juga terdapat makanan yang disebut tinutuan. Tetapi waspadalah wahai kaum pemamah sayuran alias vegetarist, karena yang dicampur di sana bukanlah sayuran segar nan sehat sentosa itu, tetapi jeroan kolesterol tinggi yang berbahaya bagi perut dan ideologi makan sehat kaum vegetarist.

Di samping campuran bernama midal, tinutuan a la Minahasa itu di Manado juga turut dicampur binte biluhuta (kita singkat saja jadi BB) yang tulen merupakan makanan khas Gorontalo. BB (tolong tidak diasosiasikan dengan Bau Badan yang justru bakal menurunkan selera makan) galibnya adalah percampuran makanan dengan ingredient utama jagung pipilan rebusan yang diberi kuah berbumbu nikmat.

Terakhir ini BB juga mendapat pengayaan alias enrichment dengan hamburan ebi alias udang alus dan parutan kelapa yang membuatnya lebih asyik dan syur. Siapa orang-orang penting dalam mengembangkan makanan jagung BB selalu bersifat anonim. Ini tidak seperti halnya di Amerika dimana ahli nutrisi John Harvey Kellog dicatat sebagai pembuat bubur jagung, corn flake. Atau juga para ahli gizi lain yang membuat sirup, whiski, minyak dan gula rendah kalori dari jagung yang di Indonesia bermerek tropicana.

Yang menarik bahwa jagung yang jadi idola orang Gorontalo itu menurut sejarahnya adalah ole-ole orang-orang ekspansionis merkantilis asal Barat, yang notabene dibenci para penghulu politik di Gorontalo, dan sebagian di antaranya masih berkutat di jalan roda Manado. Tapi meski dibawa pihak Barat, makanan bernama ilmiah Zea mays ini sebenarnya juga dirampas dari wilayah baru Amerika dari suku-suku Indian. Jagung sudah dicocoktanam kaum Indian terhitung sejak paling kurang 4700 tahun lalu. Jagung dalam bahasa Manado disebut milu yang tak lain kontraksi dari kata Portugis milho.
Campuran makanan lain juga bisa ditemukan di pasar-pasar di Kota Manado adalah mi, campur tinutuan, campur kacang merah alias brenebon (Phaseolus Sp.). Kata ‘brenebon’ dari kata Belanda bruineboon yang justru berarti ‘kacang coklat’ jadi kacang merah tidak tahu apakah ada pengaruh politik warna di dalamnya. Dari namanya bijian ini segera bisa kita terka terkait jelas dengan ekspansi-merkantilis Barat. Meski kalau dilacak sebenarnya makanan ini juga diboyong pihak Barat dari Amerika Utara sesudah Colombus (1492). Kadang-kadang campuran makanan terakhir ini diperkaya dengan tetelan sapi terutama bongkol kaki dan kikil. Konon dipercaya agar siapa-siapa yang memakannya mampu menarik ‘roda’.

Tapi pada komunitas Kristen di pasar-pasar Wanea dan Bahu makanan tinutuan kolabarasi brenebon ini paling sering dipermoi dengan kaki babi (Sus vittatus) yang awalnya mulai masuk kandang dan dipelihara di Cina 9000 tahun lalu. Kaki boke dalam kuah kaldu kacang merah jelas merupakan makanan khas asal Eropa. Tetapi kini di dunia Barat, terutama di Amerika Serikat, karena merebaknya kesadaran vegetarian dan kesadaran diet, makanan jenis kolesterol tinggi ini tinggallah dimakan kalangan hitam Afro-Amerika di kafe-kafe kecil dekat apartemen rakyat dekat Manhattan, New York. Adapun orang-orang Manado di New York dan New Jersey datang juga ke sana untuk makan sembari masyuk membayangkan mereka sedang berada di Kawangkoan, Tompaso, Langowan, Pakuure atau Modoinding dalam acara tumpah makan yang diberi nama relijius yaitu, ‘pengucapan syukur’ yang sekian lama diaminkan para tokoh gereja Masihi Minahasa.

Dari Mata Menuju Perut

Tetapi Anda jangan salah, dalam tindak campur-mencampur makanan itu justru terkandung jati diri idealisme orang Manado paling mendasar, yaitu kehendak untuk menerima pergaulan dengan tangan terkembang dan akan dibuktikan dengan praksis perut, yaitu keinginan menjajal makanan dan melakukan eksperimen campur- mencampur makanan.

Kalau perkenalan yang berkesan dan menerbitkan cinta dalam hati biasa dilambangkan orang sebagai peristiwa dari mata turun ke hati, adapun orang-orang Manado menerjang lebih jauh dari kelumrahan itu. Karena, bagi mereka sesudah berterima di hati, kemudian harus diekspresikan dalam tindak makan-minum. Saya menduga tradisi makan ini semacam perterusan juga dari kebiasaan makan pinang dahulu kala, di mana tolok pergaulan hangat dilambangkan dalam tindak makan pinang bersama. Ketika itu tidak ada pertemuan penting, misalnya peristiwa pelamaran gadis pujaan hati, tanpa diawali mamah pinang bersama. Makanya hingga kini peristiwa melamar gadis untuk dibawa ke jenjang perkawinan disebut sebagai peristiwa ‘meminang’.

Jelaslah yang dilakonkan orang Manado dalam bergaul sesama insan adalah peristiwa dari mata turun ke perut. Tetapi, tentu proses ke perut bukan tidak memakai hati dan kepala, malah sangat tulen dilakukan. Memang dalam pengalaman kalau cuma sekadar kesan itu turun ke hati, siapa bisa menjamin akurat ‘membaca’ hati orang. Karena, peribahasa mengatakan ‘dalamnya laut dapat terduga, tapi hati orang siapa yang tahu’.

Tapi, di Manado tamu yang secara sadar mau menerima tawaran makan, merupakan gestur tulen bersahabat. Yang menolak makan karena alasan ideologis syariat agama juga pun masih diterima. Penolakan jenis ini bukanlah penghinaan pada sang tuan rumah, tetapi semacam penegasan jati diri. Karena di Manado meja makan juga menjadi ajang penegasan identitas diri. Tak heran di pesta perkawinan Kristen di Manado selalu ada meja tersendiri bagi kalangan muslim dan kalangan advent yang tidak bisa mencicip makan berdaging babi dan anjing. Penyediaan itu jelas sebuah penghormatan pada identitas dan praktik agamawi yang berbeda. Tetapi siapa pun yang menolak makan minum yang tulus ditawari tuan rumah dalam kosmos beberapa suku Sulawesi Utara bisa tertimpa musibah.

Ideologi Tinutuan

Tinutuan tak pelak mesti disebut adalah simbol kesediaan untuk bercampur baur itu. Inilah sebenarnya pesan yang hendak disuarakan Kota Manado. Makanan ini memang sudah hakikatnya merupakan campur ruah sayuran. Bahkan perkembangan terakhir bisa juga disantap dengan tahu hasil kebudayaan kedelai Cina, perkedel nike yang bukan merek sepatu yang dibuat pengusaha Korea di Tanggerang, tapi nener ikan air tawar biasanya dari danau Tondano dan cakalang fufu alias hasil asapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) salah satu jenis tuna yang berruaya alias bermigrasi di wilayah Pasifik di antaranya masuk ke Laut Sulawesi.

Tinutuan dalam sejarah Sulawesi Utara sebagaimana sudah terurai di atas berasimilasi dengan mi yang asal Cina. Mi konon diperkenalkan di Eropa oleh Marco Polo yang pulang kampung di Venice tahun 1295, meski sebagian orang menyatakan makanan jenis ini sudah ada di Pulau Sisilia, Itali sejak zaman pemerintahan Islam (827 -1061 M). Karena salah produksi mi Itali menjadi kurus bak tali gitar dan disebut spaghetti.

Jelaslah tinutuan tidak canggung bergaul dengan brenebon dan afdol dengan jagung. Dan karena tinutuan original recipe a la Minahasa sekadar campuran berbagai macam sayuran yang dimasak khusus dan tidak mengandung daging babi dan anjing yang diharamkan kaum muslim dan kaum adventist. Juga, tidak mengandung daging lain semacam sapi yang dihormati masyarakat Hindu. Makanya, tak salah makanan ini bisa jadi semacam makanan pergaulan antar kelompok masyarakat di Manado. Semacam lingua franca lidah dan perut begitu. Jadi pemilihan makanan ini menjadi perjulukan bagi Kota Manado jelas terkandung makna sebuah ikhtiar tulus penerimaan atas pluralisme di Kota Manado. Manado memang menjadi tempat persemaian pergaulan antar bangsa dan ras serta kebersamaan insani. Itu secara politik sudah dibuktikan dengan move Pak Imba yang penatua menggandeng Pak Abdi yang mukmin menjadi pemimpin kota.

Yang menarik bahwa meski tinutuan merupakan percampuran berbagai macam elemen, tetapi unsur-unsur pembentuknya tetaplah terlacak kasat mata, katakan semacam kangkung (Ipomea elongata). Tidak ada yang hilang alias meleleh dalam proses percampuran itu. Karena percampuran yang terjadi bukan peleburan, tapi bersanding bersama pada satu keyakinan hidup bersama alias Bhinneka Tunggal Ika yang sejati. Bukan memangsa mereka yang berbeda. Yang hendak disimbolkan oleh tinutuan bukanlah pluralisme dimana unsur-unsur pembentuk akan dilelehkan sehingga tidak bisa dilacak kasat mata. Karena itu yang hendak didorong bukanlah konsep melting pot a la Amerika Serikat awal, tetapi konsep multikulturalisme di mana unsur pembentuk tetap eksis namun berkomitmen kuat untuk hidup bersama sehati dan seperut.

Jadi jelaslah tinutuan adalah percampuran bukan peleburan. Ini bahkan sudah masuk dalam hati terdalam di samping perut terdalam tentu. Diceritakan seorang ibu Manado yang merelakan anaknya akan diapel pacarnya malam harinya. Sang ibu berpesan, ‘’Nak, ibu senang pacarmu. Tapi kau harus jaga diri. Nanti malam kalau dia mulai cium dan pegang-pegang kau bilang ke ibu yang akan diam di kamar depan, ya!?’’ Anaknya setuju, ‘’Tapi bu, bagaimana caranya?’’ tanya sang anak gadis. ‘’Ah gampang kau pakai saja bahasa simbol nama-nama sayuran. Kalau dia pegang tanganmu kau bilang kangkung. Kalau cium pipi, labu. Kalau bibir, bayam, kalau pegang paha gedi dan seterusnya,’’ jelas sang ibu.

Dan malam harinya. Sang ibu lamat-lamat mendengar dari dalam kamar. ‘’Mama, kangkung. Kangkung labu, kangkung labu. Labu-labu. Bayam, labu bayam, bayam, bayaaam. Gedi, kangkung labu, gedi, kangkung labu, Gedi, gedi, gediiii’’ dan akhirnya erangan mendesah panjang, ‘’ Ma, tinutuan.’’.//Pitres Sombowadile

Sabtu, 06 Februari 2010

MENGGANTI BHINEKA TUNGGAL IKAN DENGAN TORANG SAMUA BASUDARA

Kondisi damai, tentram dan sentosa Manado yang dibanggakan kini bukanlah prestasi satu dua pihak. Tapi merupakan buah dari kerja bersama antara pemerintah dan peran significant masyarakat sipil. Slogan kemudian dibuat Gubernur Mangindaan untuk merangkum kondisi yang mesti terus dipertahankan itu sebagai etika Torang Samua Basudara. Komitmen itu kini dipertajam dengan program Tahun Kasih di masa kepemimpinan Sondkah-Sualang yang mencoba hendak melakukan upaya proliferasi (pengembang-biakan) kehidupan kerukunan bersama khas Sulut tersebut. Juga penguatan dengan membentuk lembaga-lembaga kerjasama antar umat beragama di daerah di masa pemerintahan Gubernur Sinyo Sarundajang kini.

Beberapa pihak dapat disebut melakukan peranan penting dalam menciptakan kondisi Manado sekarang ini. Yang pantas disebut adalah:

1) Kalangan LSM dan aktor-aktor kunci pemimpin umat.

Berbagai forum lintas agama membahas masalah-masalah antar agama dilakukan. Bahkan sempat membuat jaringan kampanye bersama dengan mempergunakan berbagai media publik (radio, koran dan jalur online) dan media alternatif lain (poster, selebaran, spanduk dll). Kajian-kajian sempat menawarkan gagasan-gagasan dialog mutakhir. Juga membahas tema perdamaian sebagaimana dirumuskan Hans Kung, there is no peace among nations without peace among religions. Serta tawaran Etika Globalnya.

2) Organisasi-organisasi masyarakat dan pemuda terutama yang terkait dengan institusi agama.

Berperan dalam berbicara ke kalangan umatnya masing-masing tentang nilai sakral dari perdamaian, dialog serta pluralitas. Kemajuan fenomenal dapat dilihat pada ceramah reguler KH Arifin Assagaf di Radio Al Chairaat untuk umat muslim, tetapi didengar juga kalangan Kristen di bagian Utara Manado (wilayah yang paling heterogen dari sisi agama dan etnik) dan menyejukkan hati kalangan Kristen. Eksplosi dapat dihindari, pada masa-masa susah ketika orang menyebut-nyebut adanya konsep kerusuhan berantai di kota-kota ATM (Ambon-Ternate-Manado).

3) Media Publik dan Khusus

Media dengan praktik pemberitaan yang menjauhkan diri dari upaya sengaja atau tidak sengaja menyulut sentimen dan konflik. Praktik media perang dan damai sebagaimana yang pernah dirumuskan Johan Galtung diwaspadai benar. Jika konflik di beberapa daerah lain dituduh turut dipicu media -- sebagai misal konflik Poso akibat pemberitaan Harian Mercusuar dan konflik antar agama yang diperparah oleh pecahnya media ke dalam dua kubu yang bertikai – di Manado kesadaran peran damai media dalam mencegah konflik multikultur relatif lebih maju. Mengingat perkataan Bertolt Brecht dalam Geschicten vom Herrn Keuner) yang mengatakan: Jika koran dipandang sebagai sarana membuat kekacauan, koran pun dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan ketertiban.

Tapi bukan koran saja yang berperan dalam memberikan berita menyejukkan, tapi juga kalangan radio yang juga melakukan serangkaian kegiatan perdamaian.

4) Pemerintah dengan segenap aparatnya.

Setiap potensi konflik bisa cepat ditangkal oleh pemerintah lewat berbagai kegiatannya. Di banyak kesempatan pejabat-pejabat selalu berpesan tentang keindahan kerukunan hidup antar pemeluk agama dan mengembangkan dialog antaragama. Terutama ketika sedang beracara dengan umat agama tertentu.

Kekerasan Atas Nama Agama

Sungguh kita trenyuh melihat banyak aksi kekerasan yang dilakukan orang atas nama agama. Kenyataan ini agak sulit dimengerti karena posisi sebenarnya dari agama adalah anugerah sukacita bagi manusia. Juga agama (dalam lingkungan Kristen) dipahami sebagai pembawa kabar sukacita dan cinta kasih. Dalam Islam agama dilihat sebagai rahmatan lil -‘alamin (rahmat bagi alam).

Tapi kenapa justru mewujud jadi sekumpulan korban mati mengenaskan, darah yang tumpah ruah dan bagian-bagian tubuh yang berserakan, kesedihan, penderitaan, dukacita, dendam serta kebencian. Atau menjadi peristiwa kelabu yang mengakibatkan gedung WTC New York rusak berantakan dengan ribuan nyawa melayang. Hal yang sama masih berlangsung pasca dua kali bom Bali, dan dua kali bom Hotel J.W. Marryot.

Manuver Osama bin Laden

Sekelompok orang di bawah organisasi yang didalangi Osama bin Muhammad bin Awad bin Laden dituduh berada di balik tragedi WTC di New York tahun lalu. Osama memang kuat dihubungkan terlibat karena sikap penentangannya yang garang terhadap semua kepentingan Amerika Serikat di seluruh dunia. Atau terhadap semua kekuatan Salibis dan Zionis. Artinya terhadap semua kekuatan umat Kristen dan Yahudi.

Rekor kekerasan Osama yang ditujukan pada Amerika Serikat dan bukti-bukti lain membuatnya dituduh berada di balik aksi-aksi kekerasan melawan kekuatan salibis dan zionis. Osama sebenarnya adalah salah seorang pejuang yang dibantu pihak Amerika Serikat melawan tentara Uni Soviet yang menduduki Afganistan. Ketika kawan dan gurunya Syaikh Abdullah Azzam meninggal di Peshawar dia kehilangan semangat dan kembali ke Saudi Arabia di mana keluarga miliarder bin Laden dan bisnis keluarganya berada.

Ketika Irak menginvasi Kuwait, kerajaan Arab Saudi yang ketakutan revolusi bakal berkibar ke negara tersebut, Bin Laden menawarkan diri hendak mempertahankan negerinya dari kemungkinan invasi. Tetapi, pemerintah kerajaan malah berpaling pada proteksi yang disediakan pemerintah Amerika Serikat. Bin Laden kecewa. Dia berpendapat tentara Amerika telah mengotori negara Al-Haramain (negara dengan dua tempat suci Islam di Makkah dan Madinah) dengan kegemaran pesta dan kaset-kaset Madonna.

Dia melakukan oposisi keras terhadap keputusan pemerintah Arab berkolaborasi dengan Amerika Serikat itu. Akibatnya pemerintah Arab Saudi kerajaan menahannya di Jeddah. Tahun 1991 dia memutuskan meninggalkan Arab Saudi dan pada tahun 1992 sudah berada di Khartoum, ibukota Sudan. Kota tempat berseliwerannya berbagai jaringan spionase dunia. Di sana dia diduga keras menjadi donatur banyak aksi terorisme dunia.

Bin Laden punya koneksi khusus dengan kelompok radikal Mesir yang bermarkas di Khartoum di antaranya Al-Jihad Al-Islami yang pimpinan terkenalnya adalah Dr. Ayman Al-Zawahiri yang merupakan salah satu orang lingkaran dalam Osama. Tokoh ini disebut-sebut binasa dalam perang Amerika Serikat dan pendukungnya terhadap rezim Taliban dan pengikut Osama.

Tahun 1994 pemerintah Arab Saudi mencabut kewarganegaraan Osama. Dan dua tahun setelah itu, tepatnya tanggal 23 Agustus 1996 tercatat merupakan titik balik penting dari posisi Osama yakni dari seorang Islam moderat -- yang bekerja membangun berbagai fasilitas publik (jalan) di Khartoum, maklum dia memang seorang insinyur sipil dan hobbi bertani -- menjadi tokoh yang menyuarakan sikap anti Amerika secara konsisten.

Pada tanggal itu dia membuat deklarasi jihad yang menyerukan pemuda-pemuda Islam membunuh semua penjajah Amerika di kerajaan Arab Saudi. ‘’Dinding-dinding penindasan dan penghinaan tidak dapat dihancurkan kecuali dengan hujaman peluru,’’ demikian bunyi salah satu kalimat deklarasinya yang selalu disiarkan CNN sebagai bukti ideologi kekerasan Osama.

Februari 1998, dia melakukan pertemuan dengan para kelompok ekstremis fundamentalis Islam, di antaranya kelompok Al-Jihad Al-Islami. Dalam pertemuan ini Bin Laden mengajak untuk menyerang semua kepentingan Amerika di manapun berada.

Agustus tahun itu juga dua kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania diledakkan dengan korban ratusan orang. Dua hari pemboman itu Madeleine Albright memastikan Bin Laden adalah tersangka utama. AS kemudian dalam selang waktu 13 hari membalas Osama dengan meluncurkan 60 rudal Tomhawk ke markas Osama di Khost. Tapi Osama selamat. Malah dia berjanji akan membalas setiap tindakan Amerika Serikat.

Pada tanggal 11 September 2001 terbukti gedung menara kembar WTC New York hancur ditabrak oleh dua pesawat penerbangan sipil oleh kaum teroris. Ribuan orang di gedung itu terkubur. Ini serangan kedua setelah tahun 1993, WTC New York juga dihantam bom yang menewaskan 6 orang dan melukai ribuan orang. Tahun 1995 pihak AS berhasil meringkus Ramzi Yousef (otak peledakan pertama WTC 1993) yang ditangkap di Pakistan.

Yang pantas diceritakan dalam perjalanan helikopter yang membawanya ke kantor pusat FBI New York melintasi samudera Atlantik . Ramzi dengan bangga menceritakan rencana sebenarnya atas WTC yakni akan menanam perangkat berhulu ledak yang besar di gedung WTC bertingkat 110 lantai itu yang diperkirakannya akan memakan korban 250.000 orang korban dalam dan luar gedung.

Skenario teror yang diceritakan Ramzi itu gagal dilakukan karena dia tidak dapat membeli dinamit yang cukup dan akhirnya memutuskan untuk sekadar meledakkan yang kecil saja tahun 1993. Rencana itu akhirnya bisa dilaksanakan dengan mempergunakan dua pesawat terbang yang diterbangkan menerjang gedung WTC pada 11 September 2001 yang sama-sama kita ketahui. Berbagai pemboman lain juga dihubungkan dengan aksi teror Osama dengan jaringan Al Qaeda-nya.

Tapi apa sebenarnya yang mendorong tokoh semacam Osama menggelar aksi kekerasan? Ideologi apa yang merasukinya? Jawaban semacam itu bisa disimak dari wawancaranya dengan Time dan Nations (lihat buku Osama bin Laden Melawan Amerika, Ahmad Dumyathi Bashori/editor, Mizzan, 2001). Secara singkat dapat disebut Osama memandang gerakan kekerasannya sebagai misi suci agama yang dilakukan untuk melawan kekuatan-kekuatan yang mengancam agamanya. Osama menyerukan jalan Jihad bersenjata melawan Amerika Serikat dan Israel.

Kata Osama pada Time, ‘’Front Internasional untuk Jihad melawan AS dan Israel—dengan pertolongan Allah Swt -- telah mengeluarkan fatwa kepada segenap umat Islam untuk berjihad dengan tujuan membebaskan tempat-tempat suci. Umat Muhammad SAW telah menanggapi seruan dan ajakan ini. Kalau memang anjuran jihad melawan Yahudi dan AS untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al-Haram diasumsikan sebagai perbuatan kriminal biarkan sejarah sebagai saksi bahwa saya adalah kriminal. Tugas kami hanya menganjurkan dan dengan inayah Allah SWT. Kami lakukan itu. Alhamdulillah, beberapa orang telah merespons seruan ini.’’

Dalam wawancara dengan Nations tampak jelas uraian bahwa Osama mempergunakan teks-teks suci untuk menyokong gerakannya. Osama membuat pemaparan bahwa negeri-negeri muslim sudah jatuh dalam tekanan kaum asing Salibis-Zionis Amerika Serikat dan Israel. Mulai dari Irak, Libia, Suriah, Lebanon, Sudan, Yordania, Mesir dan Somalia. Dan tidak ada jalan lain bagi dunia muslim selain harus mengangkat senjata dan melakukan kekerasan sembari mengutip ayat Al-Baqarah [2]: 216. ‘’Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada dia amat baik bagimu, dan mencintai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’’ Ketakutan untuk berperang (jihad) di kalangan masyarakat muslim disebut Osama sebagai malapetaka dunia muslim.

Pada bagian lain wawancaranya dia mengatakan: ‘’ Muslim harus memperhatikan benar ayat-ayat tentang loyalitas, keimanan dan jihad. Mereka tidak boleh menjalin hubungan dengan Yahudi dan Kristen karena Allah Swt telah menerangkan dalam kitabnya, ‘’Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS Al-Ma’idah [5]: 51)

Kekerasan Atas Nama Agama Yang Lain

Tapi sesungguhnya kekerasan yang dilakukan atas nama agama terjadi oleh banyak kelompok di semua agama – agama besar dunia, bukan hanya kalangan Islam. Banyak pembunuhan dan pembantaian dalam sejarah yang menunjukkan kaitan spirit agama dalam tindakan kekerasan yang sangat berdarah-darah. Dan sekali lagi ini bukan fenomena satu agama saja, tetapi lintas agama-agama. Kekerasan dan teror atas nama agama itu biasa dilakukan oleh kelompok sempalan dalam agama tertentu yang merasa perbuatan itu merupakan upaya taat kepada Tuhan, (lihat buku Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Mizzan, 1999).

Shihab mencatat fenomena kekerasan mewarnai kekerasan sejarah kehidupan keagamaan. Dalam kajiannya, pada masa formatif Islam, tiga dari empat khulafa al–rasyidun dibunuh oleh tangan-tangan kelompok ekstremis. Khalifah keempat Sayyidina Ali bin Abi Tahlib dibunuh oleh kelompok Khawarij, yaitu ekstremis yang membenarkan tindakan kekerasan dalam mengubah status quo.

Di kalangan Kristen lumuran darah akibat ekstremitas pemahaman keagamaan pun tidak kalah banyaknya. Misalnya, eksekusi yang dilancarkan kalangan mainstream Kristen kepada kelompok sekte yang lazim dinamakan kaum sempalan (heretic) juga mewarnai sejarah Kristen yang melahirkan peristiwa Black Bartolomy di Eropa. Atau dosa gereja Jerman terhadap kaum Yahudi di zaman NAZI. Hingga kini perseteruan agama di Belfast, Inggris, belum kunjung usai dan menemukan formula solusinya.

Di dunia modern kini kekerasan atas nama agama tidak kunjung redup ternyata. Dalam dekade terakhir ini saja tercatat beberapa tindakan kekerasan yang disulut kelompok keagamaan yang ekstrem. Misalnya, kelompok Takfir wal Hijrah di Mesir yang bertanggungjawab atas pembunuhan Anwar Sadat Oktober 1981 saat menghadiri acara parade militer. Tahun 1984 Indira Gandhi, dibunuh oleh dua bodyguard-nya sendiri dari kelompok Sikh yang melakukan balas dendam atas kebijakan Indira yang dinilai merugikan Kaum Sikh, juga didorong oleh motivasi keagamaan.

Selanjutnya pembunuhan perdana menteri Israel Yitzhak Rabin oleh aktivis kaum fundamentalis Yahudi Haredim, Yigal Amir. Ciri kelompok ini adalah militansi, atau ketangguhan berjuang untuk mencapai tujuan, baik melalui ide ataupun senjata. Ketika Rabin terbunuh kelompok Haredim justru merayakannya bahkan mereka mengumpul dana untuk membayar biaya sewa pengacara yang akan membela Yigal Amir. Dalam keterangan dipengadilan Yigal Amir menyatakan tindaknya sebagai ‘’tugas keagamaan saya sesuai dengan anjuran halakha (hukum agama Yahudi).’’

Di Indonesia banyak kasus bisa kita tunjuk sebagai kekerasan atas nama agama. Apa yang terjadi di Maluku dan Maluku Utara yang ceritanya beredar dari mulut ke mulut di Manado adalah contoh kekerasan yang penderitanya adalah kalangan Kristen. Sama halnya cerita sejenis yang dibawah para mantan penduduk Maluku yang berada di Makassar yang menceritakan bagaimana kalangan Islam yang jadi korbannya.

Medan pembantaian yang lain adalah Poso yang hingga kini masih terus meledak sewaktu-waktu. Kalangan Kristen yang melarikan diri ke Manado, hingga kini masih ada di barak-barak penampungan. Cerita mereka tentang kenasiban mereka membuat kita sedih atas prestasi buruk manusia Indonesia yang menyebut dirinya masyarakat berbudi pekerti dan beragama.

Reinterpretasi Bhinneka Tunggal Ika

Konsep yang biasa dipakai untuk menangkal terjadinya perpecahan sosial di Indonesia sudah lama dirumuskan para pendiri republik ini -- terutama sangat direkomendasikan oleh Mr. Muhammad Yamin – yakni konsep Bhinneka Tunggal Ika yang biasanya diterjemahkan menjadi ‘berbeda-beda tetapi satu jua.’

Ceritanya, sewaktu Republik Indonesia digagas menjadi wadah negara bagi bangsa-bangsa Nusantara bekas jajahan Belanda, Yamin memilih frase Bhinneka Tunggal Ika (BTI) untuk melukiskan bagaimana sekian entitas berbeda bisa menjadi satu. Frase ini adalah kutipan Yamin dari kalimat Mpu Tantular dalam salah satu karya kakawin (satu bentuk sastra tulis Jawa Kuno) berjudul Sutasoma.

Menurut kajian S. Supomo, mantan dosen di ANU Australia, karya ini diperkirakan ditulis antara tahun 1367-1389, artinya semboyan BTI sudah berusia 600 tahun lebih (lihat tulisan S. Supomo, Tantular dan Karyanya, dalam 1000 Tahun Nusantara, Kompas, 2000).

Tidak ada penjelasan memadai bagi para aktivis kemerdekaan Indonesia, di tahun 1945, soal mengapa frase Tantular itu yang dipilih Yamin untuk menjadi kalimat mujarab persatuan Indonesia. Kecuali menurut Yamin ada beberapa orang yang tahu tentang karya sastra kakawin itu terutama beberapa tokoh Jawa dan Bali.

Tapi, setelah membaca telisikan kritis ahli naskah kuno seperti S. Supomo, saya bersimpulan BTI sebenarnya bukanlah filsafat hidup yang memang sudah dijalankan dan ihwal kemujarabannya hendak dikampanyekan dalam karya Mpu Tantular ini. BTI ternyata lebih merupakan kalimat bijaksana penulis kakawin yang hendak ditawarkan untuk permakluman bersama.

Frase itu muncul dalam kakawin Sutosoma saat pertempuran antara Porusada dan Sutasoma. Porusada, dikisahkan adalah raksasa pemakan daging manusia yang berjanji akan mempersembahkan korban berupa seratus orang raja kepada Betara Kala. Dia telah berhasil mengumpulkan seratus kepala raja, namun Betara Kala masih meminta tambahan seorang lagi, yaitu Sutasoma, raja dari kerajaan Hastina yang diceritakan merupakan penjelmaan Buddha.

Dalam pertempuran keduanya, Porusada merubah dirinya menjadi Siwa, sedang Sutasoma menampakkan citra diri sebagai Buddha. Porusada sebagai Siwa, saking marahnya merubah dirinya sebagai Api Kala yang akan membakar seluruh bumi. Sutasoma, dengan hati buddhisnya, demi menyadari api itu bakal membakar semua kehidupan bumi tidak terkecuali, sebelum waktunya, segera secara sukarela menyerahkan diri kepada Porusada untuk diserahkan kepada Kala.

Ajaib, justru tindak Sutasoma itu menyebabkan hati Porusada mengalami perubahan total, keganasannya sebagai raksasa lenyap diganti dengan rasa kasih sayang kepada sesama mahkluk. Bahkan Betara Kala sendiri diceritakan hatinya tersentuh. Hatinya jadi dipenuhi kasih sayang dan minta menjadi murid Sutasoma.

Dalam kakawin Sutasoma itulah, pada saat Porusada menampakkan citra Siwa dengan Api Kalanya, para dewa kuatir dunia akan benar-benar binasa, karena itu para dewa turun ke bumi untuk melerai. Untuk menenangkan Siwa, para Dewa mengatakan bahwa tidak mungkin dia (Siwa) dapat mengalahkan Sutasoma -- yang adalah penjelmaan Buddha—karena walau Buddha dan Siwa dua subtansi yang berlainan, tidak mungkin keduanya dipisahkan.

Nah ketika itu para dewa mengatakan kalimat perdamaian berbunyi: ‘’... Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal/bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa...’’. Ini diterjemahkan S. Supomo: ‘’ Pada hakikatnya yang paling dalam Buddha dan Siwa adalah satu/ (keduanya) itu berbeda, (tetapi) itu satu, tak ada dharma yang mendua ‘’ .

Jelaslah pertempuran dua tokoh tadi ditampilkan Tantular sebagai analogi perselisihan atas dasar inspirasi agama masa itu, yaitu antara agama Syiwa dan Buddha. Pertempuran sengit yang akan meluluhlantakkan bumi. Adapun pandangan dan sikap agama Tantular dapat disimpulkan yaitu dalam posisi hendak merujukkan dua entitas jatidiri agamawi itu atau posisi sinkretis.

Pandangan sikretis untuk dua agama yang berbeda itu tidaklah aneh ketika itu. Sinkretisme Buddha-Syiwa dapat diamati pada tulisan suci Jawa Smaradahana Hyang Kamahayanikan, yang berusaha untuk mengsinkretiskan dewa Trimurti Hindu dengan dewa-dewa Buddha Mahayana. Sehubungan dengan ini, R.C. Majumdar menyatakan bahwa gabungan antara Syiwa dan Buddha merupakan ciri khas agama masyarakat Jawa. Bahkan dalam teologi Hindu Bali modern, Buddha dianggap sebagai adik Syiwa. (lihat R.C. Majumdar, Hindu Colonies in the Far East, Calcuta, Firma K.L. Mukhopadhay, 1963 halaman 99).

Jelaslah dari kutipan di atas pada konteks apa Bhinneka Tunggal Ika dipakai Mpu Tantular, yaitu dalam konteks memperdamaikan bahkan menggabungkan dua agama India/Dharma. Karena itu, jelaslah pemakaian BTI kini harus diinterpretasikan kembali dari arti ‘’(keduanya) itu berbeda, (tetapi) itu satu,’’ menjadi pluralitas di konteks Indonesia kini. Karena penggabungan agama tidak bisa diterima oleh agama-agama besar, meski saling pengaruh dan saling memberi inspirasi sudah terbukti terjadi dalam kajian sejarah agama-agama.

Keharusan BTI direinterpretasikan pada Indonesia hari ini, memang harus dilakukan ketika agama-agama dominan yang ada bukan lagi Syiwa dan Buddha atau agama-agama India, tapi agama-agama Semitisme agama-agama Abrahamic. Masa agama-agama India dan proses Indianisasi di bumi Nusantara dihitung punya rentang waktu satu millenium dan berakhir dengan masuknya Islam abad keenam belas kecuali di Bali yang bertahan hingga kini.

Konflik Indonesia hari ini justru lebih kaya dari konflik dua agama Dharma dalam Kakawin Sutasoma. Pasca Hindu dan Buddha, agama-agama monoteistik Abraham (Abrahamic Religions) tercatat masuk ke Nusantara mulai dari agama Islam, Kristen dan Yahudi. Antara agama-agama Abraham ini satu sama lain punya luka-luka sejarah dan klaim kebenaran Allah yang eksklusif antar mereka. Dan, upaya untuk mendekatkan mereka dilakukan lewat pendekatan pluralitas.

Saya mengusulkan BTI perlu diterjemahkan lagi ke dalam khazanah konflik agama-agama Abraham. Saya usulkan pada tataran sosial BTI diterjemahkan menjadi etika sosial: menerima pluralisme dan membentuk persaudaraan di atasnya atau Torang Samua Basudara. Karena, pluralisme akan memberi pintu bagi persatuan yang harmonis dan ikhlas serta menolak penyatuan atau penyeragaman (sinkretis). Dan dalam falsafah Torang Samua Basudara (mengingat percakapan dengan Mantan Gubernur Mangindaan) melihat perbedaan itu dimulai dari satu asal yang sama, yaitu dari Bapa Orang Beriman Abraham.

Pluralitas yang dimaksud mengutip Alwi Shihab mencakup:
Pertama: tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan itu. Seseorang baru bisa disebut menyandang paham pluralisme apabila ia dapat berinteraksi positif dalam lingkungan kemajemukan tadi. Dengan kata lain, pengertian pluralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan.

Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme. Karena konsep ini hanya menunjuk pada suatu realitas di mana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi.

Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme. Karena seorang relativis berasumsi bahwa kebenaran ditentukan oleh pandangan hidup atau kerangka berpikir seseorang.

Keempat, pluralisme agama bukanlah sinkretisme, yakni menciptakan agama baru dengan memadukan unsur-unsur tertentu ajaran agama ke sebagian ajaran atau keseluruhan ajaran agama lain.

Semangat Torang Samua Basudara

Dari pemahaman dan uraian pluralitas itulah semangat Torang Samua Basudara diturunkan. Menurut Mangindaan, Torang Basudara diderivasi karena agama-agama utama Indonesia kini (terutama Islam, Kristen dan Yahudi) berasal dari satu keluarga Abraham. Menurut saya kerinduan lama untuk memberikan uraian detil terhadap praksis hidup Torang Samua Basudara a la masyarakat Manado sudah saya mulai dan bisa dilanjutkan pihak-pihak lain. Uraian ini akan sangat terbuka untuk disempurnakan oleh mereka-mereka yang berkepentingan dengan upaya untuk memberi uraian yang ilmiah dan komprehensif atas falsafah Torang Samua Basudara yang intinya adalah mengingatkan asal persaudaraan agama-agama besar Semitik di dalam Bapa Abraham.

Secara kebetulan juga Karen Armstrong (bukunya Sejarah Tuhan, Missan 2001) berhasil sekilas membeberkan hubungan (meski agak jauh) antara agama-agama di Timur Tengah dengan agama-agama (Dharma) di India. Karena itu falsafah Torang Samua Basudara tidak sebatas relevan untuk agama-agama Semitik Abrahamik tetapi juga meluas untuk agama-agama Hindia dan agama-agama lain. Dan tidak sebatas omong, tetapi terwujud dalam tindakan.

Berkaitan dengan itu, sudah saatnya di Manado dibuka sebuah pusat kajian agama-agama Abrahamic. Hanya dengan demikian, orang Manado bisa terus menerus bisa memberikan pertanggungjawaban kebudayaan untuk praksis kehidupannya yang khas berkaitan dengan semboyan Torang Samua Basudara.

Tapi rasanya ini semua baru sebuah mimpi saja. Maklumlah karena untuk mengurus masalah kecil saja semacam masalah sampah dan korupsi saja ternyata tidak becus. Tapi, biarlah sekurangnya saya punya mimpi. I have a dream, begitu Marthin Luther King.///Pitres Sombowadile*