Oleh : Iverdixon Tinungki
Peta genetika yang kini terbuka luas, setidaknya memberikan cukup sinar atas tabir rahasia sebuah pertanyaan besar: Dari manakah nenek moyang kita berasal? Dari manakah kita datang? Meskipun masih menyisakan sejumlah teka-teki, tapi dibanding masa sebelumnya, dunia antropologi saat ini melakukan lompatan besar dalam menyusun peta genetis yang menjelaskan mata rantai persebaran umat manusia di suluruh bumi. Penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah ini mulai menggeser keyakinan klan-klan umat manusia diberbagai tempat akan cerita ke-asal-an manusia yang bersumber dari mite dan legenda.
Seperti klan lain di Indonesia, orang Sangihe Talaud sebagai sebuah indigenous, dalam kurun ribuan tahun hidup dalam mite dan legenda tersendiri, yang pada akhirnya melahirkan system nilai dalam kehidupan mereka. Tapi apakah dengan demikian membedakan ke-asal-an etnik ini dengan suku bangsa lain di jazirah Nusantara? Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangihe Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Milanesia yang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM. Kemudian disusul pada masa yang lebih muda sekitar 3.000 tahun SM dari Formosa yang berbahasa Austronesia. Penemuan terbaru yang lebih mengejutkan yang berhasil mematahkan terori linguistic di atas, adalah adanya kemungkinan nenek moyang suluruh klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, dengan ciri gen dari masa yang lebih tua sebelum migrasi Formosa.
Agak berbeda dengan sejumlah anasir antropologi kebudayaan, hasil peneletian gen manusia saat ini memberikan cerita tentang pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang berekspansi ke Eurasia. Perhitungan para paleoantropolog dan pakar genetika menyebutkan homo sapiens ini berasal dari 200.000 tahun silam dan berhasil mengembangkan keturunan sebanyak enam setengah miliar jiwa. Hal ini dibuktikan dengan pemetaan gen yang menunjukkan 99,9 persen kesamaan kode-kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia. Sisanya 1 persen hanya menegaskan perbedaan individual seperti warna mata atau resiko penyakit. Perjalanan panjang itu pun telah membawa sejumlah perubahan lain seperti mutasi neurologist yang menciptakan perbedaan bahasa lisan dan juga sebuah perubahan wajah dan ras baru.
Lalu, benarkah setiap manusia yang pernah hidup di bumi berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup pada 150.000 tahun silam di Afrika? Pertanyaan ini masih membuahkan kegelisahan para ahli untuk mengungkap jawaban yang memuaskan. Yang pasti sejumlah artefak masa lalu, menunjukkan adanya migrasi umat manusia dari suatu tempat ketempat yang lain. Dan setiap klan atau etnik telah hidup dalam milenia pada sebuah tempat hingga mengalami sujumlah mutasi budaya dan tunduk pada masing-masing dewa serta melahirkan mite-mite baru dalam kehidupan kelompok masing-masing.
Bila masuk lebih dalam menelisik aneka budaya lisan di masyarakat Sangihe Talaud, kita dipertemu dengan cerita jejak nenek moyang lebih unik dan menarik seperti pengakuan adanya para pendatang (homo sapiens) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Ampuang (manusia biasa). Selain para pendatang ini juga ada dua jenis manusia lain yang telah ada di sana dari masa sebelumnya yaitu Ansuang (raksasa) dan Apapuhang (manusia kerdil). Untuk dua jenis manusia terakhir itu, hingga kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Rujukkan terhadap keberadaan mereka masih terbatas pada kepercayaan adanya beberapa artefak seperti bekas kaki dalam ukuran besar yang terpahat di bebatuan yang bisa saja tercipta akibat fenomena alam. Apakah mereka merupakan penyimpangan genetika pada masa itu kemudian diabadikan dalam sejumlah mite dan legenda? Ini masih sebuah pertanyaan.
Sejumlah legenda pun ikut memperkaya kesimpangsiuran jejak asal muasal manusia Sangihe Talaud. Dari kepercayaan turun-temurun. Pulau-pulau Sangihe Talaud konon tercipta dari air mata seorang bidadari. Dari bidadari inilah manusia Sangihe dilahirkan. Ini sebabnya nama Sangihe itu berasal dari kata Sangi (tagis}. Di pulau-pulaud Talaud, penyebutan Porodisa untuk kawasan itu justru dikaitkan dengan anggapan dimana manusia Talaud adalah keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Padahal kata Porodisa menurut teori linguistic justru merupakan mutasi neurologist bahasa lisan dari bahasa Spanyol: Paradiso (surga). Kata Sangi di Sangihe sendiri merupakan mutasi dari kata Melayu: tangis. Mite lainnya bercerita tentang manusia yang berasal dari telur buaya. Ada juga yang beranggapan terjadi dari evolusi pelepah pisang secara mistis menjadi manusia.
Kepercayaan terhadap dewa dewi dan system nilai budaya orang Sangihe Talaud ini menujukan adanya persinggung dengan system nilai di tempat lain seperti teori keseimbangan alam, memiliki kesamaan dengan teori Fun She dan Esho Funi dalam pemahaman Hindu kuno. Kepercayaan “Manna” atau kepercayaan terhadap adanya kekuatan mekanis dalam alam yang mempengaruhi peri kehidupan manusia, bukan tidak mungkin merupakan interpretasi lain akibat mutasi dari pemahaman kaum semitik akan Tuhan. Demikian pula dengan budaya ritual persembahan kurban yang mengunakan symbol darah Manusia yang di pukul sampai mati.
Manusia Sangihe Talaud sejak masa purba, juga mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata,Ruata”, juga dinamakan ”Ghenggona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa daratan). Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.
Kendati begitu, eksplorasi yang lebih ilmiah terhadap asal usul manusia Sangihe Talaud, yang telah ada saat ini baru sebatas dari masa abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951.
Gumansalangi (Upung Dellu) sebagai Kulano tertua kerajaan Tabukan atau Tampunglawo, yang bermukim di gunung Sahendarumang bersama Ondoasa (Sangiang Killa), istrinya, adalah anak dari Humansandulage bersama istrinya Tendensehiwu, yang mendarat di Bowontehu pada awal mula migrasi Bowontehu, Desember 1399. Mereka melakukan pelayaran dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanau-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kerajaan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.
Sementara Bulango bermigrasi dari Bowontehu pada 1570 menuju Tagulandang dimana anaknya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang di pulau itu bersama para pengikutnya.
Bulango adalah saudara dari Lokongbanua II, raja pertama kerajaan Siau. Keduanya adalah anak dari raja Mokodoludut dengan istrinya Abunia dari kerajaan Bowontehu. Sedangkan Raja Bolaang Mangondow pertama, Yayubongkai, adalah juga putra Mokoduludut. Ini sebabnya ada kesamaan budaya dan marga antara orang Bolaang Mangondow dan orang Sangihe Talaud. Perubahan budaya di kedua etnik ini lebih dipengaruhi oleh alkulturasi pasca masuknya agama-agama semitik, (Kristen-Islam) di kedua kawasan etnik itu.
Untuk wilayah Kauhis-Manganitu, semuanya berasal dari keturunan Gumansalangi hingga keturunannya bernama Tolosang pada 1600 mendirikan kerajaan Kauhis- Manganitu. Demikian pula di Tahuna pada 1580 Tatehe Woba mendirikan kerajaan di sana, juga di Kendahe yang didirikan oleh Mehegelangi. Raja Kendahe ini anak dari Syarif Mansur dan istrinya Taupanglawo.
Sebelum periode migrasi Bowontehu (Manado Tua) pada 1399, kawasan itu telah dihuni manusia selama enam generasi. Tapi hal terpenting dalam hubungan kekeluargaan oranga Sangihe Talaud dan Bolang Mangondow, dipercaya karena berasal dari Migrasi Bowontehu.
Rabu, 17 Februari 2010
KASUS ELLY LASUT DAN LELANG IKAN
Saya buta dengan dinamika politik mutakhir di Sulawesi Utara. Hari-hari ini, menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) provinsi, berita para kandidat cukup meraja di halaman media massa di Sulawesi Utara. Dengan maksud melepas kangen dengan kampung saya, hari ini saya baca Tribun Manado, harian yang dikelola kelompok Kompas-Gramedia, lewat berita online. Di harian itu, berita Elly Lasut, salah satu kandidat dan kini pejabat bupati Kepulauan Talaud, menjadi berita utama. Elly telah jadi tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi oleh Kejati Sulut.
Dugaan korupsi Elly bukan kabar baru. Awal 2007, saya sempat bercakap-cakap dan bertukar cerita dengan beberapa pegiat anti-korupsi di Sulawesi Utara. Salah satu dari mereka punya bukti dugaan korupsi tersebut. Setidaknya begitu yang ia utarakan.
Di daerah, seperti di Sulawesi Utara, membongkar korupsi relatif mudah dilakukan. Terdapat banyak orang yang bersedia memasok data-data dugaan korupsi, terutama mereka yang merasa dirugikan oleh pelaku, macam kontraktor yang kalah proyek, atau birokrat yang tak jadi diangkat. Data bukan soal. Begitu juga Whistle blower. Apa yang kurang? Barangkali Sulawesi Utara masih terus mencari pegiat anti-korupsi militan dan punya integritas. Ini masih begitu kurang, kalau bukan belum ada.
Data adalah satu syarat penting, tapi jauh dari syarat cukup. Dengan data, seorang pegiat anti-korupsi bisa berubah menjadi tukang peras para pejabat. Dengan data, ia juga bisa baku tawar untuk sejumlah privilese pribadi -- minta uang, minta proyek, minta makan, minta posisi. Bekerja dalam sebuah kelompok atau jejaring yang demokratis, menjadi syarat utama guna menekan kemungkinan-kemungkinan di atas. Kalau tidak, beragam kompromi sangat mungkin jadi akhir cerita. Lebih dari itu, gerakan anti-korupsi dapat berhasil dan punya daya tonjok, tentu, andaikata ia disokong masyarakat secara luas dan masal. Dan dilancarkan penuh perhitungan. Tidak nekad.
Catatan lain barangkali adalah kelemahan analitik terkait korupsi. Analisa korupsi, termasuk dari para pakar, rasanya belum cukup membumi. Di tempat pertama, ini bukan karena sebagian pakar itu masih dapat dibeli, baik tubuh atau jiwa mereka, sehingga mereka berkepentingan untuk membangun analisa kurang jujur. Melainkan, karena korupsi di daerah punya kerumitan yang khas. Antara lain, social proximity yang pendek. Dengan enteng, Torang dapat memaki Neoliberalisme yang abstrak. Torang dapat pula mengumpat dana talangan Century yang heboh di Jawa. Tapi, Torang harus putar otak saat berhadapmuka dengan Om, Tante, Saudara, atau anggota Majelis Jemaat gereja sendiri, yang korupsi.
Terakhir, satu sketsa kasar terkait kelembagaan dan dinamika aktor. Saat membaca berita Tribun Manado, saya berpikir begini. Mungkin, kasus Elly sepatutnya dilihat sebagai sebuah proses tawar-menawar belaka. Di mana Kejati boleh jadi sedang memainkan peran titipan (pada aras institusi) dan peran sendiri (pada aras kepentingan individu), secara serempak. Dengan begitu, barangkali kasus itu tak beda jauh dengan proses yang dapat kita amati di pasar lelang ikan di Manado. Penjual dan pembeli senang, ikan pun pindah tangan.
Bagaimanapun juga ini masa menjelang Pilkada, ketika mesin-mesin pencitraan membuat kita sulit membaui amis ikan, dan cepat tenggelam dalam fantasi kenikmatan ikan bakar. Tapi, tamang, soal pokok mungkin bukan di situ.
Sulawesi Utara sedang paceklik pegiat anti-korupsi yang militan. Semilitan Robert Wolter Monginsidi, tuama dari kampung ikan itu.***Sonny Mumbunan
Dugaan korupsi Elly bukan kabar baru. Awal 2007, saya sempat bercakap-cakap dan bertukar cerita dengan beberapa pegiat anti-korupsi di Sulawesi Utara. Salah satu dari mereka punya bukti dugaan korupsi tersebut. Setidaknya begitu yang ia utarakan.
Di daerah, seperti di Sulawesi Utara, membongkar korupsi relatif mudah dilakukan. Terdapat banyak orang yang bersedia memasok data-data dugaan korupsi, terutama mereka yang merasa dirugikan oleh pelaku, macam kontraktor yang kalah proyek, atau birokrat yang tak jadi diangkat. Data bukan soal. Begitu juga Whistle blower. Apa yang kurang? Barangkali Sulawesi Utara masih terus mencari pegiat anti-korupsi militan dan punya integritas. Ini masih begitu kurang, kalau bukan belum ada.
Data adalah satu syarat penting, tapi jauh dari syarat cukup. Dengan data, seorang pegiat anti-korupsi bisa berubah menjadi tukang peras para pejabat. Dengan data, ia juga bisa baku tawar untuk sejumlah privilese pribadi -- minta uang, minta proyek, minta makan, minta posisi. Bekerja dalam sebuah kelompok atau jejaring yang demokratis, menjadi syarat utama guna menekan kemungkinan-kemungkinan di atas. Kalau tidak, beragam kompromi sangat mungkin jadi akhir cerita. Lebih dari itu, gerakan anti-korupsi dapat berhasil dan punya daya tonjok, tentu, andaikata ia disokong masyarakat secara luas dan masal. Dan dilancarkan penuh perhitungan. Tidak nekad.
Catatan lain barangkali adalah kelemahan analitik terkait korupsi. Analisa korupsi, termasuk dari para pakar, rasanya belum cukup membumi. Di tempat pertama, ini bukan karena sebagian pakar itu masih dapat dibeli, baik tubuh atau jiwa mereka, sehingga mereka berkepentingan untuk membangun analisa kurang jujur. Melainkan, karena korupsi di daerah punya kerumitan yang khas. Antara lain, social proximity yang pendek. Dengan enteng, Torang dapat memaki Neoliberalisme yang abstrak. Torang dapat pula mengumpat dana talangan Century yang heboh di Jawa. Tapi, Torang harus putar otak saat berhadapmuka dengan Om, Tante, Saudara, atau anggota Majelis Jemaat gereja sendiri, yang korupsi.
Terakhir, satu sketsa kasar terkait kelembagaan dan dinamika aktor. Saat membaca berita Tribun Manado, saya berpikir begini. Mungkin, kasus Elly sepatutnya dilihat sebagai sebuah proses tawar-menawar belaka. Di mana Kejati boleh jadi sedang memainkan peran titipan (pada aras institusi) dan peran sendiri (pada aras kepentingan individu), secara serempak. Dengan begitu, barangkali kasus itu tak beda jauh dengan proses yang dapat kita amati di pasar lelang ikan di Manado. Penjual dan pembeli senang, ikan pun pindah tangan.
Bagaimanapun juga ini masa menjelang Pilkada, ketika mesin-mesin pencitraan membuat kita sulit membaui amis ikan, dan cepat tenggelam dalam fantasi kenikmatan ikan bakar. Tapi, tamang, soal pokok mungkin bukan di situ.
Sulawesi Utara sedang paceklik pegiat anti-korupsi yang militan. Semilitan Robert Wolter Monginsidi, tuama dari kampung ikan itu.***Sonny Mumbunan
Jumat, 12 Februari 2010
Bingung karena Mafia Berkeley? Sekali lagi! (Tanggapan untuk Ari Perdana)
M. Sadli adalah seorang sosialis. Saat nafas kekuasaan Sukarno di ujung leher, Sadli membaca dan menekuni karya Oskar Lange. Lange adalah sosok utama dalam debat Planning Controversy tahun 1930-an, salah satu debat paling penting dalam sejarah pemikiran ekonomi modern. Lange, bersama Abba Lerner, mewakili kelompok ekonom yang membela keutamaan perencanaan dalam perekonomian. Dalam hemat mereka, perencanaan terpusat dapat menggantikan kinerja mekanisme pasar.
Lawan debat mereka adalah Friedrich von Hayek dan Ludwig von Mises, dua ekonom liberal yang menyangkal bahwa sistem terpusat dapat mengganti keberhasilan pasar bebas. Debat sangat serius itu akhirnya dimenangkan kubu Lange, saat dunia masih dipenuhi bilur-bilur Depresi Ekonomi 1930 yang menggoyang sendi dan kepercayaan atas Kapitalisme, dan alternatif penjelasan ilmu ekonomi yang tersisa dan mengemuka adalah Keynesianisme dan Marxisme.
(Sisa debat itu masih terasa jauh sampai kini. Belum lama berselang, Hadiah Nobel Ekonomi 2007 diberikan untuk sumbangan ilmu ekonomi dalam memahami proses perencanaan perilaku ekonomi – apa yang disebut Mechanism Design – kendatipun Tembok Berlin sudah lama roboh dan banyak negara di dunia telah berpaling pada keutamaan mekanisme pasar. Termasuk Indonesia.)
Dengan membaca Lange, Sadli berharap dapat mencangkok ilmu ekonomi modern dengan prinsip-prinsip sosialis. Pikiran Sadli lebih dekat dengan gagasan “Fabian and Dutch socialist circles”, tulis ekonom Hal Hill dan Thee Kian Wee, dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies, mengenang Sadli yang berpulang 8 Januari 2008 lalu. Model ekonomi terencana sosialis moderat ala komunitas Fabian di Inggris, dan dipraktekkan di India, cukup banyak dirujuk pada dekade 1950-an. Sebelum belajar ilmu ekonomi di University of California, Berkeley, Sadli menjadi asisten peneliti dari Sumitro Djojohadikusumo, sosok yang mengirim banyak ekonom untuk belajar di Amerika Serikat. Sumitro menjadi panutan Sadli. Sumitro sendiri adalah tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Banyak orang mengenal Sadli juga sebagai salah satu tokoh terpenting dari "Mafia Berkeley", sebuah komunitas teknokrat alumnus Berkeley. Komunitas ini tak berbentuk pasti tapi oleh sebagian kalangan dianggap nyata dan berperan penting dalam khasanah pemikiran dan politik kebijakan di Indonesia. Sebagai bagian kekuasaan Orde Baru, mereka terlibat intens dalam perencanaan, perumusan, dan pelaksanaan kebijakan ekonomi yang relatif pro-pasar dan liberal. Entah sebagai menteri atau sebagai konsultan kebijakan.
Sosialis sekaligus pro-pasar dan liberal?
Ini cukup membingungkan memang. Kebingungan serupa nampaknya juga dialami rekan saya, ekonom Ari Perdana (AP), yang menulis dengan menarik perihal "Mafia Berkeley". Kebingungan tersebut terkait sekurangnya dua hal yang saling berkaitan. Kebingungan karena tipologi keliru atas paradigma ekonomi dan kebingungan lantaran memperlakukan gagasan sebagai konsep yang statik dan a-historis.
"Mafia Berkeley" adalah istilah yang dipopulerkan David Ransom, peneliti dan intelektual “kiri” yang pernah mengajar di London School of Economics. AP tidak membaca karya Ransom yang penuh detail terkait proses di belakang layar bagaimana sebuah komunitas teknokrat dipersiapkan dan direncanakan untuk sebuah rejim kebijakan dan tata ekonomi baru. (Praktik intervensionis macam ini lazim dilakukan sampai saat ini, entah terkait desentralisasi Indonesia, pencabutan subsidi publik, sistem jaringan sosial nasional, atau skema pasar karbon untuk perubahan iklim. Gitte Heij, misalnya, dalam salah satu edisi Bulletin of Indonesian Economic Studies tahun 2001, mengulas peran panjang Harvard Institute for International Development dalam mendorong reformasi pajak pendapatan Indonesia).
Paparan, analisa dan kesimpulan Ransom mungkin tidak sepenuhnya akurat, tapi mengabaikan detail yang disuguhkan Ransom bisa berakibat cukup serius: Ada dinamika kelembagaan mikro yang khas dan partikular yang tidak dapat dijelaskan dengan kacamata kelembagaan makro.
AP memilih kacamata makro. Sebagai contoh, Universitas Berkeley ia masukan dalam kelompok universitas kubu air asin (saltwater) yang cenderung Keynesian dan pro-negara, berhadaphadap dengan universitas kubu air tawar (freshwater) seperti Chicago yang neoklasik dan pro-pasar. Cacamata itu agak terbatas untuk memahami dinamika sebuah program studi Indonesia di Universitas Barkeley yang dirancang untuk memasok ekonom teknokrat pro-pasar (relatif atas posisi Sukarno), seperti digambarkan dan diyakini Ransom, atau Rizal Ramli atau Kwik Kian Gie.
Tapi, bukankah Sadli seorang sosialis? Di sini kita masuk pada kebingungan pertama, kebingungan tipologi paradigma pemikiran ekonomi. AP menggunakan tipologi Keynesianisme dan Neoklasik. Dengan tipologi macam itu, ia misalnya membandingkan kubu “pendukung” peran negara dan kubu “penentang” peran pasar. Dengan tipologi itu, perihal "Mafia Berkeley" tampak jadi seolah membingungkan. Di satu sisi, Sadli mendukung Bulog, inflasi terkontrol, dan sebagainya, yang notabene mendukung campur tangan negara. Di sisi lain, Sadli dan kelompoknya dituding "neoliberal" yang menafikan negara.
Tipologi yang lebih akurat secara historis barangkali sepatutnya adalah Marxisme, Keynesianisme dan Neoklasik, untuk menyebut kanon-kanon terpenting kala itu. Saat para ekonom menimba ilmu jadi teknokrat di Barkeley awal 1960-an, dan ketika Ransom memungut istilah Mafia Berkeley, tipologi ini yang berlaku. Di bawah cuaca perang dingin, Marxisme adalah satu kubu pemikiran yang penting. Dan karena ia begitu berbeda dengan Keynesianisme dan Neoklasik, dua pemikiran yang disebut belakangan ini kerapkali dikelompokkan sebagai satu kubu. Marxisme berhadaphadap dengan Keynesianisme+Neoklasik. Alasannya, antara lain, walaupun berbeda dalam katakanlah cara mereka memandang penyebab krisis ekonomi serta peran negara dan pasar, baik Keynesianisme dan Neoklasik mendukung Kapitalisme. Sedang Marxisme adalah nyaris sebuah kebalikan dari itu.
Dengan tipologi itu, Sadli atau Sumitro yang sosialis berada dalam kubu yang berbeda dengan Sukarno. “All those men can say to me is ‘Schumpeter and Keynes.’ When I was young I read Marx,” ujar Bung Karno, mengeluh, seusai menghadiri sebuah acara dengan para konsultan dari Amerika Serikat, seperti dikutip Ransom. Joseph Schumpeter adalah ekonom penting yang sangat membenci Sosialisme, tapi akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sosialisme adalah niscaya. Schumpeter bukan seorang Marxis.
Lantas apa kaitannya dengan kebingungan kedua, yaitu konsep gagasan yang statik dan a-historis?
Dalam tipologi itu, Sadli dan Sumitro berada di tengah. Sejalan waktu, saat Marxisme melemah, Sadli bergeser relatif ke “kanan”. Lebih lagi, saat ia menyaksikan Sosialisme ala Indonesia (baca: ala Sukarno) yang berakhir bangkrut. AP dan saya, juga sejumlah besar generasi baru ekonom Indonesia, tumbuh dan besar tanpa eksposur memadai pada ilmu ekonomi dalam terang Marx. Generasi ini hidup, berdiskusi dan berdebat dalam tipologi Keynesianisme versus Neoklasik, sejak Marxisme dilarang Suharto usai mengambil alih kekuasaan dari Sukarno. Tipologi a-historis yang dipakai untuk melihat "Mafia Barkeley" dulu dan sekarang. (Larangan itu punya dampak cukup serius dalam proses berpengetahuan para intelektual di tanah air. Contoh adalah pendapat ganjil ini: Anda bukan seorang "neoliberal" kalau punya kursi butut di rumah. Ini mirip bilang, Marx bukan seorang revolusioner kalau gemar minum anggur). Dilihat secara statik, mungkin Sadli saat itu lebih atau tak kurang "revolusioner" ketimbang Rizal Ramli dan Kwik Kian Gie kala kini.
Dalam lansekap tipologi yang lebih lebar, para pembaca tulisan-tulisan terakhir Sadli bakal bisa menangkap, kendatipun ia mendukung peran negara pada tingkat tertentu, di tempat pertama ia adalah penganjur privatisasi, deregulasi dan liberalisasi pasar. Secara umum, epistemik Sadli sama halnya seperti Boediono dan Sri Mulyani.
Dalam lansekap tipologi yang lebih sempit, generasi ekonom seperti AP dan saya mungkin akan lebih cepat sampai pada kesimpulan bahwa ideologi tidak lagi terlalu relevan saat memperbincangkan politik kebijakan. Bukankah kompensasi melalui BLT 100 ribu perak setiap bulan bagi orang miskin telah diberikan negara SBY ketika subsidi BBM dicabut dan welfare level dianggap konstan (tanpa perlu menyoal motif ekonomi-politik di balik liberalisasi sektor energi kita)? Bukankah opportunity cost menalangi Bank Century lebih besar ketimbang tidak memberi talangan (tanpa perlu menyoal krisis berkala industri keuangan dan sektor spekulatif serta keputusan mobilisasi sumberdaya publik secara teknokratik)? Ini mungkin pertanyaan-pertanyaan standar dan paling kritis yang mampu diajukan generasi ekonom seperti kami.
Jaman terus berganti. Dan gagasan adalah anak jaman. Gagasan punya konteks historis, seperti ditekankan AP tapi tidak cukup diindahkan dalam tulisan tersebut. Gagasan ekonomi pembangunan para ekonom Keynesian “moderat”, seperti Harrod dan Domar, pelan-pelan ditinggalkan di negara berkembang. Begitu juga perubahan yang dialami gagasan Sosial-demokrasi dan negara kesejahteraan Keynesian di negara-negara Eropah. Dulu Bank Dunia sempat mendorong peran negara; Bank Dunia kini penganjur peran pasar.
Kelak ada satu masa, saat mendukung pencabutan subsidi publik untuk rakyat dan menentang kenaikan upah buruh, sejumlah ekonom menjauh dari Keynes. Pada masa yang lain, sejumlah ekonom tiba-tiba jadi pembela Keynes yang cukup militan ketika mendukung subsidi publik untuk bankir guna mencegah krisis sistemik.
Wajah jelek Karl Marx yang malas bercukur itu saja telah mulai menghiasi sampul muka dan jadi bahasan utama media-media besar pendukung Kapitalisme, seperti The Economist dan Wall Street Journal, manakala ekonomi dunia didera krisis. Seperti hari-hari ini. *** Sonny Mumbunan. 2010.
Lawan debat mereka adalah Friedrich von Hayek dan Ludwig von Mises, dua ekonom liberal yang menyangkal bahwa sistem terpusat dapat mengganti keberhasilan pasar bebas. Debat sangat serius itu akhirnya dimenangkan kubu Lange, saat dunia masih dipenuhi bilur-bilur Depresi Ekonomi 1930 yang menggoyang sendi dan kepercayaan atas Kapitalisme, dan alternatif penjelasan ilmu ekonomi yang tersisa dan mengemuka adalah Keynesianisme dan Marxisme.
(Sisa debat itu masih terasa jauh sampai kini. Belum lama berselang, Hadiah Nobel Ekonomi 2007 diberikan untuk sumbangan ilmu ekonomi dalam memahami proses perencanaan perilaku ekonomi – apa yang disebut Mechanism Design – kendatipun Tembok Berlin sudah lama roboh dan banyak negara di dunia telah berpaling pada keutamaan mekanisme pasar. Termasuk Indonesia.)
Dengan membaca Lange, Sadli berharap dapat mencangkok ilmu ekonomi modern dengan prinsip-prinsip sosialis. Pikiran Sadli lebih dekat dengan gagasan “Fabian and Dutch socialist circles”, tulis ekonom Hal Hill dan Thee Kian Wee, dalam Bulletin of Indonesian Economic Studies, mengenang Sadli yang berpulang 8 Januari 2008 lalu. Model ekonomi terencana sosialis moderat ala komunitas Fabian di Inggris, dan dipraktekkan di India, cukup banyak dirujuk pada dekade 1950-an. Sebelum belajar ilmu ekonomi di University of California, Berkeley, Sadli menjadi asisten peneliti dari Sumitro Djojohadikusumo, sosok yang mengirim banyak ekonom untuk belajar di Amerika Serikat. Sumitro menjadi panutan Sadli. Sumitro sendiri adalah tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Banyak orang mengenal Sadli juga sebagai salah satu tokoh terpenting dari "Mafia Berkeley", sebuah komunitas teknokrat alumnus Berkeley. Komunitas ini tak berbentuk pasti tapi oleh sebagian kalangan dianggap nyata dan berperan penting dalam khasanah pemikiran dan politik kebijakan di Indonesia. Sebagai bagian kekuasaan Orde Baru, mereka terlibat intens dalam perencanaan, perumusan, dan pelaksanaan kebijakan ekonomi yang relatif pro-pasar dan liberal. Entah sebagai menteri atau sebagai konsultan kebijakan.
Sosialis sekaligus pro-pasar dan liberal?
Ini cukup membingungkan memang. Kebingungan serupa nampaknya juga dialami rekan saya, ekonom Ari Perdana (AP), yang menulis dengan menarik perihal "Mafia Berkeley". Kebingungan tersebut terkait sekurangnya dua hal yang saling berkaitan. Kebingungan karena tipologi keliru atas paradigma ekonomi dan kebingungan lantaran memperlakukan gagasan sebagai konsep yang statik dan a-historis.
"Mafia Berkeley" adalah istilah yang dipopulerkan David Ransom, peneliti dan intelektual “kiri” yang pernah mengajar di London School of Economics. AP tidak membaca karya Ransom yang penuh detail terkait proses di belakang layar bagaimana sebuah komunitas teknokrat dipersiapkan dan direncanakan untuk sebuah rejim kebijakan dan tata ekonomi baru. (Praktik intervensionis macam ini lazim dilakukan sampai saat ini, entah terkait desentralisasi Indonesia, pencabutan subsidi publik, sistem jaringan sosial nasional, atau skema pasar karbon untuk perubahan iklim. Gitte Heij, misalnya, dalam salah satu edisi Bulletin of Indonesian Economic Studies tahun 2001, mengulas peran panjang Harvard Institute for International Development dalam mendorong reformasi pajak pendapatan Indonesia).
Paparan, analisa dan kesimpulan Ransom mungkin tidak sepenuhnya akurat, tapi mengabaikan detail yang disuguhkan Ransom bisa berakibat cukup serius: Ada dinamika kelembagaan mikro yang khas dan partikular yang tidak dapat dijelaskan dengan kacamata kelembagaan makro.
AP memilih kacamata makro. Sebagai contoh, Universitas Berkeley ia masukan dalam kelompok universitas kubu air asin (saltwater) yang cenderung Keynesian dan pro-negara, berhadaphadap dengan universitas kubu air tawar (freshwater) seperti Chicago yang neoklasik dan pro-pasar. Cacamata itu agak terbatas untuk memahami dinamika sebuah program studi Indonesia di Universitas Barkeley yang dirancang untuk memasok ekonom teknokrat pro-pasar (relatif atas posisi Sukarno), seperti digambarkan dan diyakini Ransom, atau Rizal Ramli atau Kwik Kian Gie.
Tapi, bukankah Sadli seorang sosialis? Di sini kita masuk pada kebingungan pertama, kebingungan tipologi paradigma pemikiran ekonomi. AP menggunakan tipologi Keynesianisme dan Neoklasik. Dengan tipologi macam itu, ia misalnya membandingkan kubu “pendukung” peran negara dan kubu “penentang” peran pasar. Dengan tipologi itu, perihal "Mafia Berkeley" tampak jadi seolah membingungkan. Di satu sisi, Sadli mendukung Bulog, inflasi terkontrol, dan sebagainya, yang notabene mendukung campur tangan negara. Di sisi lain, Sadli dan kelompoknya dituding "neoliberal" yang menafikan negara.
Tipologi yang lebih akurat secara historis barangkali sepatutnya adalah Marxisme, Keynesianisme dan Neoklasik, untuk menyebut kanon-kanon terpenting kala itu. Saat para ekonom menimba ilmu jadi teknokrat di Barkeley awal 1960-an, dan ketika Ransom memungut istilah Mafia Berkeley, tipologi ini yang berlaku. Di bawah cuaca perang dingin, Marxisme adalah satu kubu pemikiran yang penting. Dan karena ia begitu berbeda dengan Keynesianisme dan Neoklasik, dua pemikiran yang disebut belakangan ini kerapkali dikelompokkan sebagai satu kubu. Marxisme berhadaphadap dengan Keynesianisme+Neoklasik. Alasannya, antara lain, walaupun berbeda dalam katakanlah cara mereka memandang penyebab krisis ekonomi serta peran negara dan pasar, baik Keynesianisme dan Neoklasik mendukung Kapitalisme. Sedang Marxisme adalah nyaris sebuah kebalikan dari itu.
Dengan tipologi itu, Sadli atau Sumitro yang sosialis berada dalam kubu yang berbeda dengan Sukarno. “All those men can say to me is ‘Schumpeter and Keynes.’ When I was young I read Marx,” ujar Bung Karno, mengeluh, seusai menghadiri sebuah acara dengan para konsultan dari Amerika Serikat, seperti dikutip Ransom. Joseph Schumpeter adalah ekonom penting yang sangat membenci Sosialisme, tapi akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sosialisme adalah niscaya. Schumpeter bukan seorang Marxis.
Lantas apa kaitannya dengan kebingungan kedua, yaitu konsep gagasan yang statik dan a-historis?
Dalam tipologi itu, Sadli dan Sumitro berada di tengah. Sejalan waktu, saat Marxisme melemah, Sadli bergeser relatif ke “kanan”. Lebih lagi, saat ia menyaksikan Sosialisme ala Indonesia (baca: ala Sukarno) yang berakhir bangkrut. AP dan saya, juga sejumlah besar generasi baru ekonom Indonesia, tumbuh dan besar tanpa eksposur memadai pada ilmu ekonomi dalam terang Marx. Generasi ini hidup, berdiskusi dan berdebat dalam tipologi Keynesianisme versus Neoklasik, sejak Marxisme dilarang Suharto usai mengambil alih kekuasaan dari Sukarno. Tipologi a-historis yang dipakai untuk melihat "Mafia Barkeley" dulu dan sekarang. (Larangan itu punya dampak cukup serius dalam proses berpengetahuan para intelektual di tanah air. Contoh adalah pendapat ganjil ini: Anda bukan seorang "neoliberal" kalau punya kursi butut di rumah. Ini mirip bilang, Marx bukan seorang revolusioner kalau gemar minum anggur). Dilihat secara statik, mungkin Sadli saat itu lebih atau tak kurang "revolusioner" ketimbang Rizal Ramli dan Kwik Kian Gie kala kini.
Dalam lansekap tipologi yang lebih lebar, para pembaca tulisan-tulisan terakhir Sadli bakal bisa menangkap, kendatipun ia mendukung peran negara pada tingkat tertentu, di tempat pertama ia adalah penganjur privatisasi, deregulasi dan liberalisasi pasar. Secara umum, epistemik Sadli sama halnya seperti Boediono dan Sri Mulyani.
Dalam lansekap tipologi yang lebih sempit, generasi ekonom seperti AP dan saya mungkin akan lebih cepat sampai pada kesimpulan bahwa ideologi tidak lagi terlalu relevan saat memperbincangkan politik kebijakan. Bukankah kompensasi melalui BLT 100 ribu perak setiap bulan bagi orang miskin telah diberikan negara SBY ketika subsidi BBM dicabut dan welfare level dianggap konstan (tanpa perlu menyoal motif ekonomi-politik di balik liberalisasi sektor energi kita)? Bukankah opportunity cost menalangi Bank Century lebih besar ketimbang tidak memberi talangan (tanpa perlu menyoal krisis berkala industri keuangan dan sektor spekulatif serta keputusan mobilisasi sumberdaya publik secara teknokratik)? Ini mungkin pertanyaan-pertanyaan standar dan paling kritis yang mampu diajukan generasi ekonom seperti kami.
Jaman terus berganti. Dan gagasan adalah anak jaman. Gagasan punya konteks historis, seperti ditekankan AP tapi tidak cukup diindahkan dalam tulisan tersebut. Gagasan ekonomi pembangunan para ekonom Keynesian “moderat”, seperti Harrod dan Domar, pelan-pelan ditinggalkan di negara berkembang. Begitu juga perubahan yang dialami gagasan Sosial-demokrasi dan negara kesejahteraan Keynesian di negara-negara Eropah. Dulu Bank Dunia sempat mendorong peran negara; Bank Dunia kini penganjur peran pasar.
Kelak ada satu masa, saat mendukung pencabutan subsidi publik untuk rakyat dan menentang kenaikan upah buruh, sejumlah ekonom menjauh dari Keynes. Pada masa yang lain, sejumlah ekonom tiba-tiba jadi pembela Keynes yang cukup militan ketika mendukung subsidi publik untuk bankir guna mencegah krisis sistemik.
Wajah jelek Karl Marx yang malas bercukur itu saja telah mulai menghiasi sampul muka dan jadi bahasan utama media-media besar pendukung Kapitalisme, seperti The Economist dan Wall Street Journal, manakala ekonomi dunia didera krisis. Seperti hari-hari ini. *** Sonny Mumbunan. 2010.
GONG XI FAT CHOI
Masih cerah dalam ingatan generasi yang hidup sebelum tahun tujupuluhan tentang dikeluarkannya Inpres No. 14 tahun 1967 yang melarang segala bentuk kegiatan dan kebudayaan Tionghoa untuk ditampilkan di negeri ini. Dengan demikian maka Konghucu yang diyakini sebagai sebuah kepercayaan agama yang dianut oleh mayoritas suku Tionghoa ini juga tidak luput dari pengaruh inpres tersebut. Akan tetapi, meskipun merasa diperlakukan tidak adil karena mengalami diskriminasi, orang Tionghoa yang adalah pemeluk agama Konghucu ini tidak dapat berbuat apa-apa, tentu karena berbagai faktor penyebabnya. Akibatnya, lebih dari tiga puluh tahun masyarakat Tionghoa hanya bisa merayakan Imlek terbatas di rumah dan kalangan keluarganya saja. Sampai kemudian, diturunkannya Inpres No. 6 tahun 2000 mereka memperoleh kebebasan untuk menghirup udara segar dalam mengaktualisasikan keyakinannya. Hasil perjuangan untuk tegaknya demokratisasi dan pluralisme di Indonesia oleh mendiang alm KH. Abdurahman Wahid, telah berhasil membuka rongga untuk masyarakat suku Tionghoa menarik napas lega. Pasalnya, kini mereka dapat mengaktualisasikan imannya dalam bentuk budaya dan ritualitas lainnya secara bebas di negeri ini. Udara kebebasan yang didambakan selama lebih dari tiga puluh tahun ini (sampai terbitnya Inpres No. 6 tahun 2000), sekaligus membuktikan bahwa pemerintah dan tentunya masyarakat Indonesia saat itu dan saat sekarang telah memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk menjalankan ibadah menurut keyakinannya masing-masing. Dengan demikian, UUD 1945 pasal 29 ayat 2 tidak hanya menjadi slogan yang sering disuarakan oleh para politisi pada waktu pilkada atau pemilu untuk menarik simpati kaum beragama guna mencari dukungan politisnya. Melainkan telah menjadi kekuatan hukum yang melindungi segenap rakyat Indonesia dalam mengaktualisasikan imannya.
Beranjak dari perkembangan di atas ini saya ingin sekali memberikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia melalui beberapa buah pikiran berikut ini:
Pertama, agama adalah sebuah realitas sosial yang terus berkembang dan ditemukan dalam masyarakat kuno maupun modern. Fakta ini tidak dapat dibantah oleh siapapun tentang keberadaan agama pada masyarakat bumi.
Kedua, setiap agama sebagian besar memiliki tokoh pendiri, yang sangat berpengaruh bagi pengikut-pengikutnya, sejak agama ini ada hingga perkembangannya dikemudian hari. Oleh karena itu, para pendiri agama perlu mendapat penghargaan baik dari para pengikutnya sendiri maupun dalam tataran luas masyarakat agama lainnya. Karena mereka telah memberikan sumbangsi besar bagi kemaslahatan hidup manusia.
Ketiga, harus diakui bahwa setiap tokoh pendiri agama memiliki nilai-nilai spiritualitas dan kharismanya sendiri-sendiri yang menginspirasikan para pengikut-pengikutnya untuk menjadi manusia yang sesungguhnya dan memberi dorongan kuat untuk mereka membagikan keyakinan tersebut kepada orang lain, dengan maksud agar mereka pun dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Keempat, mereka Sidharta Gautama, Konfusius, Isa Almasih (Yesus Kristus), dan Muhammad telah memberikan landasan yang kokoh bagi manusia sejagad dalam hal moralitas, etika, kemanusiaan, sehingga hubungan baik antar sesama dapat terjalin secara harmonis.
Kelima, semua agama memiliki jiwa yang sama dalam hal menyebarkan doktrin agama yang diyakininya sebagai kebenaran yang akan membebaskan manusia dari dosa dan kehancuran akibat dosa. Itu sebabnya, agama akan terus bermisi dan terus melebar sesuai dengan semangat misinya. Disini diperlukan kebesaran hati dari setiap pengikutnya, agar terhindari dari sikap apriori terhadap keyakinan yang lain.
Kelima, perlu dibangun sebuah paradigma baru dalam kerangka NKRI dan semangat kesatuan dan persatuan bangsa di tengah realitas sosio kultural dan agama yang plurallistis ini agar terjalin persaudaraan yang kuat dibawah panji kasih ibu pertiwi. Perlu dibangun semangat pluralisme agama sebagaimana telah diperjuangkan oleh mendiang yang saya sebut dengan hormat alm KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur seorang pluralis, budayawan, politisi yang cerdas dan jenaka yang semasa Tuhan memberi kesempatan untuk beliau hidup dan berkarya di negeri tercinta ini.
Keenam, kita semua ingin menjadi lebih baik, itu pasti! Baik dengan Sang Pencipta, baik dengan sesama, baik juga dengan alam sekitar kita. Harmonis dengan Sang Pencipta, harmonis dengan sesama, harmonis juga dengan alam. Untuk mencapai hal tersebut teringat saya pada pesan Sang Guru yang berkata "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. .. dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri….” Lalu Ia melanjutkan "…Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Ketujuh, Saya berkeyakinan bila kita memiliki semangat mengasihi seperti yang diajarkan oleh Sang Guru di atas, atau ajaran moral yang diajarkan oleh pendiri agama yang lain maka kita akan bisa hidup berdampingan bersama secara damai, tanpa curiga, tanpa kekerasan dan tanpa diskriminasi. Aa Gim pernah berkata untuk memulai sesuatu yang baik “mulailah dari hal-hal yang kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang.” Niscaya!
Akhirnya, MAJULAH INDONESIAKU…….MAJULAH NEGERIKU, MAJULAH BANGSAKU…. untuk saudara-saudaraku kaum yang beragama KONGHUCU terimalah salamku GONG XI FAT CHOI.
(Catatan pendek untuk saudara-saudaraku kaum yang beragama KONGHUCU - Oleh: Maarjes Sasela) Jumat, jam 16:25
Beranjak dari perkembangan di atas ini saya ingin sekali memberikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia melalui beberapa buah pikiran berikut ini:
Pertama, agama adalah sebuah realitas sosial yang terus berkembang dan ditemukan dalam masyarakat kuno maupun modern. Fakta ini tidak dapat dibantah oleh siapapun tentang keberadaan agama pada masyarakat bumi.
Kedua, setiap agama sebagian besar memiliki tokoh pendiri, yang sangat berpengaruh bagi pengikut-pengikutnya, sejak agama ini ada hingga perkembangannya dikemudian hari. Oleh karena itu, para pendiri agama perlu mendapat penghargaan baik dari para pengikutnya sendiri maupun dalam tataran luas masyarakat agama lainnya. Karena mereka telah memberikan sumbangsi besar bagi kemaslahatan hidup manusia.
Ketiga, harus diakui bahwa setiap tokoh pendiri agama memiliki nilai-nilai spiritualitas dan kharismanya sendiri-sendiri yang menginspirasikan para pengikut-pengikutnya untuk menjadi manusia yang sesungguhnya dan memberi dorongan kuat untuk mereka membagikan keyakinan tersebut kepada orang lain, dengan maksud agar mereka pun dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Keempat, mereka Sidharta Gautama, Konfusius, Isa Almasih (Yesus Kristus), dan Muhammad telah memberikan landasan yang kokoh bagi manusia sejagad dalam hal moralitas, etika, kemanusiaan, sehingga hubungan baik antar sesama dapat terjalin secara harmonis.
Kelima, semua agama memiliki jiwa yang sama dalam hal menyebarkan doktrin agama yang diyakininya sebagai kebenaran yang akan membebaskan manusia dari dosa dan kehancuran akibat dosa. Itu sebabnya, agama akan terus bermisi dan terus melebar sesuai dengan semangat misinya. Disini diperlukan kebesaran hati dari setiap pengikutnya, agar terhindari dari sikap apriori terhadap keyakinan yang lain.
Kelima, perlu dibangun sebuah paradigma baru dalam kerangka NKRI dan semangat kesatuan dan persatuan bangsa di tengah realitas sosio kultural dan agama yang plurallistis ini agar terjalin persaudaraan yang kuat dibawah panji kasih ibu pertiwi. Perlu dibangun semangat pluralisme agama sebagaimana telah diperjuangkan oleh mendiang yang saya sebut dengan hormat alm KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur seorang pluralis, budayawan, politisi yang cerdas dan jenaka yang semasa Tuhan memberi kesempatan untuk beliau hidup dan berkarya di negeri tercinta ini.
Keenam, kita semua ingin menjadi lebih baik, itu pasti! Baik dengan Sang Pencipta, baik dengan sesama, baik juga dengan alam sekitar kita. Harmonis dengan Sang Pencipta, harmonis dengan sesama, harmonis juga dengan alam. Untuk mencapai hal tersebut teringat saya pada pesan Sang Guru yang berkata "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. .. dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri….” Lalu Ia melanjutkan "…Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Ketujuh, Saya berkeyakinan bila kita memiliki semangat mengasihi seperti yang diajarkan oleh Sang Guru di atas, atau ajaran moral yang diajarkan oleh pendiri agama yang lain maka kita akan bisa hidup berdampingan bersama secara damai, tanpa curiga, tanpa kekerasan dan tanpa diskriminasi. Aa Gim pernah berkata untuk memulai sesuatu yang baik “mulailah dari hal-hal yang kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang.” Niscaya!
Akhirnya, MAJULAH INDONESIAKU…….MAJULAH NEGERIKU, MAJULAH BANGSAKU…. untuk saudara-saudaraku kaum yang beragama KONGHUCU terimalah salamku GONG XI FAT CHOI.
Minggu, 07 Februari 2010
TINUTUAN: DARI MATA TURUN KE PERUT
KOTA Manado pernah ditahbiskan walikota Jimmy Rimba Rogi sebagai Kota Tinutuan. Sebagian warga menggumamkan kerisihan menerima perjulukan ini. Risih karena baru pertama kali kotanya diberi julukan secara formal mengacu pada nama makanan. Meski sebenarnya ini bukan trend baru, karena banyak kota sudah diberi perjulukan sesuai makanan khasnya, misalnya Yogya diberi julukan Kota Gudeg.
Mesti jujur disebut justru tinutuan telah lama dicandrakan dengan nama embel-embel Manado, karena di tingkat nasional makanan ini lebih dikenal dengan nama ‘bubur Manado’. Karena itu logikanya penetapan Manado sebagai Kota Tinutuan galibnya hanyalah sekadar membayar hutang budi pada sang tinutuan yang telah sekian lama ‘bekerja mengkampanyekan’ brand (merek) Manado di tingkat nasional. Soal merek ini jelas bukan hal sembarangan, karena menurut para ahli pemasaran brand adalah penentu strategis pemasaran dan eksistensi produk, daerah dan diri.
Sebelumnya, citra kota Manado selalu divisikan dalam jargon semacam ‘Bersehati’ dan ‘Berhikmat’, yang bila dirinci kepanjangannya terdiri dari kumpulan kata-kata sifat seperti bersih, serasi, aman, tertib, indah, dan tentram. Pergantian rangkaian kata sifat dengan sebuah kata benda ‘tinutuan’ mesti diberi deskripsi latar belakang memadai, alias uraian rationale-nya. Deskripsi bak pertanggungjawaban verbal itu jika diberikan akan membuat warga kota paham sekaligus mahfum ihwal ‘kebijakan balas budi’ Kota Manado pada sang ‘Tuan Tinu’ (baca: tinutuan) itu.
Praksis Campur Makanan
Menurut amatan saya, harus diakui kreativitas paling besar orang-orang jazirah Manado sebenarnya justru terkait dengan kegiatan campur-mencampur makanan. Makanan baru akan dikolaborasikan dengan makanan yang sudah lama dikenal. Begitu banyak makanan baru di Manado yang hakikatnya tak lain merupakan percampuran saling silang. Katakan yang paling bisa segera diingat adalah midal. Ini adalah percampuran makanan mi kuah khas Manado yang berbumbu nikmat dan diberi cakalang fufu dengan tinutuan. Mi aslinya dari negeri Cina , juga berasal dari Jepang yang dikenal dengan nama soba serta dari Korea. Nama akhiran dal padal midal, berasal dari pedaal yakni nama lain untuk tinutuan khusus di wilayah Minahasa Selatan alias wilayah subetnik Tountemboan.
Daal alias tinutuan itu jelas sudah hakikatnya adalah campur ruah segala macam sayuran segar, kangkung, labu, bayam, gedi yang diberi bubur beras, ditambah ketela, talas dan ubi jalar alias bete and batata. Bahkan di kampung Pinabetengan turut dicampur dengan sambote yang pahit tak keruan itu. Di kalangan penjual makanan pagi hari di seputaran jalan Garuda Manado midal sering disebut saja sebagai ‘campur’.
Saya menduga kata tinutuan dulu merujuk sekadar pada aktivitas mencampur makanan itu dan tidak ada yang tahu mana yang merupakan resep asalnya atau dengan memakai istilah gerai makan franchise KFC (Kentucky Fried Chicken) disebut sebagai original recipe-nya alias resep asli. Dugaan ini saya yakini karena di Mindanao, Filipina -juga terdapat makanan yang disebut tinutuan. Tetapi waspadalah wahai kaum pemamah sayuran alias vegetarist, karena yang dicampur di sana bukanlah sayuran segar nan sehat sentosa itu, tetapi jeroan kolesterol tinggi yang berbahaya bagi perut dan ideologi makan sehat kaum vegetarist.
Di samping campuran bernama midal, tinutuan a la Minahasa itu di Manado juga turut dicampur binte biluhuta (kita singkat saja jadi BB) yang tulen merupakan makanan khas Gorontalo. BB (tolong tidak diasosiasikan dengan Bau Badan yang justru bakal menurunkan selera makan) galibnya adalah percampuran makanan dengan ingredient utama jagung pipilan rebusan yang diberi kuah berbumbu nikmat.
Terakhir ini BB juga mendapat pengayaan alias enrichment dengan hamburan ebi alias udang alus dan parutan kelapa yang membuatnya lebih asyik dan syur. Siapa orang-orang penting dalam mengembangkan makanan jagung BB selalu bersifat anonim. Ini tidak seperti halnya di Amerika dimana ahli nutrisi John Harvey Kellog dicatat sebagai pembuat bubur jagung, corn flake. Atau juga para ahli gizi lain yang membuat sirup, whiski, minyak dan gula rendah kalori dari jagung yang di Indonesia bermerek tropicana.
Yang menarik bahwa jagung yang jadi idola orang Gorontalo itu menurut sejarahnya adalah ole-ole orang-orang ekspansionis merkantilis asal Barat, yang notabene dibenci para penghulu politik di Gorontalo, dan sebagian di antaranya masih berkutat di jalan roda Manado. Tapi meski dibawa pihak Barat, makanan bernama ilmiah Zea mays ini sebenarnya juga dirampas dari wilayah baru Amerika dari suku-suku Indian. Jagung sudah dicocoktanam kaum Indian terhitung sejak paling kurang 4700 tahun lalu. Jagung dalam bahasa Manado disebut milu yang tak lain kontraksi dari kata Portugis milho.
Campuran makanan lain juga bisa ditemukan di pasar-pasar di Kota Manado adalah mi, campur tinutuan, campur kacang merah alias brenebon (Phaseolus Sp.). Kata ‘brenebon’ dari kata Belanda bruineboon yang justru berarti ‘kacang coklat’ jadi kacang merah tidak tahu apakah ada pengaruh politik warna di dalamnya. Dari namanya bijian ini segera bisa kita terka terkait jelas dengan ekspansi-merkantilis Barat. Meski kalau dilacak sebenarnya makanan ini juga diboyong pihak Barat dari Amerika Utara sesudah Colombus (1492). Kadang-kadang campuran makanan terakhir ini diperkaya dengan tetelan sapi terutama bongkol kaki dan kikil. Konon dipercaya agar siapa-siapa yang memakannya mampu menarik ‘roda’.
Tapi pada komunitas Kristen di pasar-pasar Wanea dan Bahu makanan tinutuan kolabarasi brenebon ini paling sering dipermoi dengan kaki babi (Sus vittatus) yang awalnya mulai masuk kandang dan dipelihara di Cina 9000 tahun lalu. Kaki boke dalam kuah kaldu kacang merah jelas merupakan makanan khas asal Eropa. Tetapi kini di dunia Barat, terutama di Amerika Serikat, karena merebaknya kesadaran vegetarian dan kesadaran diet, makanan jenis kolesterol tinggi ini tinggallah dimakan kalangan hitam Afro-Amerika di kafe-kafe kecil dekat apartemen rakyat dekat Manhattan, New York. Adapun orang-orang Manado di New York dan New Jersey datang juga ke sana untuk makan sembari masyuk membayangkan mereka sedang berada di Kawangkoan, Tompaso, Langowan, Pakuure atau Modoinding dalam acara tumpah makan yang diberi nama relijius yaitu, ‘pengucapan syukur’ yang sekian lama diaminkan para tokoh gereja Masihi Minahasa.
Dari Mata Menuju Perut
Tetapi Anda jangan salah, dalam tindak campur-mencampur makanan itu justru terkandung jati diri idealisme orang Manado paling mendasar, yaitu kehendak untuk menerima pergaulan dengan tangan terkembang dan akan dibuktikan dengan praksis perut, yaitu keinginan menjajal makanan dan melakukan eksperimen campur- mencampur makanan.
Kalau perkenalan yang berkesan dan menerbitkan cinta dalam hati biasa dilambangkan orang sebagai peristiwa dari mata turun ke hati, adapun orang-orang Manado menerjang lebih jauh dari kelumrahan itu. Karena, bagi mereka sesudah berterima di hati, kemudian harus diekspresikan dalam tindak makan-minum. Saya menduga tradisi makan ini semacam perterusan juga dari kebiasaan makan pinang dahulu kala, di mana tolok pergaulan hangat dilambangkan dalam tindak makan pinang bersama. Ketika itu tidak ada pertemuan penting, misalnya peristiwa pelamaran gadis pujaan hati, tanpa diawali mamah pinang bersama. Makanya hingga kini peristiwa melamar gadis untuk dibawa ke jenjang perkawinan disebut sebagai peristiwa ‘meminang’.
Jelaslah yang dilakonkan orang Manado dalam bergaul sesama insan adalah peristiwa dari mata turun ke perut. Tetapi, tentu proses ke perut bukan tidak memakai hati dan kepala, malah sangat tulen dilakukan. Memang dalam pengalaman kalau cuma sekadar kesan itu turun ke hati, siapa bisa menjamin akurat ‘membaca’ hati orang. Karena, peribahasa mengatakan ‘dalamnya laut dapat terduga, tapi hati orang siapa yang tahu’.
Tapi, di Manado tamu yang secara sadar mau menerima tawaran makan, merupakan gestur tulen bersahabat. Yang menolak makan karena alasan ideologis syariat agama juga pun masih diterima. Penolakan jenis ini bukanlah penghinaan pada sang tuan rumah, tetapi semacam penegasan jati diri. Karena di Manado meja makan juga menjadi ajang penegasan identitas diri. Tak heran di pesta perkawinan Kristen di Manado selalu ada meja tersendiri bagi kalangan muslim dan kalangan advent yang tidak bisa mencicip makan berdaging babi dan anjing. Penyediaan itu jelas sebuah penghormatan pada identitas dan praktik agamawi yang berbeda. Tetapi siapa pun yang menolak makan minum yang tulus ditawari tuan rumah dalam kosmos beberapa suku Sulawesi Utara bisa tertimpa musibah.
Ideologi Tinutuan
Tinutuan tak pelak mesti disebut adalah simbol kesediaan untuk bercampur baur itu. Inilah sebenarnya pesan yang hendak disuarakan Kota Manado. Makanan ini memang sudah hakikatnya merupakan campur ruah sayuran. Bahkan perkembangan terakhir bisa juga disantap dengan tahu hasil kebudayaan kedelai Cina, perkedel nike yang bukan merek sepatu yang dibuat pengusaha Korea di Tanggerang, tapi nener ikan air tawar biasanya dari danau Tondano dan cakalang fufu alias hasil asapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) salah satu jenis tuna yang berruaya alias bermigrasi di wilayah Pasifik di antaranya masuk ke Laut Sulawesi.
Tinutuan dalam sejarah Sulawesi Utara sebagaimana sudah terurai di atas berasimilasi dengan mi yang asal Cina. Mi konon diperkenalkan di Eropa oleh Marco Polo yang pulang kampung di Venice tahun 1295, meski sebagian orang menyatakan makanan jenis ini sudah ada di Pulau Sisilia, Itali sejak zaman pemerintahan Islam (827 -1061 M). Karena salah produksi mi Itali menjadi kurus bak tali gitar dan disebut spaghetti.
Jelaslah tinutuan tidak canggung bergaul dengan brenebon dan afdol dengan jagung. Dan karena tinutuan original recipe a la Minahasa sekadar campuran berbagai macam sayuran yang dimasak khusus dan tidak mengandung daging babi dan anjing yang diharamkan kaum muslim dan kaum adventist. Juga, tidak mengandung daging lain semacam sapi yang dihormati masyarakat Hindu. Makanya, tak salah makanan ini bisa jadi semacam makanan pergaulan antar kelompok masyarakat di Manado. Semacam lingua franca lidah dan perut begitu. Jadi pemilihan makanan ini menjadi perjulukan bagi Kota Manado jelas terkandung makna sebuah ikhtiar tulus penerimaan atas pluralisme di Kota Manado. Manado memang menjadi tempat persemaian pergaulan antar bangsa dan ras serta kebersamaan insani. Itu secara politik sudah dibuktikan dengan move Pak Imba yang penatua menggandeng Pak Abdi yang mukmin menjadi pemimpin kota.
Yang menarik bahwa meski tinutuan merupakan percampuran berbagai macam elemen, tetapi unsur-unsur pembentuknya tetaplah terlacak kasat mata, katakan semacam kangkung (Ipomea elongata). Tidak ada yang hilang alias meleleh dalam proses percampuran itu. Karena percampuran yang terjadi bukan peleburan, tapi bersanding bersama pada satu keyakinan hidup bersama alias Bhinneka Tunggal Ika yang sejati. Bukan memangsa mereka yang berbeda. Yang hendak disimbolkan oleh tinutuan bukanlah pluralisme dimana unsur-unsur pembentuk akan dilelehkan sehingga tidak bisa dilacak kasat mata. Karena itu yang hendak didorong bukanlah konsep melting pot a la Amerika Serikat awal, tetapi konsep multikulturalisme di mana unsur pembentuk tetap eksis namun berkomitmen kuat untuk hidup bersama sehati dan seperut.
Jadi jelaslah tinutuan adalah percampuran bukan peleburan. Ini bahkan sudah masuk dalam hati terdalam di samping perut terdalam tentu. Diceritakan seorang ibu Manado yang merelakan anaknya akan diapel pacarnya malam harinya. Sang ibu berpesan, ‘’Nak, ibu senang pacarmu. Tapi kau harus jaga diri. Nanti malam kalau dia mulai cium dan pegang-pegang kau bilang ke ibu yang akan diam di kamar depan, ya!?’’ Anaknya setuju, ‘’Tapi bu, bagaimana caranya?’’ tanya sang anak gadis. ‘’Ah gampang kau pakai saja bahasa simbol nama-nama sayuran. Kalau dia pegang tanganmu kau bilang kangkung. Kalau cium pipi, labu. Kalau bibir, bayam, kalau pegang paha gedi dan seterusnya,’’ jelas sang ibu.
Dan malam harinya. Sang ibu lamat-lamat mendengar dari dalam kamar. ‘’Mama, kangkung. Kangkung labu, kangkung labu. Labu-labu. Bayam, labu bayam, bayam, bayaaam. Gedi, kangkung labu, gedi, kangkung labu, Gedi, gedi, gediiii’’ dan akhirnya erangan mendesah panjang, ‘’ Ma, tinutuan.’’.//Pitres Sombowadile
Mesti jujur disebut justru tinutuan telah lama dicandrakan dengan nama embel-embel Manado, karena di tingkat nasional makanan ini lebih dikenal dengan nama ‘bubur Manado’. Karena itu logikanya penetapan Manado sebagai Kota Tinutuan galibnya hanyalah sekadar membayar hutang budi pada sang tinutuan yang telah sekian lama ‘bekerja mengkampanyekan’ brand (merek) Manado di tingkat nasional. Soal merek ini jelas bukan hal sembarangan, karena menurut para ahli pemasaran brand adalah penentu strategis pemasaran dan eksistensi produk, daerah dan diri.
Sebelumnya, citra kota Manado selalu divisikan dalam jargon semacam ‘Bersehati’ dan ‘Berhikmat’, yang bila dirinci kepanjangannya terdiri dari kumpulan kata-kata sifat seperti bersih, serasi, aman, tertib, indah, dan tentram. Pergantian rangkaian kata sifat dengan sebuah kata benda ‘tinutuan’ mesti diberi deskripsi latar belakang memadai, alias uraian rationale-nya. Deskripsi bak pertanggungjawaban verbal itu jika diberikan akan membuat warga kota paham sekaligus mahfum ihwal ‘kebijakan balas budi’ Kota Manado pada sang ‘Tuan Tinu’ (baca: tinutuan) itu.
Praksis Campur Makanan
Menurut amatan saya, harus diakui kreativitas paling besar orang-orang jazirah Manado sebenarnya justru terkait dengan kegiatan campur-mencampur makanan. Makanan baru akan dikolaborasikan dengan makanan yang sudah lama dikenal. Begitu banyak makanan baru di Manado yang hakikatnya tak lain merupakan percampuran saling silang. Katakan yang paling bisa segera diingat adalah midal. Ini adalah percampuran makanan mi kuah khas Manado yang berbumbu nikmat dan diberi cakalang fufu dengan tinutuan. Mi aslinya dari negeri Cina , juga berasal dari Jepang yang dikenal dengan nama soba serta dari Korea. Nama akhiran dal padal midal, berasal dari pedaal yakni nama lain untuk tinutuan khusus di wilayah Minahasa Selatan alias wilayah subetnik Tountemboan.
Daal alias tinutuan itu jelas sudah hakikatnya adalah campur ruah segala macam sayuran segar, kangkung, labu, bayam, gedi yang diberi bubur beras, ditambah ketela, talas dan ubi jalar alias bete and batata. Bahkan di kampung Pinabetengan turut dicampur dengan sambote yang pahit tak keruan itu. Di kalangan penjual makanan pagi hari di seputaran jalan Garuda Manado midal sering disebut saja sebagai ‘campur’.
Saya menduga kata tinutuan dulu merujuk sekadar pada aktivitas mencampur makanan itu dan tidak ada yang tahu mana yang merupakan resep asalnya atau dengan memakai istilah gerai makan franchise KFC (Kentucky Fried Chicken) disebut sebagai original recipe-nya alias resep asli. Dugaan ini saya yakini karena di Mindanao, Filipina -juga terdapat makanan yang disebut tinutuan. Tetapi waspadalah wahai kaum pemamah sayuran alias vegetarist, karena yang dicampur di sana bukanlah sayuran segar nan sehat sentosa itu, tetapi jeroan kolesterol tinggi yang berbahaya bagi perut dan ideologi makan sehat kaum vegetarist.
Di samping campuran bernama midal, tinutuan a la Minahasa itu di Manado juga turut dicampur binte biluhuta (kita singkat saja jadi BB) yang tulen merupakan makanan khas Gorontalo. BB (tolong tidak diasosiasikan dengan Bau Badan yang justru bakal menurunkan selera makan) galibnya adalah percampuran makanan dengan ingredient utama jagung pipilan rebusan yang diberi kuah berbumbu nikmat.
Terakhir ini BB juga mendapat pengayaan alias enrichment dengan hamburan ebi alias udang alus dan parutan kelapa yang membuatnya lebih asyik dan syur. Siapa orang-orang penting dalam mengembangkan makanan jagung BB selalu bersifat anonim. Ini tidak seperti halnya di Amerika dimana ahli nutrisi John Harvey Kellog dicatat sebagai pembuat bubur jagung, corn flake. Atau juga para ahli gizi lain yang membuat sirup, whiski, minyak dan gula rendah kalori dari jagung yang di Indonesia bermerek tropicana.
Yang menarik bahwa jagung yang jadi idola orang Gorontalo itu menurut sejarahnya adalah ole-ole orang-orang ekspansionis merkantilis asal Barat, yang notabene dibenci para penghulu politik di Gorontalo, dan sebagian di antaranya masih berkutat di jalan roda Manado. Tapi meski dibawa pihak Barat, makanan bernama ilmiah Zea mays ini sebenarnya juga dirampas dari wilayah baru Amerika dari suku-suku Indian. Jagung sudah dicocoktanam kaum Indian terhitung sejak paling kurang 4700 tahun lalu. Jagung dalam bahasa Manado disebut milu yang tak lain kontraksi dari kata Portugis milho.
Campuran makanan lain juga bisa ditemukan di pasar-pasar di Kota Manado adalah mi, campur tinutuan, campur kacang merah alias brenebon (Phaseolus Sp.). Kata ‘brenebon’ dari kata Belanda bruineboon yang justru berarti ‘kacang coklat’ jadi kacang merah tidak tahu apakah ada pengaruh politik warna di dalamnya. Dari namanya bijian ini segera bisa kita terka terkait jelas dengan ekspansi-merkantilis Barat. Meski kalau dilacak sebenarnya makanan ini juga diboyong pihak Barat dari Amerika Utara sesudah Colombus (1492). Kadang-kadang campuran makanan terakhir ini diperkaya dengan tetelan sapi terutama bongkol kaki dan kikil. Konon dipercaya agar siapa-siapa yang memakannya mampu menarik ‘roda’.
Tapi pada komunitas Kristen di pasar-pasar Wanea dan Bahu makanan tinutuan kolabarasi brenebon ini paling sering dipermoi dengan kaki babi (Sus vittatus) yang awalnya mulai masuk kandang dan dipelihara di Cina 9000 tahun lalu. Kaki boke dalam kuah kaldu kacang merah jelas merupakan makanan khas asal Eropa. Tetapi kini di dunia Barat, terutama di Amerika Serikat, karena merebaknya kesadaran vegetarian dan kesadaran diet, makanan jenis kolesterol tinggi ini tinggallah dimakan kalangan hitam Afro-Amerika di kafe-kafe kecil dekat apartemen rakyat dekat Manhattan, New York. Adapun orang-orang Manado di New York dan New Jersey datang juga ke sana untuk makan sembari masyuk membayangkan mereka sedang berada di Kawangkoan, Tompaso, Langowan, Pakuure atau Modoinding dalam acara tumpah makan yang diberi nama relijius yaitu, ‘pengucapan syukur’ yang sekian lama diaminkan para tokoh gereja Masihi Minahasa.
Dari Mata Menuju Perut
Tetapi Anda jangan salah, dalam tindak campur-mencampur makanan itu justru terkandung jati diri idealisme orang Manado paling mendasar, yaitu kehendak untuk menerima pergaulan dengan tangan terkembang dan akan dibuktikan dengan praksis perut, yaitu keinginan menjajal makanan dan melakukan eksperimen campur- mencampur makanan.
Kalau perkenalan yang berkesan dan menerbitkan cinta dalam hati biasa dilambangkan orang sebagai peristiwa dari mata turun ke hati, adapun orang-orang Manado menerjang lebih jauh dari kelumrahan itu. Karena, bagi mereka sesudah berterima di hati, kemudian harus diekspresikan dalam tindak makan-minum. Saya menduga tradisi makan ini semacam perterusan juga dari kebiasaan makan pinang dahulu kala, di mana tolok pergaulan hangat dilambangkan dalam tindak makan pinang bersama. Ketika itu tidak ada pertemuan penting, misalnya peristiwa pelamaran gadis pujaan hati, tanpa diawali mamah pinang bersama. Makanya hingga kini peristiwa melamar gadis untuk dibawa ke jenjang perkawinan disebut sebagai peristiwa ‘meminang’.
Jelaslah yang dilakonkan orang Manado dalam bergaul sesama insan adalah peristiwa dari mata turun ke perut. Tetapi, tentu proses ke perut bukan tidak memakai hati dan kepala, malah sangat tulen dilakukan. Memang dalam pengalaman kalau cuma sekadar kesan itu turun ke hati, siapa bisa menjamin akurat ‘membaca’ hati orang. Karena, peribahasa mengatakan ‘dalamnya laut dapat terduga, tapi hati orang siapa yang tahu’.
Tapi, di Manado tamu yang secara sadar mau menerima tawaran makan, merupakan gestur tulen bersahabat. Yang menolak makan karena alasan ideologis syariat agama juga pun masih diterima. Penolakan jenis ini bukanlah penghinaan pada sang tuan rumah, tetapi semacam penegasan jati diri. Karena di Manado meja makan juga menjadi ajang penegasan identitas diri. Tak heran di pesta perkawinan Kristen di Manado selalu ada meja tersendiri bagi kalangan muslim dan kalangan advent yang tidak bisa mencicip makan berdaging babi dan anjing. Penyediaan itu jelas sebuah penghormatan pada identitas dan praktik agamawi yang berbeda. Tetapi siapa pun yang menolak makan minum yang tulus ditawari tuan rumah dalam kosmos beberapa suku Sulawesi Utara bisa tertimpa musibah.
Ideologi Tinutuan
Tinutuan tak pelak mesti disebut adalah simbol kesediaan untuk bercampur baur itu. Inilah sebenarnya pesan yang hendak disuarakan Kota Manado. Makanan ini memang sudah hakikatnya merupakan campur ruah sayuran. Bahkan perkembangan terakhir bisa juga disantap dengan tahu hasil kebudayaan kedelai Cina, perkedel nike yang bukan merek sepatu yang dibuat pengusaha Korea di Tanggerang, tapi nener ikan air tawar biasanya dari danau Tondano dan cakalang fufu alias hasil asapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) salah satu jenis tuna yang berruaya alias bermigrasi di wilayah Pasifik di antaranya masuk ke Laut Sulawesi.
Tinutuan dalam sejarah Sulawesi Utara sebagaimana sudah terurai di atas berasimilasi dengan mi yang asal Cina. Mi konon diperkenalkan di Eropa oleh Marco Polo yang pulang kampung di Venice tahun 1295, meski sebagian orang menyatakan makanan jenis ini sudah ada di Pulau Sisilia, Itali sejak zaman pemerintahan Islam (827 -1061 M). Karena salah produksi mi Itali menjadi kurus bak tali gitar dan disebut spaghetti.
Jelaslah tinutuan tidak canggung bergaul dengan brenebon dan afdol dengan jagung. Dan karena tinutuan original recipe a la Minahasa sekadar campuran berbagai macam sayuran yang dimasak khusus dan tidak mengandung daging babi dan anjing yang diharamkan kaum muslim dan kaum adventist. Juga, tidak mengandung daging lain semacam sapi yang dihormati masyarakat Hindu. Makanya, tak salah makanan ini bisa jadi semacam makanan pergaulan antar kelompok masyarakat di Manado. Semacam lingua franca lidah dan perut begitu. Jadi pemilihan makanan ini menjadi perjulukan bagi Kota Manado jelas terkandung makna sebuah ikhtiar tulus penerimaan atas pluralisme di Kota Manado. Manado memang menjadi tempat persemaian pergaulan antar bangsa dan ras serta kebersamaan insani. Itu secara politik sudah dibuktikan dengan move Pak Imba yang penatua menggandeng Pak Abdi yang mukmin menjadi pemimpin kota.
Yang menarik bahwa meski tinutuan merupakan percampuran berbagai macam elemen, tetapi unsur-unsur pembentuknya tetaplah terlacak kasat mata, katakan semacam kangkung (Ipomea elongata). Tidak ada yang hilang alias meleleh dalam proses percampuran itu. Karena percampuran yang terjadi bukan peleburan, tapi bersanding bersama pada satu keyakinan hidup bersama alias Bhinneka Tunggal Ika yang sejati. Bukan memangsa mereka yang berbeda. Yang hendak disimbolkan oleh tinutuan bukanlah pluralisme dimana unsur-unsur pembentuk akan dilelehkan sehingga tidak bisa dilacak kasat mata. Karena itu yang hendak didorong bukanlah konsep melting pot a la Amerika Serikat awal, tetapi konsep multikulturalisme di mana unsur pembentuk tetap eksis namun berkomitmen kuat untuk hidup bersama sehati dan seperut.
Jadi jelaslah tinutuan adalah percampuran bukan peleburan. Ini bahkan sudah masuk dalam hati terdalam di samping perut terdalam tentu. Diceritakan seorang ibu Manado yang merelakan anaknya akan diapel pacarnya malam harinya. Sang ibu berpesan, ‘’Nak, ibu senang pacarmu. Tapi kau harus jaga diri. Nanti malam kalau dia mulai cium dan pegang-pegang kau bilang ke ibu yang akan diam di kamar depan, ya!?’’ Anaknya setuju, ‘’Tapi bu, bagaimana caranya?’’ tanya sang anak gadis. ‘’Ah gampang kau pakai saja bahasa simbol nama-nama sayuran. Kalau dia pegang tanganmu kau bilang kangkung. Kalau cium pipi, labu. Kalau bibir, bayam, kalau pegang paha gedi dan seterusnya,’’ jelas sang ibu.
Dan malam harinya. Sang ibu lamat-lamat mendengar dari dalam kamar. ‘’Mama, kangkung. Kangkung labu, kangkung labu. Labu-labu. Bayam, labu bayam, bayam, bayaaam. Gedi, kangkung labu, gedi, kangkung labu, Gedi, gedi, gediiii’’ dan akhirnya erangan mendesah panjang, ‘’ Ma, tinutuan.’’.//Pitres Sombowadile
Sabtu, 06 Februari 2010
MENGGANTI BHINEKA TUNGGAL IKAN DENGAN TORANG SAMUA BASUDARA
Kondisi damai, tentram dan sentosa Manado yang dibanggakan kini bukanlah prestasi satu dua pihak. Tapi merupakan buah dari kerja bersama antara pemerintah dan peran significant masyarakat sipil. Slogan kemudian dibuat Gubernur Mangindaan untuk merangkum kondisi yang mesti terus dipertahankan itu sebagai etika Torang Samua Basudara. Komitmen itu kini dipertajam dengan program Tahun Kasih di masa kepemimpinan Sondkah-Sualang yang mencoba hendak melakukan upaya proliferasi (pengembang-biakan) kehidupan kerukunan bersama khas Sulut tersebut. Juga penguatan dengan membentuk lembaga-lembaga kerjasama antar umat beragama di daerah di masa pemerintahan Gubernur Sinyo Sarundajang kini.
Beberapa pihak dapat disebut melakukan peranan penting dalam menciptakan kondisi Manado sekarang ini. Yang pantas disebut adalah:
1) Kalangan LSM dan aktor-aktor kunci pemimpin umat.
Berbagai forum lintas agama membahas masalah-masalah antar agama dilakukan. Bahkan sempat membuat jaringan kampanye bersama dengan mempergunakan berbagai media publik (radio, koran dan jalur online) dan media alternatif lain (poster, selebaran, spanduk dll). Kajian-kajian sempat menawarkan gagasan-gagasan dialog mutakhir. Juga membahas tema perdamaian sebagaimana dirumuskan Hans Kung, there is no peace among nations without peace among religions. Serta tawaran Etika Globalnya.
2) Organisasi-organisasi masyarakat dan pemuda terutama yang terkait dengan institusi agama.
Berperan dalam berbicara ke kalangan umatnya masing-masing tentang nilai sakral dari perdamaian, dialog serta pluralitas. Kemajuan fenomenal dapat dilihat pada ceramah reguler KH Arifin Assagaf di Radio Al Chairaat untuk umat muslim, tetapi didengar juga kalangan Kristen di bagian Utara Manado (wilayah yang paling heterogen dari sisi agama dan etnik) dan menyejukkan hati kalangan Kristen. Eksplosi dapat dihindari, pada masa-masa susah ketika orang menyebut-nyebut adanya konsep kerusuhan berantai di kota-kota ATM (Ambon-Ternate-Manado).
3) Media Publik dan Khusus
Media dengan praktik pemberitaan yang menjauhkan diri dari upaya sengaja atau tidak sengaja menyulut sentimen dan konflik. Praktik media perang dan damai sebagaimana yang pernah dirumuskan Johan Galtung diwaspadai benar. Jika konflik di beberapa daerah lain dituduh turut dipicu media -- sebagai misal konflik Poso akibat pemberitaan Harian Mercusuar dan konflik antar agama yang diperparah oleh pecahnya media ke dalam dua kubu yang bertikai – di Manado kesadaran peran damai media dalam mencegah konflik multikultur relatif lebih maju. Mengingat perkataan Bertolt Brecht dalam Geschicten vom Herrn Keuner) yang mengatakan: Jika koran dipandang sebagai sarana membuat kekacauan, koran pun dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan ketertiban.
Tapi bukan koran saja yang berperan dalam memberikan berita menyejukkan, tapi juga kalangan radio yang juga melakukan serangkaian kegiatan perdamaian.
4) Pemerintah dengan segenap aparatnya.
Setiap potensi konflik bisa cepat ditangkal oleh pemerintah lewat berbagai kegiatannya. Di banyak kesempatan pejabat-pejabat selalu berpesan tentang keindahan kerukunan hidup antar pemeluk agama dan mengembangkan dialog antaragama. Terutama ketika sedang beracara dengan umat agama tertentu.
Kekerasan Atas Nama Agama
Sungguh kita trenyuh melihat banyak aksi kekerasan yang dilakukan orang atas nama agama. Kenyataan ini agak sulit dimengerti karena posisi sebenarnya dari agama adalah anugerah sukacita bagi manusia. Juga agama (dalam lingkungan Kristen) dipahami sebagai pembawa kabar sukacita dan cinta kasih. Dalam Islam agama dilihat sebagai rahmatan lil -‘alamin (rahmat bagi alam).
Tapi kenapa justru mewujud jadi sekumpulan korban mati mengenaskan, darah yang tumpah ruah dan bagian-bagian tubuh yang berserakan, kesedihan, penderitaan, dukacita, dendam serta kebencian. Atau menjadi peristiwa kelabu yang mengakibatkan gedung WTC New York rusak berantakan dengan ribuan nyawa melayang. Hal yang sama masih berlangsung pasca dua kali bom Bali, dan dua kali bom Hotel J.W. Marryot.
Manuver Osama bin Laden
Sekelompok orang di bawah organisasi yang didalangi Osama bin Muhammad bin Awad bin Laden dituduh berada di balik tragedi WTC di New York tahun lalu. Osama memang kuat dihubungkan terlibat karena sikap penentangannya yang garang terhadap semua kepentingan Amerika Serikat di seluruh dunia. Atau terhadap semua kekuatan Salibis dan Zionis. Artinya terhadap semua kekuatan umat Kristen dan Yahudi.
Rekor kekerasan Osama yang ditujukan pada Amerika Serikat dan bukti-bukti lain membuatnya dituduh berada di balik aksi-aksi kekerasan melawan kekuatan salibis dan zionis. Osama sebenarnya adalah salah seorang pejuang yang dibantu pihak Amerika Serikat melawan tentara Uni Soviet yang menduduki Afganistan. Ketika kawan dan gurunya Syaikh Abdullah Azzam meninggal di Peshawar dia kehilangan semangat dan kembali ke Saudi Arabia di mana keluarga miliarder bin Laden dan bisnis keluarganya berada.
Ketika Irak menginvasi Kuwait, kerajaan Arab Saudi yang ketakutan revolusi bakal berkibar ke negara tersebut, Bin Laden menawarkan diri hendak mempertahankan negerinya dari kemungkinan invasi. Tetapi, pemerintah kerajaan malah berpaling pada proteksi yang disediakan pemerintah Amerika Serikat. Bin Laden kecewa. Dia berpendapat tentara Amerika telah mengotori negara Al-Haramain (negara dengan dua tempat suci Islam di Makkah dan Madinah) dengan kegemaran pesta dan kaset-kaset Madonna.
Dia melakukan oposisi keras terhadap keputusan pemerintah Arab berkolaborasi dengan Amerika Serikat itu. Akibatnya pemerintah Arab Saudi kerajaan menahannya di Jeddah. Tahun 1991 dia memutuskan meninggalkan Arab Saudi dan pada tahun 1992 sudah berada di Khartoum, ibukota Sudan. Kota tempat berseliwerannya berbagai jaringan spionase dunia. Di sana dia diduga keras menjadi donatur banyak aksi terorisme dunia.
Bin Laden punya koneksi khusus dengan kelompok radikal Mesir yang bermarkas di Khartoum di antaranya Al-Jihad Al-Islami yang pimpinan terkenalnya adalah Dr. Ayman Al-Zawahiri yang merupakan salah satu orang lingkaran dalam Osama. Tokoh ini disebut-sebut binasa dalam perang Amerika Serikat dan pendukungnya terhadap rezim Taliban dan pengikut Osama.
Tahun 1994 pemerintah Arab Saudi mencabut kewarganegaraan Osama. Dan dua tahun setelah itu, tepatnya tanggal 23 Agustus 1996 tercatat merupakan titik balik penting dari posisi Osama yakni dari seorang Islam moderat -- yang bekerja membangun berbagai fasilitas publik (jalan) di Khartoum, maklum dia memang seorang insinyur sipil dan hobbi bertani -- menjadi tokoh yang menyuarakan sikap anti Amerika secara konsisten.
Pada tanggal itu dia membuat deklarasi jihad yang menyerukan pemuda-pemuda Islam membunuh semua penjajah Amerika di kerajaan Arab Saudi. ‘’Dinding-dinding penindasan dan penghinaan tidak dapat dihancurkan kecuali dengan hujaman peluru,’’ demikian bunyi salah satu kalimat deklarasinya yang selalu disiarkan CNN sebagai bukti ideologi kekerasan Osama.
Februari 1998, dia melakukan pertemuan dengan para kelompok ekstremis fundamentalis Islam, di antaranya kelompok Al-Jihad Al-Islami. Dalam pertemuan ini Bin Laden mengajak untuk menyerang semua kepentingan Amerika di manapun berada.
Agustus tahun itu juga dua kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania diledakkan dengan korban ratusan orang. Dua hari pemboman itu Madeleine Albright memastikan Bin Laden adalah tersangka utama. AS kemudian dalam selang waktu 13 hari membalas Osama dengan meluncurkan 60 rudal Tomhawk ke markas Osama di Khost. Tapi Osama selamat. Malah dia berjanji akan membalas setiap tindakan Amerika Serikat.
Pada tanggal 11 September 2001 terbukti gedung menara kembar WTC New York hancur ditabrak oleh dua pesawat penerbangan sipil oleh kaum teroris. Ribuan orang di gedung itu terkubur. Ini serangan kedua setelah tahun 1993, WTC New York juga dihantam bom yang menewaskan 6 orang dan melukai ribuan orang. Tahun 1995 pihak AS berhasil meringkus Ramzi Yousef (otak peledakan pertama WTC 1993) yang ditangkap di Pakistan.
Yang pantas diceritakan dalam perjalanan helikopter yang membawanya ke kantor pusat FBI New York melintasi samudera Atlantik . Ramzi dengan bangga menceritakan rencana sebenarnya atas WTC yakni akan menanam perangkat berhulu ledak yang besar di gedung WTC bertingkat 110 lantai itu yang diperkirakannya akan memakan korban 250.000 orang korban dalam dan luar gedung.
Skenario teror yang diceritakan Ramzi itu gagal dilakukan karena dia tidak dapat membeli dinamit yang cukup dan akhirnya memutuskan untuk sekadar meledakkan yang kecil saja tahun 1993. Rencana itu akhirnya bisa dilaksanakan dengan mempergunakan dua pesawat terbang yang diterbangkan menerjang gedung WTC pada 11 September 2001 yang sama-sama kita ketahui. Berbagai pemboman lain juga dihubungkan dengan aksi teror Osama dengan jaringan Al Qaeda-nya.
Tapi apa sebenarnya yang mendorong tokoh semacam Osama menggelar aksi kekerasan? Ideologi apa yang merasukinya? Jawaban semacam itu bisa disimak dari wawancaranya dengan Time dan Nations (lihat buku Osama bin Laden Melawan Amerika, Ahmad Dumyathi Bashori/editor, Mizzan, 2001). Secara singkat dapat disebut Osama memandang gerakan kekerasannya sebagai misi suci agama yang dilakukan untuk melawan kekuatan-kekuatan yang mengancam agamanya. Osama menyerukan jalan Jihad bersenjata melawan Amerika Serikat dan Israel.
Kata Osama pada Time, ‘’Front Internasional untuk Jihad melawan AS dan Israel—dengan pertolongan Allah Swt -- telah mengeluarkan fatwa kepada segenap umat Islam untuk berjihad dengan tujuan membebaskan tempat-tempat suci. Umat Muhammad SAW telah menanggapi seruan dan ajakan ini. Kalau memang anjuran jihad melawan Yahudi dan AS untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al-Haram diasumsikan sebagai perbuatan kriminal biarkan sejarah sebagai saksi bahwa saya adalah kriminal. Tugas kami hanya menganjurkan dan dengan inayah Allah SWT. Kami lakukan itu. Alhamdulillah, beberapa orang telah merespons seruan ini.’’
Dalam wawancara dengan Nations tampak jelas uraian bahwa Osama mempergunakan teks-teks suci untuk menyokong gerakannya. Osama membuat pemaparan bahwa negeri-negeri muslim sudah jatuh dalam tekanan kaum asing Salibis-Zionis Amerika Serikat dan Israel. Mulai dari Irak, Libia, Suriah, Lebanon, Sudan, Yordania, Mesir dan Somalia. Dan tidak ada jalan lain bagi dunia muslim selain harus mengangkat senjata dan melakukan kekerasan sembari mengutip ayat Al-Baqarah [2]: 216. ‘’Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada dia amat baik bagimu, dan mencintai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’’ Ketakutan untuk berperang (jihad) di kalangan masyarakat muslim disebut Osama sebagai malapetaka dunia muslim.
Pada bagian lain wawancaranya dia mengatakan: ‘’ Muslim harus memperhatikan benar ayat-ayat tentang loyalitas, keimanan dan jihad. Mereka tidak boleh menjalin hubungan dengan Yahudi dan Kristen karena Allah Swt telah menerangkan dalam kitabnya, ‘’Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS Al-Ma’idah [5]: 51)
Kekerasan Atas Nama Agama Yang Lain
Tapi sesungguhnya kekerasan yang dilakukan atas nama agama terjadi oleh banyak kelompok di semua agama – agama besar dunia, bukan hanya kalangan Islam. Banyak pembunuhan dan pembantaian dalam sejarah yang menunjukkan kaitan spirit agama dalam tindakan kekerasan yang sangat berdarah-darah. Dan sekali lagi ini bukan fenomena satu agama saja, tetapi lintas agama-agama. Kekerasan dan teror atas nama agama itu biasa dilakukan oleh kelompok sempalan dalam agama tertentu yang merasa perbuatan itu merupakan upaya taat kepada Tuhan, (lihat buku Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Mizzan, 1999).
Shihab mencatat fenomena kekerasan mewarnai kekerasan sejarah kehidupan keagamaan. Dalam kajiannya, pada masa formatif Islam, tiga dari empat khulafa al–rasyidun dibunuh oleh tangan-tangan kelompok ekstremis. Khalifah keempat Sayyidina Ali bin Abi Tahlib dibunuh oleh kelompok Khawarij, yaitu ekstremis yang membenarkan tindakan kekerasan dalam mengubah status quo.
Di kalangan Kristen lumuran darah akibat ekstremitas pemahaman keagamaan pun tidak kalah banyaknya. Misalnya, eksekusi yang dilancarkan kalangan mainstream Kristen kepada kelompok sekte yang lazim dinamakan kaum sempalan (heretic) juga mewarnai sejarah Kristen yang melahirkan peristiwa Black Bartolomy di Eropa. Atau dosa gereja Jerman terhadap kaum Yahudi di zaman NAZI. Hingga kini perseteruan agama di Belfast, Inggris, belum kunjung usai dan menemukan formula solusinya.
Di dunia modern kini kekerasan atas nama agama tidak kunjung redup ternyata. Dalam dekade terakhir ini saja tercatat beberapa tindakan kekerasan yang disulut kelompok keagamaan yang ekstrem. Misalnya, kelompok Takfir wal Hijrah di Mesir yang bertanggungjawab atas pembunuhan Anwar Sadat Oktober 1981 saat menghadiri acara parade militer. Tahun 1984 Indira Gandhi, dibunuh oleh dua bodyguard-nya sendiri dari kelompok Sikh yang melakukan balas dendam atas kebijakan Indira yang dinilai merugikan Kaum Sikh, juga didorong oleh motivasi keagamaan.
Selanjutnya pembunuhan perdana menteri Israel Yitzhak Rabin oleh aktivis kaum fundamentalis Yahudi Haredim, Yigal Amir. Ciri kelompok ini adalah militansi, atau ketangguhan berjuang untuk mencapai tujuan, baik melalui ide ataupun senjata. Ketika Rabin terbunuh kelompok Haredim justru merayakannya bahkan mereka mengumpul dana untuk membayar biaya sewa pengacara yang akan membela Yigal Amir. Dalam keterangan dipengadilan Yigal Amir menyatakan tindaknya sebagai ‘’tugas keagamaan saya sesuai dengan anjuran halakha (hukum agama Yahudi).’’
Di Indonesia banyak kasus bisa kita tunjuk sebagai kekerasan atas nama agama. Apa yang terjadi di Maluku dan Maluku Utara yang ceritanya beredar dari mulut ke mulut di Manado adalah contoh kekerasan yang penderitanya adalah kalangan Kristen. Sama halnya cerita sejenis yang dibawah para mantan penduduk Maluku yang berada di Makassar yang menceritakan bagaimana kalangan Islam yang jadi korbannya.
Medan pembantaian yang lain adalah Poso yang hingga kini masih terus meledak sewaktu-waktu. Kalangan Kristen yang melarikan diri ke Manado, hingga kini masih ada di barak-barak penampungan. Cerita mereka tentang kenasiban mereka membuat kita sedih atas prestasi buruk manusia Indonesia yang menyebut dirinya masyarakat berbudi pekerti dan beragama.
Reinterpretasi Bhinneka Tunggal Ika
Konsep yang biasa dipakai untuk menangkal terjadinya perpecahan sosial di Indonesia sudah lama dirumuskan para pendiri republik ini -- terutama sangat direkomendasikan oleh Mr. Muhammad Yamin – yakni konsep Bhinneka Tunggal Ika yang biasanya diterjemahkan menjadi ‘berbeda-beda tetapi satu jua.’
Ceritanya, sewaktu Republik Indonesia digagas menjadi wadah negara bagi bangsa-bangsa Nusantara bekas jajahan Belanda, Yamin memilih frase Bhinneka Tunggal Ika (BTI) untuk melukiskan bagaimana sekian entitas berbeda bisa menjadi satu. Frase ini adalah kutipan Yamin dari kalimat Mpu Tantular dalam salah satu karya kakawin (satu bentuk sastra tulis Jawa Kuno) berjudul Sutasoma.
Menurut kajian S. Supomo, mantan dosen di ANU Australia, karya ini diperkirakan ditulis antara tahun 1367-1389, artinya semboyan BTI sudah berusia 600 tahun lebih (lihat tulisan S. Supomo, Tantular dan Karyanya, dalam 1000 Tahun Nusantara, Kompas, 2000).
Tidak ada penjelasan memadai bagi para aktivis kemerdekaan Indonesia, di tahun 1945, soal mengapa frase Tantular itu yang dipilih Yamin untuk menjadi kalimat mujarab persatuan Indonesia. Kecuali menurut Yamin ada beberapa orang yang tahu tentang karya sastra kakawin itu terutama beberapa tokoh Jawa dan Bali.
Tapi, setelah membaca telisikan kritis ahli naskah kuno seperti S. Supomo, saya bersimpulan BTI sebenarnya bukanlah filsafat hidup yang memang sudah dijalankan dan ihwal kemujarabannya hendak dikampanyekan dalam karya Mpu Tantular ini. BTI ternyata lebih merupakan kalimat bijaksana penulis kakawin yang hendak ditawarkan untuk permakluman bersama.
Frase itu muncul dalam kakawin Sutosoma saat pertempuran antara Porusada dan Sutasoma. Porusada, dikisahkan adalah raksasa pemakan daging manusia yang berjanji akan mempersembahkan korban berupa seratus orang raja kepada Betara Kala. Dia telah berhasil mengumpulkan seratus kepala raja, namun Betara Kala masih meminta tambahan seorang lagi, yaitu Sutasoma, raja dari kerajaan Hastina yang diceritakan merupakan penjelmaan Buddha.
Dalam pertempuran keduanya, Porusada merubah dirinya menjadi Siwa, sedang Sutasoma menampakkan citra diri sebagai Buddha. Porusada sebagai Siwa, saking marahnya merubah dirinya sebagai Api Kala yang akan membakar seluruh bumi. Sutasoma, dengan hati buddhisnya, demi menyadari api itu bakal membakar semua kehidupan bumi tidak terkecuali, sebelum waktunya, segera secara sukarela menyerahkan diri kepada Porusada untuk diserahkan kepada Kala.
Ajaib, justru tindak Sutasoma itu menyebabkan hati Porusada mengalami perubahan total, keganasannya sebagai raksasa lenyap diganti dengan rasa kasih sayang kepada sesama mahkluk. Bahkan Betara Kala sendiri diceritakan hatinya tersentuh. Hatinya jadi dipenuhi kasih sayang dan minta menjadi murid Sutasoma.
Dalam kakawin Sutasoma itulah, pada saat Porusada menampakkan citra Siwa dengan Api Kalanya, para dewa kuatir dunia akan benar-benar binasa, karena itu para dewa turun ke bumi untuk melerai. Untuk menenangkan Siwa, para Dewa mengatakan bahwa tidak mungkin dia (Siwa) dapat mengalahkan Sutasoma -- yang adalah penjelmaan Buddha—karena walau Buddha dan Siwa dua subtansi yang berlainan, tidak mungkin keduanya dipisahkan.
Nah ketika itu para dewa mengatakan kalimat perdamaian berbunyi: ‘’... Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal/bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa...’’. Ini diterjemahkan S. Supomo: ‘’ Pada hakikatnya yang paling dalam Buddha dan Siwa adalah satu/ (keduanya) itu berbeda, (tetapi) itu satu, tak ada dharma yang mendua ‘’ .
Jelaslah pertempuran dua tokoh tadi ditampilkan Tantular sebagai analogi perselisihan atas dasar inspirasi agama masa itu, yaitu antara agama Syiwa dan Buddha. Pertempuran sengit yang akan meluluhlantakkan bumi. Adapun pandangan dan sikap agama Tantular dapat disimpulkan yaitu dalam posisi hendak merujukkan dua entitas jatidiri agamawi itu atau posisi sinkretis.
Pandangan sikretis untuk dua agama yang berbeda itu tidaklah aneh ketika itu. Sinkretisme Buddha-Syiwa dapat diamati pada tulisan suci Jawa Smaradahana Hyang Kamahayanikan, yang berusaha untuk mengsinkretiskan dewa Trimurti Hindu dengan dewa-dewa Buddha Mahayana. Sehubungan dengan ini, R.C. Majumdar menyatakan bahwa gabungan antara Syiwa dan Buddha merupakan ciri khas agama masyarakat Jawa. Bahkan dalam teologi Hindu Bali modern, Buddha dianggap sebagai adik Syiwa. (lihat R.C. Majumdar, Hindu Colonies in the Far East, Calcuta, Firma K.L. Mukhopadhay, 1963 halaman 99).
Jelaslah dari kutipan di atas pada konteks apa Bhinneka Tunggal Ika dipakai Mpu Tantular, yaitu dalam konteks memperdamaikan bahkan menggabungkan dua agama India/Dharma. Karena itu, jelaslah pemakaian BTI kini harus diinterpretasikan kembali dari arti ‘’(keduanya) itu berbeda, (tetapi) itu satu,’’ menjadi pluralitas di konteks Indonesia kini. Karena penggabungan agama tidak bisa diterima oleh agama-agama besar, meski saling pengaruh dan saling memberi inspirasi sudah terbukti terjadi dalam kajian sejarah agama-agama.
Keharusan BTI direinterpretasikan pada Indonesia hari ini, memang harus dilakukan ketika agama-agama dominan yang ada bukan lagi Syiwa dan Buddha atau agama-agama India, tapi agama-agama Semitisme agama-agama Abrahamic. Masa agama-agama India dan proses Indianisasi di bumi Nusantara dihitung punya rentang waktu satu millenium dan berakhir dengan masuknya Islam abad keenam belas kecuali di Bali yang bertahan hingga kini.
Konflik Indonesia hari ini justru lebih kaya dari konflik dua agama Dharma dalam Kakawin Sutasoma. Pasca Hindu dan Buddha, agama-agama monoteistik Abraham (Abrahamic Religions) tercatat masuk ke Nusantara mulai dari agama Islam, Kristen dan Yahudi. Antara agama-agama Abraham ini satu sama lain punya luka-luka sejarah dan klaim kebenaran Allah yang eksklusif antar mereka. Dan, upaya untuk mendekatkan mereka dilakukan lewat pendekatan pluralitas.
Saya mengusulkan BTI perlu diterjemahkan lagi ke dalam khazanah konflik agama-agama Abraham. Saya usulkan pada tataran sosial BTI diterjemahkan menjadi etika sosial: menerima pluralisme dan membentuk persaudaraan di atasnya atau Torang Samua Basudara. Karena, pluralisme akan memberi pintu bagi persatuan yang harmonis dan ikhlas serta menolak penyatuan atau penyeragaman (sinkretis). Dan dalam falsafah Torang Samua Basudara (mengingat percakapan dengan Mantan Gubernur Mangindaan) melihat perbedaan itu dimulai dari satu asal yang sama, yaitu dari Bapa Orang Beriman Abraham.
Pluralitas yang dimaksud mengutip Alwi Shihab mencakup:
Pertama: tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan itu. Seseorang baru bisa disebut menyandang paham pluralisme apabila ia dapat berinteraksi positif dalam lingkungan kemajemukan tadi. Dengan kata lain, pengertian pluralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan.
Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme. Karena konsep ini hanya menunjuk pada suatu realitas di mana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi.
Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme. Karena seorang relativis berasumsi bahwa kebenaran ditentukan oleh pandangan hidup atau kerangka berpikir seseorang.
Keempat, pluralisme agama bukanlah sinkretisme, yakni menciptakan agama baru dengan memadukan unsur-unsur tertentu ajaran agama ke sebagian ajaran atau keseluruhan ajaran agama lain.
Semangat Torang Samua Basudara
Dari pemahaman dan uraian pluralitas itulah semangat Torang Samua Basudara diturunkan. Menurut Mangindaan, Torang Basudara diderivasi karena agama-agama utama Indonesia kini (terutama Islam, Kristen dan Yahudi) berasal dari satu keluarga Abraham. Menurut saya kerinduan lama untuk memberikan uraian detil terhadap praksis hidup Torang Samua Basudara a la masyarakat Manado sudah saya mulai dan bisa dilanjutkan pihak-pihak lain. Uraian ini akan sangat terbuka untuk disempurnakan oleh mereka-mereka yang berkepentingan dengan upaya untuk memberi uraian yang ilmiah dan komprehensif atas falsafah Torang Samua Basudara yang intinya adalah mengingatkan asal persaudaraan agama-agama besar Semitik di dalam Bapa Abraham.
Secara kebetulan juga Karen Armstrong (bukunya Sejarah Tuhan, Missan 2001) berhasil sekilas membeberkan hubungan (meski agak jauh) antara agama-agama di Timur Tengah dengan agama-agama (Dharma) di India. Karena itu falsafah Torang Samua Basudara tidak sebatas relevan untuk agama-agama Semitik Abrahamik tetapi juga meluas untuk agama-agama Hindia dan agama-agama lain. Dan tidak sebatas omong, tetapi terwujud dalam tindakan.
Berkaitan dengan itu, sudah saatnya di Manado dibuka sebuah pusat kajian agama-agama Abrahamic. Hanya dengan demikian, orang Manado bisa terus menerus bisa memberikan pertanggungjawaban kebudayaan untuk praksis kehidupannya yang khas berkaitan dengan semboyan Torang Samua Basudara.
Tapi rasanya ini semua baru sebuah mimpi saja. Maklumlah karena untuk mengurus masalah kecil saja semacam masalah sampah dan korupsi saja ternyata tidak becus. Tapi, biarlah sekurangnya saya punya mimpi. I have a dream, begitu Marthin Luther King.///Pitres Sombowadile*
Beberapa pihak dapat disebut melakukan peranan penting dalam menciptakan kondisi Manado sekarang ini. Yang pantas disebut adalah:
1) Kalangan LSM dan aktor-aktor kunci pemimpin umat.
Berbagai forum lintas agama membahas masalah-masalah antar agama dilakukan. Bahkan sempat membuat jaringan kampanye bersama dengan mempergunakan berbagai media publik (radio, koran dan jalur online) dan media alternatif lain (poster, selebaran, spanduk dll). Kajian-kajian sempat menawarkan gagasan-gagasan dialog mutakhir. Juga membahas tema perdamaian sebagaimana dirumuskan Hans Kung, there is no peace among nations without peace among religions. Serta tawaran Etika Globalnya.
2) Organisasi-organisasi masyarakat dan pemuda terutama yang terkait dengan institusi agama.
Berperan dalam berbicara ke kalangan umatnya masing-masing tentang nilai sakral dari perdamaian, dialog serta pluralitas. Kemajuan fenomenal dapat dilihat pada ceramah reguler KH Arifin Assagaf di Radio Al Chairaat untuk umat muslim, tetapi didengar juga kalangan Kristen di bagian Utara Manado (wilayah yang paling heterogen dari sisi agama dan etnik) dan menyejukkan hati kalangan Kristen. Eksplosi dapat dihindari, pada masa-masa susah ketika orang menyebut-nyebut adanya konsep kerusuhan berantai di kota-kota ATM (Ambon-Ternate-Manado).
3) Media Publik dan Khusus
Media dengan praktik pemberitaan yang menjauhkan diri dari upaya sengaja atau tidak sengaja menyulut sentimen dan konflik. Praktik media perang dan damai sebagaimana yang pernah dirumuskan Johan Galtung diwaspadai benar. Jika konflik di beberapa daerah lain dituduh turut dipicu media -- sebagai misal konflik Poso akibat pemberitaan Harian Mercusuar dan konflik antar agama yang diperparah oleh pecahnya media ke dalam dua kubu yang bertikai – di Manado kesadaran peran damai media dalam mencegah konflik multikultur relatif lebih maju. Mengingat perkataan Bertolt Brecht dalam Geschicten vom Herrn Keuner) yang mengatakan: Jika koran dipandang sebagai sarana membuat kekacauan, koran pun dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan ketertiban.
Tapi bukan koran saja yang berperan dalam memberikan berita menyejukkan, tapi juga kalangan radio yang juga melakukan serangkaian kegiatan perdamaian.
4) Pemerintah dengan segenap aparatnya.
Setiap potensi konflik bisa cepat ditangkal oleh pemerintah lewat berbagai kegiatannya. Di banyak kesempatan pejabat-pejabat selalu berpesan tentang keindahan kerukunan hidup antar pemeluk agama dan mengembangkan dialog antaragama. Terutama ketika sedang beracara dengan umat agama tertentu.
Kekerasan Atas Nama Agama
Sungguh kita trenyuh melihat banyak aksi kekerasan yang dilakukan orang atas nama agama. Kenyataan ini agak sulit dimengerti karena posisi sebenarnya dari agama adalah anugerah sukacita bagi manusia. Juga agama (dalam lingkungan Kristen) dipahami sebagai pembawa kabar sukacita dan cinta kasih. Dalam Islam agama dilihat sebagai rahmatan lil -‘alamin (rahmat bagi alam).
Tapi kenapa justru mewujud jadi sekumpulan korban mati mengenaskan, darah yang tumpah ruah dan bagian-bagian tubuh yang berserakan, kesedihan, penderitaan, dukacita, dendam serta kebencian. Atau menjadi peristiwa kelabu yang mengakibatkan gedung WTC New York rusak berantakan dengan ribuan nyawa melayang. Hal yang sama masih berlangsung pasca dua kali bom Bali, dan dua kali bom Hotel J.W. Marryot.
Manuver Osama bin Laden
Sekelompok orang di bawah organisasi yang didalangi Osama bin Muhammad bin Awad bin Laden dituduh berada di balik tragedi WTC di New York tahun lalu. Osama memang kuat dihubungkan terlibat karena sikap penentangannya yang garang terhadap semua kepentingan Amerika Serikat di seluruh dunia. Atau terhadap semua kekuatan Salibis dan Zionis. Artinya terhadap semua kekuatan umat Kristen dan Yahudi.
Rekor kekerasan Osama yang ditujukan pada Amerika Serikat dan bukti-bukti lain membuatnya dituduh berada di balik aksi-aksi kekerasan melawan kekuatan salibis dan zionis. Osama sebenarnya adalah salah seorang pejuang yang dibantu pihak Amerika Serikat melawan tentara Uni Soviet yang menduduki Afganistan. Ketika kawan dan gurunya Syaikh Abdullah Azzam meninggal di Peshawar dia kehilangan semangat dan kembali ke Saudi Arabia di mana keluarga miliarder bin Laden dan bisnis keluarganya berada.
Ketika Irak menginvasi Kuwait, kerajaan Arab Saudi yang ketakutan revolusi bakal berkibar ke negara tersebut, Bin Laden menawarkan diri hendak mempertahankan negerinya dari kemungkinan invasi. Tetapi, pemerintah kerajaan malah berpaling pada proteksi yang disediakan pemerintah Amerika Serikat. Bin Laden kecewa. Dia berpendapat tentara Amerika telah mengotori negara Al-Haramain (negara dengan dua tempat suci Islam di Makkah dan Madinah) dengan kegemaran pesta dan kaset-kaset Madonna.
Dia melakukan oposisi keras terhadap keputusan pemerintah Arab berkolaborasi dengan Amerika Serikat itu. Akibatnya pemerintah Arab Saudi kerajaan menahannya di Jeddah. Tahun 1991 dia memutuskan meninggalkan Arab Saudi dan pada tahun 1992 sudah berada di Khartoum, ibukota Sudan. Kota tempat berseliwerannya berbagai jaringan spionase dunia. Di sana dia diduga keras menjadi donatur banyak aksi terorisme dunia.
Bin Laden punya koneksi khusus dengan kelompok radikal Mesir yang bermarkas di Khartoum di antaranya Al-Jihad Al-Islami yang pimpinan terkenalnya adalah Dr. Ayman Al-Zawahiri yang merupakan salah satu orang lingkaran dalam Osama. Tokoh ini disebut-sebut binasa dalam perang Amerika Serikat dan pendukungnya terhadap rezim Taliban dan pengikut Osama.
Tahun 1994 pemerintah Arab Saudi mencabut kewarganegaraan Osama. Dan dua tahun setelah itu, tepatnya tanggal 23 Agustus 1996 tercatat merupakan titik balik penting dari posisi Osama yakni dari seorang Islam moderat -- yang bekerja membangun berbagai fasilitas publik (jalan) di Khartoum, maklum dia memang seorang insinyur sipil dan hobbi bertani -- menjadi tokoh yang menyuarakan sikap anti Amerika secara konsisten.
Pada tanggal itu dia membuat deklarasi jihad yang menyerukan pemuda-pemuda Islam membunuh semua penjajah Amerika di kerajaan Arab Saudi. ‘’Dinding-dinding penindasan dan penghinaan tidak dapat dihancurkan kecuali dengan hujaman peluru,’’ demikian bunyi salah satu kalimat deklarasinya yang selalu disiarkan CNN sebagai bukti ideologi kekerasan Osama.
Februari 1998, dia melakukan pertemuan dengan para kelompok ekstremis fundamentalis Islam, di antaranya kelompok Al-Jihad Al-Islami. Dalam pertemuan ini Bin Laden mengajak untuk menyerang semua kepentingan Amerika di manapun berada.
Agustus tahun itu juga dua kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania diledakkan dengan korban ratusan orang. Dua hari pemboman itu Madeleine Albright memastikan Bin Laden adalah tersangka utama. AS kemudian dalam selang waktu 13 hari membalas Osama dengan meluncurkan 60 rudal Tomhawk ke markas Osama di Khost. Tapi Osama selamat. Malah dia berjanji akan membalas setiap tindakan Amerika Serikat.
Pada tanggal 11 September 2001 terbukti gedung menara kembar WTC New York hancur ditabrak oleh dua pesawat penerbangan sipil oleh kaum teroris. Ribuan orang di gedung itu terkubur. Ini serangan kedua setelah tahun 1993, WTC New York juga dihantam bom yang menewaskan 6 orang dan melukai ribuan orang. Tahun 1995 pihak AS berhasil meringkus Ramzi Yousef (otak peledakan pertama WTC 1993) yang ditangkap di Pakistan.
Yang pantas diceritakan dalam perjalanan helikopter yang membawanya ke kantor pusat FBI New York melintasi samudera Atlantik . Ramzi dengan bangga menceritakan rencana sebenarnya atas WTC yakni akan menanam perangkat berhulu ledak yang besar di gedung WTC bertingkat 110 lantai itu yang diperkirakannya akan memakan korban 250.000 orang korban dalam dan luar gedung.
Skenario teror yang diceritakan Ramzi itu gagal dilakukan karena dia tidak dapat membeli dinamit yang cukup dan akhirnya memutuskan untuk sekadar meledakkan yang kecil saja tahun 1993. Rencana itu akhirnya bisa dilaksanakan dengan mempergunakan dua pesawat terbang yang diterbangkan menerjang gedung WTC pada 11 September 2001 yang sama-sama kita ketahui. Berbagai pemboman lain juga dihubungkan dengan aksi teror Osama dengan jaringan Al Qaeda-nya.
Tapi apa sebenarnya yang mendorong tokoh semacam Osama menggelar aksi kekerasan? Ideologi apa yang merasukinya? Jawaban semacam itu bisa disimak dari wawancaranya dengan Time dan Nations (lihat buku Osama bin Laden Melawan Amerika, Ahmad Dumyathi Bashori/editor, Mizzan, 2001). Secara singkat dapat disebut Osama memandang gerakan kekerasannya sebagai misi suci agama yang dilakukan untuk melawan kekuatan-kekuatan yang mengancam agamanya. Osama menyerukan jalan Jihad bersenjata melawan Amerika Serikat dan Israel.
Kata Osama pada Time, ‘’Front Internasional untuk Jihad melawan AS dan Israel—dengan pertolongan Allah Swt -- telah mengeluarkan fatwa kepada segenap umat Islam untuk berjihad dengan tujuan membebaskan tempat-tempat suci. Umat Muhammad SAW telah menanggapi seruan dan ajakan ini. Kalau memang anjuran jihad melawan Yahudi dan AS untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al-Haram diasumsikan sebagai perbuatan kriminal biarkan sejarah sebagai saksi bahwa saya adalah kriminal. Tugas kami hanya menganjurkan dan dengan inayah Allah SWT. Kami lakukan itu. Alhamdulillah, beberapa orang telah merespons seruan ini.’’
Dalam wawancara dengan Nations tampak jelas uraian bahwa Osama mempergunakan teks-teks suci untuk menyokong gerakannya. Osama membuat pemaparan bahwa negeri-negeri muslim sudah jatuh dalam tekanan kaum asing Salibis-Zionis Amerika Serikat dan Israel. Mulai dari Irak, Libia, Suriah, Lebanon, Sudan, Yordania, Mesir dan Somalia. Dan tidak ada jalan lain bagi dunia muslim selain harus mengangkat senjata dan melakukan kekerasan sembari mengutip ayat Al-Baqarah [2]: 216. ‘’Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada dia amat baik bagimu, dan mencintai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’’ Ketakutan untuk berperang (jihad) di kalangan masyarakat muslim disebut Osama sebagai malapetaka dunia muslim.
Pada bagian lain wawancaranya dia mengatakan: ‘’ Muslim harus memperhatikan benar ayat-ayat tentang loyalitas, keimanan dan jihad. Mereka tidak boleh menjalin hubungan dengan Yahudi dan Kristen karena Allah Swt telah menerangkan dalam kitabnya, ‘’Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS Al-Ma’idah [5]: 51)
Kekerasan Atas Nama Agama Yang Lain
Tapi sesungguhnya kekerasan yang dilakukan atas nama agama terjadi oleh banyak kelompok di semua agama – agama besar dunia, bukan hanya kalangan Islam. Banyak pembunuhan dan pembantaian dalam sejarah yang menunjukkan kaitan spirit agama dalam tindakan kekerasan yang sangat berdarah-darah. Dan sekali lagi ini bukan fenomena satu agama saja, tetapi lintas agama-agama. Kekerasan dan teror atas nama agama itu biasa dilakukan oleh kelompok sempalan dalam agama tertentu yang merasa perbuatan itu merupakan upaya taat kepada Tuhan, (lihat buku Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, Mizzan, 1999).
Shihab mencatat fenomena kekerasan mewarnai kekerasan sejarah kehidupan keagamaan. Dalam kajiannya, pada masa formatif Islam, tiga dari empat khulafa al–rasyidun dibunuh oleh tangan-tangan kelompok ekstremis. Khalifah keempat Sayyidina Ali bin Abi Tahlib dibunuh oleh kelompok Khawarij, yaitu ekstremis yang membenarkan tindakan kekerasan dalam mengubah status quo.
Di kalangan Kristen lumuran darah akibat ekstremitas pemahaman keagamaan pun tidak kalah banyaknya. Misalnya, eksekusi yang dilancarkan kalangan mainstream Kristen kepada kelompok sekte yang lazim dinamakan kaum sempalan (heretic) juga mewarnai sejarah Kristen yang melahirkan peristiwa Black Bartolomy di Eropa. Atau dosa gereja Jerman terhadap kaum Yahudi di zaman NAZI. Hingga kini perseteruan agama di Belfast, Inggris, belum kunjung usai dan menemukan formula solusinya.
Di dunia modern kini kekerasan atas nama agama tidak kunjung redup ternyata. Dalam dekade terakhir ini saja tercatat beberapa tindakan kekerasan yang disulut kelompok keagamaan yang ekstrem. Misalnya, kelompok Takfir wal Hijrah di Mesir yang bertanggungjawab atas pembunuhan Anwar Sadat Oktober 1981 saat menghadiri acara parade militer. Tahun 1984 Indira Gandhi, dibunuh oleh dua bodyguard-nya sendiri dari kelompok Sikh yang melakukan balas dendam atas kebijakan Indira yang dinilai merugikan Kaum Sikh, juga didorong oleh motivasi keagamaan.
Selanjutnya pembunuhan perdana menteri Israel Yitzhak Rabin oleh aktivis kaum fundamentalis Yahudi Haredim, Yigal Amir. Ciri kelompok ini adalah militansi, atau ketangguhan berjuang untuk mencapai tujuan, baik melalui ide ataupun senjata. Ketika Rabin terbunuh kelompok Haredim justru merayakannya bahkan mereka mengumpul dana untuk membayar biaya sewa pengacara yang akan membela Yigal Amir. Dalam keterangan dipengadilan Yigal Amir menyatakan tindaknya sebagai ‘’tugas keagamaan saya sesuai dengan anjuran halakha (hukum agama Yahudi).’’
Di Indonesia banyak kasus bisa kita tunjuk sebagai kekerasan atas nama agama. Apa yang terjadi di Maluku dan Maluku Utara yang ceritanya beredar dari mulut ke mulut di Manado adalah contoh kekerasan yang penderitanya adalah kalangan Kristen. Sama halnya cerita sejenis yang dibawah para mantan penduduk Maluku yang berada di Makassar yang menceritakan bagaimana kalangan Islam yang jadi korbannya.
Medan pembantaian yang lain adalah Poso yang hingga kini masih terus meledak sewaktu-waktu. Kalangan Kristen yang melarikan diri ke Manado, hingga kini masih ada di barak-barak penampungan. Cerita mereka tentang kenasiban mereka membuat kita sedih atas prestasi buruk manusia Indonesia yang menyebut dirinya masyarakat berbudi pekerti dan beragama.
Reinterpretasi Bhinneka Tunggal Ika
Konsep yang biasa dipakai untuk menangkal terjadinya perpecahan sosial di Indonesia sudah lama dirumuskan para pendiri republik ini -- terutama sangat direkomendasikan oleh Mr. Muhammad Yamin – yakni konsep Bhinneka Tunggal Ika yang biasanya diterjemahkan menjadi ‘berbeda-beda tetapi satu jua.’
Ceritanya, sewaktu Republik Indonesia digagas menjadi wadah negara bagi bangsa-bangsa Nusantara bekas jajahan Belanda, Yamin memilih frase Bhinneka Tunggal Ika (BTI) untuk melukiskan bagaimana sekian entitas berbeda bisa menjadi satu. Frase ini adalah kutipan Yamin dari kalimat Mpu Tantular dalam salah satu karya kakawin (satu bentuk sastra tulis Jawa Kuno) berjudul Sutasoma.
Menurut kajian S. Supomo, mantan dosen di ANU Australia, karya ini diperkirakan ditulis antara tahun 1367-1389, artinya semboyan BTI sudah berusia 600 tahun lebih (lihat tulisan S. Supomo, Tantular dan Karyanya, dalam 1000 Tahun Nusantara, Kompas, 2000).
Tidak ada penjelasan memadai bagi para aktivis kemerdekaan Indonesia, di tahun 1945, soal mengapa frase Tantular itu yang dipilih Yamin untuk menjadi kalimat mujarab persatuan Indonesia. Kecuali menurut Yamin ada beberapa orang yang tahu tentang karya sastra kakawin itu terutama beberapa tokoh Jawa dan Bali.
Tapi, setelah membaca telisikan kritis ahli naskah kuno seperti S. Supomo, saya bersimpulan BTI sebenarnya bukanlah filsafat hidup yang memang sudah dijalankan dan ihwal kemujarabannya hendak dikampanyekan dalam karya Mpu Tantular ini. BTI ternyata lebih merupakan kalimat bijaksana penulis kakawin yang hendak ditawarkan untuk permakluman bersama.
Frase itu muncul dalam kakawin Sutosoma saat pertempuran antara Porusada dan Sutasoma. Porusada, dikisahkan adalah raksasa pemakan daging manusia yang berjanji akan mempersembahkan korban berupa seratus orang raja kepada Betara Kala. Dia telah berhasil mengumpulkan seratus kepala raja, namun Betara Kala masih meminta tambahan seorang lagi, yaitu Sutasoma, raja dari kerajaan Hastina yang diceritakan merupakan penjelmaan Buddha.
Dalam pertempuran keduanya, Porusada merubah dirinya menjadi Siwa, sedang Sutasoma menampakkan citra diri sebagai Buddha. Porusada sebagai Siwa, saking marahnya merubah dirinya sebagai Api Kala yang akan membakar seluruh bumi. Sutasoma, dengan hati buddhisnya, demi menyadari api itu bakal membakar semua kehidupan bumi tidak terkecuali, sebelum waktunya, segera secara sukarela menyerahkan diri kepada Porusada untuk diserahkan kepada Kala.
Ajaib, justru tindak Sutasoma itu menyebabkan hati Porusada mengalami perubahan total, keganasannya sebagai raksasa lenyap diganti dengan rasa kasih sayang kepada sesama mahkluk. Bahkan Betara Kala sendiri diceritakan hatinya tersentuh. Hatinya jadi dipenuhi kasih sayang dan minta menjadi murid Sutasoma.
Dalam kakawin Sutasoma itulah, pada saat Porusada menampakkan citra Siwa dengan Api Kalanya, para dewa kuatir dunia akan benar-benar binasa, karena itu para dewa turun ke bumi untuk melerai. Untuk menenangkan Siwa, para Dewa mengatakan bahwa tidak mungkin dia (Siwa) dapat mengalahkan Sutasoma -- yang adalah penjelmaan Buddha—karena walau Buddha dan Siwa dua subtansi yang berlainan, tidak mungkin keduanya dipisahkan.
Nah ketika itu para dewa mengatakan kalimat perdamaian berbunyi: ‘’... Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal/bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa...’’. Ini diterjemahkan S. Supomo: ‘’ Pada hakikatnya yang paling dalam Buddha dan Siwa adalah satu/ (keduanya) itu berbeda, (tetapi) itu satu, tak ada dharma yang mendua ‘’ .
Jelaslah pertempuran dua tokoh tadi ditampilkan Tantular sebagai analogi perselisihan atas dasar inspirasi agama masa itu, yaitu antara agama Syiwa dan Buddha. Pertempuran sengit yang akan meluluhlantakkan bumi. Adapun pandangan dan sikap agama Tantular dapat disimpulkan yaitu dalam posisi hendak merujukkan dua entitas jatidiri agamawi itu atau posisi sinkretis.
Pandangan sikretis untuk dua agama yang berbeda itu tidaklah aneh ketika itu. Sinkretisme Buddha-Syiwa dapat diamati pada tulisan suci Jawa Smaradahana Hyang Kamahayanikan, yang berusaha untuk mengsinkretiskan dewa Trimurti Hindu dengan dewa-dewa Buddha Mahayana. Sehubungan dengan ini, R.C. Majumdar menyatakan bahwa gabungan antara Syiwa dan Buddha merupakan ciri khas agama masyarakat Jawa. Bahkan dalam teologi Hindu Bali modern, Buddha dianggap sebagai adik Syiwa. (lihat R.C. Majumdar, Hindu Colonies in the Far East, Calcuta, Firma K.L. Mukhopadhay, 1963 halaman 99).
Jelaslah dari kutipan di atas pada konteks apa Bhinneka Tunggal Ika dipakai Mpu Tantular, yaitu dalam konteks memperdamaikan bahkan menggabungkan dua agama India/Dharma. Karena itu, jelaslah pemakaian BTI kini harus diinterpretasikan kembali dari arti ‘’(keduanya) itu berbeda, (tetapi) itu satu,’’ menjadi pluralitas di konteks Indonesia kini. Karena penggabungan agama tidak bisa diterima oleh agama-agama besar, meski saling pengaruh dan saling memberi inspirasi sudah terbukti terjadi dalam kajian sejarah agama-agama.
Keharusan BTI direinterpretasikan pada Indonesia hari ini, memang harus dilakukan ketika agama-agama dominan yang ada bukan lagi Syiwa dan Buddha atau agama-agama India, tapi agama-agama Semitisme agama-agama Abrahamic. Masa agama-agama India dan proses Indianisasi di bumi Nusantara dihitung punya rentang waktu satu millenium dan berakhir dengan masuknya Islam abad keenam belas kecuali di Bali yang bertahan hingga kini.
Konflik Indonesia hari ini justru lebih kaya dari konflik dua agama Dharma dalam Kakawin Sutasoma. Pasca Hindu dan Buddha, agama-agama monoteistik Abraham (Abrahamic Religions) tercatat masuk ke Nusantara mulai dari agama Islam, Kristen dan Yahudi. Antara agama-agama Abraham ini satu sama lain punya luka-luka sejarah dan klaim kebenaran Allah yang eksklusif antar mereka. Dan, upaya untuk mendekatkan mereka dilakukan lewat pendekatan pluralitas.
Saya mengusulkan BTI perlu diterjemahkan lagi ke dalam khazanah konflik agama-agama Abraham. Saya usulkan pada tataran sosial BTI diterjemahkan menjadi etika sosial: menerima pluralisme dan membentuk persaudaraan di atasnya atau Torang Samua Basudara. Karena, pluralisme akan memberi pintu bagi persatuan yang harmonis dan ikhlas serta menolak penyatuan atau penyeragaman (sinkretis). Dan dalam falsafah Torang Samua Basudara (mengingat percakapan dengan Mantan Gubernur Mangindaan) melihat perbedaan itu dimulai dari satu asal yang sama, yaitu dari Bapa Orang Beriman Abraham.
Pluralitas yang dimaksud mengutip Alwi Shihab mencakup:
Pertama: tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan itu. Seseorang baru bisa disebut menyandang paham pluralisme apabila ia dapat berinteraksi positif dalam lingkungan kemajemukan tadi. Dengan kata lain, pengertian pluralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan.
Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme. Karena konsep ini hanya menunjuk pada suatu realitas di mana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi.
Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme. Karena seorang relativis berasumsi bahwa kebenaran ditentukan oleh pandangan hidup atau kerangka berpikir seseorang.
Keempat, pluralisme agama bukanlah sinkretisme, yakni menciptakan agama baru dengan memadukan unsur-unsur tertentu ajaran agama ke sebagian ajaran atau keseluruhan ajaran agama lain.
Semangat Torang Samua Basudara
Dari pemahaman dan uraian pluralitas itulah semangat Torang Samua Basudara diturunkan. Menurut Mangindaan, Torang Basudara diderivasi karena agama-agama utama Indonesia kini (terutama Islam, Kristen dan Yahudi) berasal dari satu keluarga Abraham. Menurut saya kerinduan lama untuk memberikan uraian detil terhadap praksis hidup Torang Samua Basudara a la masyarakat Manado sudah saya mulai dan bisa dilanjutkan pihak-pihak lain. Uraian ini akan sangat terbuka untuk disempurnakan oleh mereka-mereka yang berkepentingan dengan upaya untuk memberi uraian yang ilmiah dan komprehensif atas falsafah Torang Samua Basudara yang intinya adalah mengingatkan asal persaudaraan agama-agama besar Semitik di dalam Bapa Abraham.
Secara kebetulan juga Karen Armstrong (bukunya Sejarah Tuhan, Missan 2001) berhasil sekilas membeberkan hubungan (meski agak jauh) antara agama-agama di Timur Tengah dengan agama-agama (Dharma) di India. Karena itu falsafah Torang Samua Basudara tidak sebatas relevan untuk agama-agama Semitik Abrahamik tetapi juga meluas untuk agama-agama Hindia dan agama-agama lain. Dan tidak sebatas omong, tetapi terwujud dalam tindakan.
Berkaitan dengan itu, sudah saatnya di Manado dibuka sebuah pusat kajian agama-agama Abrahamic. Hanya dengan demikian, orang Manado bisa terus menerus bisa memberikan pertanggungjawaban kebudayaan untuk praksis kehidupannya yang khas berkaitan dengan semboyan Torang Samua Basudara.
Tapi rasanya ini semua baru sebuah mimpi saja. Maklumlah karena untuk mengurus masalah kecil saja semacam masalah sampah dan korupsi saja ternyata tidak becus. Tapi, biarlah sekurangnya saya punya mimpi. I have a dream, begitu Marthin Luther King.///Pitres Sombowadile*
MENGOPUR
Mengopur adalah kependekan dari kata mengowe dan puru. Artinya mencari buah pala dengan cara memungut. Mengopur menjadi sebuah istilah sangat lekat di hati siapa saja orang asal pulau Siau yang pernah menjadi anak-anak yang masa-masa sosialisasi kanak-kanaknya, berekspansi melintas kebun-kebun milik orang lain tanpa syarat menggunakan izin masuk kawasan. Tulisan ini mendeskripsikan kenangan penulis tentang apa, siapa, kapan, dimana dan bagaimana mengopur. Dan diakhiri dengan pesan singkat buat pemangku peran.
Apa itu Mengopur?
Mengowe puru adalah kegiatan yang dilakukan anak-anak usia kurang dari 16 tahun untuk menemukan dan mengumpulkan biji pala yang jatuh dari pohonnya. Kami sering mempersingkatnya "mengopur atau mengopure" (bagi rata-rata orang Sangihe, setiap kata yang berakhir konsonan selalu ditambahkan huruf "e" di belakang kata dasar, kecuali di Tagulandang menggunakan huruf 'i'). Peralatan yang diperlukan dalam rangka mengopure adalah “patoka” yang disebut juga “kemeto” yaitu sebutan untuk wadah guna menampung biji pala. Ukurannya bervariasi tergantung penggunanya. Kalau yang menggunakan patoka adalah anak-anak usia 12 tahun. Lebar maximum patoka berkisar 20 cm dikalikan panjang 25 cm. Lebih dari ukuran itu, namanya kemeto. Tentu patoka digunakan untuk aktivitas terbatas oleh anak-anak yang hendak mengowe puru dan kemeto untuk menampung biji pala pada aktivitas panen yang lebih sistematis, seringkali dilakukan oleh orang-orang dewasa.
Demikian kami membedakan antara kemeto dan patoka dalam proporsi pemanfataannya. Baik kemeto dan patoka, kedua-duanya seperti diproses secara alami sehingga mengeras oleh getah pala dan menyerupai tas kulit yang terbuat dari kulit buaya. Semakin keras sebuah patoka atau kemeto, pertanda semakin sering digunakan. Begitu juga penggunanya; sarat pengalaman. Di dalam kemeto biasanya sudah tersedia sebila pisau. Pisau itu untuk membela buah pala yang ditemukan di bawah pohon. Selain itu membantu mengatasi masalah lapar, untuk mengupas buah nenas , buah nangka dan buah kelapa yang ditemukan di tempat-tempat liar (lahan bertuan tetapi tidak digarap).
Demikian kami membedakan antara kemeto dan patoka dalam proporsi pemanfataannya. Baik kemeto dan patoka, kedua-duanya seperti diproses secara alami sehingga mengeras oleh getah pala dan menyerupai tas kulit yang terbuat dari kulit buaya. Semakin keras sebuah patoka atau kemeto, pertanda semakin sering digunakan. Begitu juga penggunanya; sarat pengalaman. Di dalam kemeto biasanya sudah tersedia sebila pisau. Pisau itu untuk membela buah pala yang ditemukan di bawah pohon. Selain itu membantu mengatasi masalah lapar, untuk mengupas buah nenas , buah nangka dan buah kelapa yang ditemukan di tempat-tempat liar (lahan bertuan tetapi tidak digarap).
Siapa Yang Diperbolehkan Mengopur?
Siapa saja anak-anak yang termasuk dalam pasukan mengopure ini? Dari segi umur sudah disebutkan di atas, dari segi strata pendidikan, biasanya yang diperbolehkan oleh tradisi setempat adalah anak-anak SD hingga SMP (sekarang mereka yg mengenyam pendidikan dasar 9 tahun), sedangkan anak-anak remaja yang berada pada level pendidikan SMA sudah malu melakukan aktivitas mengopure ini. Apalagi para orang tua yang sudah menikah. Jika mereka ditemukan sedang melakukan aktivitas mengopure, maka mereka segera menjadi bahan pergunjingan warga kampung. Sesungguhnya tidak ada aturan formal yang membatasinya, hanya saja demikian fenomena itu berlangsung selama bertahun-tahun secara turun menurun.
Sanksi sosialnya berlaku efektif dan fungsional untuk memelihara stabilitas sosial.
Semua pihak akhirnya manut pada aturan tidak tertulis itu. Jadi ada semacam ruang produktif bagi kelompok usia 16 tahun kebawah dalam hal kegiatan agrobisnis pertanian pala di kampungku. Bagi anak-anak kaum elit kampung, semacam anak-anak dari guru-guru atau kepala sekolah, anak-anak kapitalau (kepala kampung) dan pedagang kaya yang hidup mereka berkecukupan diukur dari kepemilikan harta benda (kendaraan dan perahu bermotor), biasanya pada usia layaknya mengopure, justru mereka sibuk dengan pelesiran ke kampung-kampung tetangga atau lebih banyak aktivitasnya dalam kelompok mereka yang sederajat yang biasanya terbangun di pusat-pusat kecamatan.
Sanksi sosialnya berlaku efektif dan fungsional untuk memelihara stabilitas sosial.
Semua pihak akhirnya manut pada aturan tidak tertulis itu. Jadi ada semacam ruang produktif bagi kelompok usia 16 tahun kebawah dalam hal kegiatan agrobisnis pertanian pala di kampungku. Bagi anak-anak kaum elit kampung, semacam anak-anak dari guru-guru atau kepala sekolah, anak-anak kapitalau (kepala kampung) dan pedagang kaya yang hidup mereka berkecukupan diukur dari kepemilikan harta benda (kendaraan dan perahu bermotor), biasanya pada usia layaknya mengopure, justru mereka sibuk dengan pelesiran ke kampung-kampung tetangga atau lebih banyak aktivitasnya dalam kelompok mereka yang sederajat yang biasanya terbangun di pusat-pusat kecamatan.
Kapan Bisa Mengopur?
Setiap hari sejak senin hingga sabtu kecuali minggu, anak-anak belasan tahun di kampungku, usai jam sekolah pukul 13.00, segera setelah makan siang, bergegas mengambil patoka tergantung di sudut dapur dekat para-para yang biasanya digunakan untuk memanaskan biji pala ketika musim hujan tiba. Cuaca cerah sangat baik memulai aktivitas mengopur. Anak-anak ada yang sengaja tidak makan di rumah karena berlomba-lomba saling mendahului.
Musim hujan bukan kendala yang berarti menyurutkan semangat mereka. Hujan berkepanjangan membuat buah pala yang telah matang di beberapa tempat yang lembab dan tanahnya berhumus segera memekarkan buah muda menjadi “lenge” yang putih kemerahan. Tetapi lebih sering buah mudah telah lebih dulu mekar di musim dingin menjadi buantana. Bulan Maret, Juni dan Oktober biasanya masa eksodus burung “aheng” dan “punteng” hendak berkunjung ke komunitas “lengguh” bergabung menjadi mitra kerja sekaligus sahabat baik anak-anak, hingga mereka kian giat mengopur.
Dimana Bisa Mengopur?Musim hujan bukan kendala yang berarti menyurutkan semangat mereka. Hujan berkepanjangan membuat buah pala yang telah matang di beberapa tempat yang lembab dan tanahnya berhumus segera memekarkan buah muda menjadi “lenge” yang putih kemerahan. Tetapi lebih sering buah mudah telah lebih dulu mekar di musim dingin menjadi buantana. Bulan Maret, Juni dan Oktober biasanya masa eksodus burung “aheng” dan “punteng” hendak berkunjung ke komunitas “lengguh” bergabung menjadi mitra kerja sekaligus sahabat baik anak-anak, hingga mereka kian giat mengopur.
Kampung Laghaeng terdiri dari beberapa tempat dengan nama yang berbeda. Soal memberi nama suatu tempat, para moyang di rata-rata pulau Siau sangatlah cermat. Saya boleh merunut dari kesatuan wilayah terbesar yang disebut kampong yang di dalamnya terdapat bagian-bagian wilayah atau anak-anak desa dan dalam satu bagian wilayah terdapat sub-sub bagiannya.
Pada masa orde baru struktur pemerintahan kampong diatur menurut konsep desa sehingga kampong Laghaeng disebut desa Laghaeng dengan tiga dusun. Dusun satu ialah sanumpito, terletak di pesisir utara dari pusat pemerintahan desa. Dusun dua ialah Laghaeng, sebagai pusat pemerintahan kampong. Disini terdapat Pahempang, Tonggeng Laghaeng, Laghaeng, Peliang, Bumbahu dan Tonggeng Bumbahu (Tonggene). Kemudian dusun tiga ialah Batusenggo. Di dalamnya terdapat Sawang, Tarorane dan Lakehe. Letaknya di sebelah selatan Laghaeng induk, berbatasan persis dengan Tonggene. Lantas masih ada dusun 4 yaitu Makoa yang terletak di puncak gunung di sebelah timur Laghaeng. Ke timur Makoa terdapat desa Sawang, sudah masuk wilayah kecamatan Siau Timur (sekarang Siau Timur Selatan).
Semua nama-nama tersebut adalah nama-nama tempat yang berpenghuni. Sepanjang pesisir pantai yang menghubungkan ketiga dusun (Sanumpito – Laghaeng – Batusenggo); terdapat nama-nama tempat tak berpenghuni (hanya terdapat lahan/kebun kelapa, kebun ketela (singkong) dan tumbuhan liar - lamtoro). Tempat-tempat yang menghubungkan Sanumpito-Laghaeng disebut Singkaha, Lohangirung dan Liwua. Struktur tanahnya berpasir dan berbatu di pinggiran pantai. Sedangkan tempat yang menghubungkan antara Laghaeng-Batusenggo adalah Batulepe. Struktur tanahnya berbatu. Tanaman yang cocok disini hanyalah kelapa. Sebaliknya, nama tempat-tempat yang akan dilalui penduduk dari Laghaeng-Makoa-Sawang (Siau Kecamatan Timur) adalah tempat-tempat yang merupakan kebun pala warga di ketiga desa dan atau anak desa itu. Struktur dan ketinggian tanahnya sangat baik untuk perkebunan pala dan kurang cocok untuk tanaman kelapa.
Topografi batas-batas antara anak desa (Sanumpito-Laghaeng-Batusenggo) adalah berbukit. Nama bukit yang memisahkan Laghaeng dengan Sanumpito ialah Bukit Gembalo, sedangkan bukit yang memisahkan Laghaeng dengan Batusenggo ialah Bukit Gumahe. Sebuah anak bukit di antara Bukit Gembalo dan Bukit Gumahe ialah Bowong Peliang. Setiap daratan yang menjorok ke laut dinamakan Tonggeng sehingga ada Tonggeng Laghaeng dan Tonggeng Bumbahu. Di tempatku yaitu Peliang yang terletak di Bumbahu, terdapat nama-nama kebun seperti: Bowong Peliang, Lewae, Batutegi, Dalunge, Lengehe Matei, Pansuhe, Lohange, Nunu, Belase, Gumahe Masana dan Gumahe Marange. Pemberian nama ini ditentukan berdasarkan kondisi tanah dan nama-nama pohon. Tempat yang menjadi tujuan mengopur adalah seluruh kebun yang potensial ditumbuhi tanaman pala. Dengan demikian tidak ada aktivitas mengopur di tempat-tempat yang bernama: Singkaha, Lohangirung, Liwua dan Batulepe karena di tempat-tempat ini sangat jarang dijumpai tanaman pala.
Oleh karena batas alami perbukitan yang terkondisikan seperti itu, otomatis anak-anak Sanumpito tidak diperkenankan untuk mangopur melintas bukit gembalo dan menyebrang ke Laghaeng. Demikian pula anak-anak dari Batusenggo tidak diperkenankan untuk melintas bukit Gumahe untuk mengopur di Laghaeng. Begitu juga anak-anak dari Bumbahu tidak boleh mengopur ke Laghaeng meskipun mereka memiliki kebun sendiri di Laghaeng. Ataupun anak-anak dari Makoa tidak boleh turun ke Laghaeng maupun ke Sawang untuk tujuan mengopur.
Sebaliknya, anak-anak dari Laghaeng tidak diperkenankan memasuki wilayah anak-anak mangopur di daerah kekuasaan anak-anak mengopur di Sanumpito, Bumbahu dan Batusenggo. Bilamana ekspansi wilayah terjadi, maka dalam hitungan beberapa menit, langsung terjadi aksi kejar-kejaran di dalam perkebunan pala. Uniknya, anak-anak dari Makoa seperti kehilangan bagian teritorialnya. Di mata anak-anak mangopure dari Laghaeng, Bumbahu dan Sanumpito, keberadaan anak-anak mengopur dari Makoa adalah sangat terlarang. Wilayah kekuasan mereka hanya sebatas perkebunan pala di kisaran tepi kampungnya dan pergerakannya tidak boleh meluas.
Bagaimana Mengopur? Pada masa orde baru struktur pemerintahan kampong diatur menurut konsep desa sehingga kampong Laghaeng disebut desa Laghaeng dengan tiga dusun. Dusun satu ialah sanumpito, terletak di pesisir utara dari pusat pemerintahan desa. Dusun dua ialah Laghaeng, sebagai pusat pemerintahan kampong. Disini terdapat Pahempang, Tonggeng Laghaeng, Laghaeng, Peliang, Bumbahu dan Tonggeng Bumbahu (Tonggene). Kemudian dusun tiga ialah Batusenggo. Di dalamnya terdapat Sawang, Tarorane dan Lakehe. Letaknya di sebelah selatan Laghaeng induk, berbatasan persis dengan Tonggene. Lantas masih ada dusun 4 yaitu Makoa yang terletak di puncak gunung di sebelah timur Laghaeng. Ke timur Makoa terdapat desa Sawang, sudah masuk wilayah kecamatan Siau Timur (sekarang Siau Timur Selatan).
Semua nama-nama tersebut adalah nama-nama tempat yang berpenghuni. Sepanjang pesisir pantai yang menghubungkan ketiga dusun (Sanumpito – Laghaeng – Batusenggo); terdapat nama-nama tempat tak berpenghuni (hanya terdapat lahan/kebun kelapa, kebun ketela (singkong) dan tumbuhan liar - lamtoro). Tempat-tempat yang menghubungkan Sanumpito-Laghaeng disebut Singkaha, Lohangirung dan Liwua. Struktur tanahnya berpasir dan berbatu di pinggiran pantai. Sedangkan tempat yang menghubungkan antara Laghaeng-Batusenggo adalah Batulepe. Struktur tanahnya berbatu. Tanaman yang cocok disini hanyalah kelapa. Sebaliknya, nama tempat-tempat yang akan dilalui penduduk dari Laghaeng-Makoa-Sawang (Siau Kecamatan Timur) adalah tempat-tempat yang merupakan kebun pala warga di ketiga desa dan atau anak desa itu. Struktur dan ketinggian tanahnya sangat baik untuk perkebunan pala dan kurang cocok untuk tanaman kelapa.
Topografi batas-batas antara anak desa (Sanumpito-Laghaeng-Batusenggo) adalah berbukit. Nama bukit yang memisahkan Laghaeng dengan Sanumpito ialah Bukit Gembalo, sedangkan bukit yang memisahkan Laghaeng dengan Batusenggo ialah Bukit Gumahe. Sebuah anak bukit di antara Bukit Gembalo dan Bukit Gumahe ialah Bowong Peliang. Setiap daratan yang menjorok ke laut dinamakan Tonggeng sehingga ada Tonggeng Laghaeng dan Tonggeng Bumbahu. Di tempatku yaitu Peliang yang terletak di Bumbahu, terdapat nama-nama kebun seperti: Bowong Peliang, Lewae, Batutegi, Dalunge, Lengehe Matei, Pansuhe, Lohange, Nunu, Belase, Gumahe Masana dan Gumahe Marange. Pemberian nama ini ditentukan berdasarkan kondisi tanah dan nama-nama pohon. Tempat yang menjadi tujuan mengopur adalah seluruh kebun yang potensial ditumbuhi tanaman pala. Dengan demikian tidak ada aktivitas mengopur di tempat-tempat yang bernama: Singkaha, Lohangirung, Liwua dan Batulepe karena di tempat-tempat ini sangat jarang dijumpai tanaman pala.
Oleh karena batas alami perbukitan yang terkondisikan seperti itu, otomatis anak-anak Sanumpito tidak diperkenankan untuk mangopur melintas bukit gembalo dan menyebrang ke Laghaeng. Demikian pula anak-anak dari Batusenggo tidak diperkenankan untuk melintas bukit Gumahe untuk mengopur di Laghaeng. Begitu juga anak-anak dari Bumbahu tidak boleh mengopur ke Laghaeng meskipun mereka memiliki kebun sendiri di Laghaeng. Ataupun anak-anak dari Makoa tidak boleh turun ke Laghaeng maupun ke Sawang untuk tujuan mengopur.
Sebaliknya, anak-anak dari Laghaeng tidak diperkenankan memasuki wilayah anak-anak mangopur di daerah kekuasaan anak-anak mengopur di Sanumpito, Bumbahu dan Batusenggo. Bilamana ekspansi wilayah terjadi, maka dalam hitungan beberapa menit, langsung terjadi aksi kejar-kejaran di dalam perkebunan pala. Uniknya, anak-anak dari Makoa seperti kehilangan bagian teritorialnya. Di mata anak-anak mangopure dari Laghaeng, Bumbahu dan Sanumpito, keberadaan anak-anak mengopur dari Makoa adalah sangat terlarang. Wilayah kekuasan mereka hanya sebatas perkebunan pala di kisaran tepi kampungnya dan pergerakannya tidak boleh meluas.
Secara mendasar terdapat dua kelompok besar yang dapat dibedakan dari cara mendapatkan hasil pala dalam kegiatan agricultur petani di Siau. Cara pertama yaitu melalui pemetikan yang disebut “mengowe awi” dan kedua melalui mengowe puru (mengopur). Sebagaimana dijelaskan di atas, mengowe awi (dalam tulisan ini saya mempersingkat “mengowi”) disebut lebih sistematis dilakukan oleh orang dewasa dengan menggunakan peralatan yang dianggap lebih memadai, terrencana dan dalam skala yang relative besar. Sebaliknya, mengopur serba terbatas dari aspek penggunaan alat maupun penggunanya. Untuk menampung hasil mengowi, petani laki-laki biasanya menggunakan karung dan petani perempuan biasanya menggunakan ‘kahepo’.
Selanjutnya, bagaimana mengatur dan menentukan langkah-langkah pemetikan? Lain kelompok, lain lagi strateginya. Ungkapan ini persis berlaku dalam mekanisme kerja dua kelompok agricultur ini. Mekanisme kerja kelompok mengowe awi (mengowi) baik yang dilakukan secara individu maupun kolektif oleh beberapa orang (upahan) diawali dengan mempersiapkan dan mengidentifikasi lokasi yang menjadi sasaran mengowi. Biasanya dimulai dari tempat-tempat terjauh jangkauannya (di puncak bukit), jika teridentifikasi oleh pemilik kebun, bahwa hasil tanaman pala sudah layak dipanen.
Alat untuk memetik buah pala disebut ‘kekoi’ yang terdiri dari ‘kakambi’ dan ‘sasendeng’. Kakambi digunakan apabila jumlah buah pala yang akan dipetik sangat banyak tetapi tenaga kerja terbatas, sedangkan sasendeng digunakan bilamana pekerjaan pemetikan tidak dilakukan tergesa-gesa. Secara teknis pala yang bertumbuh pada areal kemiringan yang tajam dan tidak berbatu lebih sering menggunakan kakambi. Sedangkan pada areal yang relative landai dan berbatu petani lebih aman menggunakan sasendeng. Jika menggunakan kakambi dalam pemetikan pada areal miring dan luas, maka petani terlebih dahulu memasang alat penahan yang dibuat dari daun-daun kelapa kering. Beberapa petani menggunakan ‘soma’ atau jala ikan yang diatur bertingkat-tingkat. Baik dalam teknik pemetikan menggunakan kakambi maupun sasendeng, seorang petani berpengalaman akan selalu memulainya dari pucuk pohon terlebih dahulu dan berakhir pada pemetikan yang dilakukan dari atas tanah. Mereka tidak memulainya dari bawah atau dari yang mudah terlihat/terdekat mata, selalu harus dimulai dari atas.
Sementara pekerjaan pemetikan sedang berlangsung, sangat tabuh bagi anak-anak mengopur untuk mendekat ke lokasi pemetikan. Jika diketahui oleh sesama rekannya, akan diteriaki sebagai ‘pencuri’ dengan sebutan lebih ringan yaitu “dimuhu” (tindakan masuk tanpa izin ke kebun orang lain untuk mengambil apa yang bukan haknya). Berbeda halnya bilamana aktivitas pemetikan buah pala sudah selesai dilakukan, lalu kelompok anak-anak mengopur bersama-sama diperkenankan masuk menjelajahi seluruh sudut-sudut kebun yang baru saja hasilnya dipanen itu, untuk melakukan apa yang disebut sebagai ‘muleli’ yaitu menemukan dengan cermat buah pala yang tidak sempat ditemukan atau jatuh dari atas pohon pada saat panen baru selesai dilakukan oleh pemilik kebun. Buah pala yang diperoleh dari hasil muleli disebut sebagai ‘tiwatu’. Sanksi social yang diterapkan bagi orang yang melakukan ‘dimuhu’ itu adalah diasingkan dari pergaulan anak-anak mengopur. Dengan sendirinya anak-anak mengopur saling melakukan fungsi control social dalam menjamin tegaknya ‘kode etik’ mengopur.
Kelompok anak-anak mengopur tidak ketinggalan mengidentifikasi berbagai informasi yang berkaitan dengan aktivitas mengowi dari kelompok dewasa. Setelah mengantongi sejumlah informasi dari sesama teman, mereka kemudian mengatur rencana untuk muleli, menemukan tiwatu yang lolos dari jangkauan mata pemilik kebun. Demikian hubungan antara aktivitas kelompok dewasa dengan aktivitas kelompok anak-anak mengopur yang tampak menunjukkan adanya hubungan mutual. Kegiatan mengopur bukan sekedar akibat atau ikutan dari kegiatan mengowi.
Mengopur sesungguhnya adalah kegiatan yang mandiri, produktif dan fungsional terhadap aspek kegiatan lainnya dalam keseluruhan system agribisnis kampong yang memberikan kontribusi positif bagi tingkat kesejahteraan keluarga petani dan melangsungkan keseimbangan alam. Anak-anak mengopur tidak perlu merengek minta belas kasihan orangtua dibelikan buku, buplen dan pensil karena mereka dapat membeli sendiri dari jerih payahnya. Menikmati hiburan film-film video di rumah Lahonsili di Batusenggo pada setiap malam minggu.
Dalam manajemen perencanaan mengopur versi anak-anak kampong, tidak jauh berbeda dengan perencanaan yang dibuat oleh orang-orang dewasa. Setelah memastikan seluruh peralatan mengopur sudah lengkap, barulah anak-anak mengopur mulai beroperasi. Operasi mengopur biasanya dimulai dari kebun-kebun penduduk terjauh. Beberapa anak telah berhasil memetakan tempat-tempat yang banyak menyediakan ‘lengeh’ dan ‘pelohang’. Lengeh adalah buah pala yang sudah masak dan jatuh dari atas pohonnya sedangkan pelohang adalah buah pala yang dikeluarkan dari anus burung, biasanya buah yang lengeh menjadi makanan ‘burung aheng’ dan ‘burung punteng’. Pelohang ditemukan persis pada kebun pala yang dirindangi oleh pohon daihango, pohon aha dan pohon gumahe yang senantiasa dijadikan tempat beristirahat bagi kawanan burung-burung mitra kerja anak-anak mengopur itu. Tempat-tempat yang seperti inilah menjadi ‘tetinamang’ bagi anak-anak mengopure. Tetinamang adalah sebutan bagi suatu tempat yang telah teridentifikasi menyediakan pelohang dan lengeh bagi anak-anak mengopur. Bahkan dalam sehari kadang-kadang seorang anak bisa 3 sampai 5 kali kembali ke tatinamang dan masih menemukan hasil yang diharapkannya dari sana.
Sayangnya tetinamang ini tidak berlangsung lama, karena masih ada orang dewasa yang jahil dan tak paham sama sekali prinsip-prinsip kerja alam. Adalah Yono si pemburu liar dari Batusenggo melengkapi diri dengan senjata angin. Dengan jip dan motor trailnya tampak gagah memanggul senjata seperti sedang ikut berpartisipasi dalam perang di negeri dongeng. Di sakunya tersedia 2 pak peluru terbungkus gardus. Setiap sore Yono mentereng seperti berhasil menaklukan musuh. Membawa 2 ekor aheng seukuran ayam betina kampong tak bernyawa. Tuhe-nya merangkai raga 3 sampai 5 ekor lengguh. Yono meninggalkan hasil ujicoba ketrampilan menembak sejumlah talumisi yang bersarang di tangkai-tangkai pala, bayi talumisi kehilangan induk. Para pahlawan kebunku satu demi satu gugur. Yono bebas melakukan aksinya tanpa izin memburuh dan membunuh.
Selanjutnya, bagaimana mengatur dan menentukan langkah-langkah pemetikan? Lain kelompok, lain lagi strateginya. Ungkapan ini persis berlaku dalam mekanisme kerja dua kelompok agricultur ini. Mekanisme kerja kelompok mengowe awi (mengowi) baik yang dilakukan secara individu maupun kolektif oleh beberapa orang (upahan) diawali dengan mempersiapkan dan mengidentifikasi lokasi yang menjadi sasaran mengowi. Biasanya dimulai dari tempat-tempat terjauh jangkauannya (di puncak bukit), jika teridentifikasi oleh pemilik kebun, bahwa hasil tanaman pala sudah layak dipanen.
Alat untuk memetik buah pala disebut ‘kekoi’ yang terdiri dari ‘kakambi’ dan ‘sasendeng’. Kakambi digunakan apabila jumlah buah pala yang akan dipetik sangat banyak tetapi tenaga kerja terbatas, sedangkan sasendeng digunakan bilamana pekerjaan pemetikan tidak dilakukan tergesa-gesa. Secara teknis pala yang bertumbuh pada areal kemiringan yang tajam dan tidak berbatu lebih sering menggunakan kakambi. Sedangkan pada areal yang relative landai dan berbatu petani lebih aman menggunakan sasendeng. Jika menggunakan kakambi dalam pemetikan pada areal miring dan luas, maka petani terlebih dahulu memasang alat penahan yang dibuat dari daun-daun kelapa kering. Beberapa petani menggunakan ‘soma’ atau jala ikan yang diatur bertingkat-tingkat. Baik dalam teknik pemetikan menggunakan kakambi maupun sasendeng, seorang petani berpengalaman akan selalu memulainya dari pucuk pohon terlebih dahulu dan berakhir pada pemetikan yang dilakukan dari atas tanah. Mereka tidak memulainya dari bawah atau dari yang mudah terlihat/terdekat mata, selalu harus dimulai dari atas.
Sementara pekerjaan pemetikan sedang berlangsung, sangat tabuh bagi anak-anak mengopur untuk mendekat ke lokasi pemetikan. Jika diketahui oleh sesama rekannya, akan diteriaki sebagai ‘pencuri’ dengan sebutan lebih ringan yaitu “dimuhu” (tindakan masuk tanpa izin ke kebun orang lain untuk mengambil apa yang bukan haknya). Berbeda halnya bilamana aktivitas pemetikan buah pala sudah selesai dilakukan, lalu kelompok anak-anak mengopur bersama-sama diperkenankan masuk menjelajahi seluruh sudut-sudut kebun yang baru saja hasilnya dipanen itu, untuk melakukan apa yang disebut sebagai ‘muleli’ yaitu menemukan dengan cermat buah pala yang tidak sempat ditemukan atau jatuh dari atas pohon pada saat panen baru selesai dilakukan oleh pemilik kebun. Buah pala yang diperoleh dari hasil muleli disebut sebagai ‘tiwatu’. Sanksi social yang diterapkan bagi orang yang melakukan ‘dimuhu’ itu adalah diasingkan dari pergaulan anak-anak mengopur. Dengan sendirinya anak-anak mengopur saling melakukan fungsi control social dalam menjamin tegaknya ‘kode etik’ mengopur.
Kelompok anak-anak mengopur tidak ketinggalan mengidentifikasi berbagai informasi yang berkaitan dengan aktivitas mengowi dari kelompok dewasa. Setelah mengantongi sejumlah informasi dari sesama teman, mereka kemudian mengatur rencana untuk muleli, menemukan tiwatu yang lolos dari jangkauan mata pemilik kebun. Demikian hubungan antara aktivitas kelompok dewasa dengan aktivitas kelompok anak-anak mengopur yang tampak menunjukkan adanya hubungan mutual. Kegiatan mengopur bukan sekedar akibat atau ikutan dari kegiatan mengowi.
Mengopur sesungguhnya adalah kegiatan yang mandiri, produktif dan fungsional terhadap aspek kegiatan lainnya dalam keseluruhan system agribisnis kampong yang memberikan kontribusi positif bagi tingkat kesejahteraan keluarga petani dan melangsungkan keseimbangan alam. Anak-anak mengopur tidak perlu merengek minta belas kasihan orangtua dibelikan buku, buplen dan pensil karena mereka dapat membeli sendiri dari jerih payahnya. Menikmati hiburan film-film video di rumah Lahonsili di Batusenggo pada setiap malam minggu.
Dalam manajemen perencanaan mengopur versi anak-anak kampong, tidak jauh berbeda dengan perencanaan yang dibuat oleh orang-orang dewasa. Setelah memastikan seluruh peralatan mengopur sudah lengkap, barulah anak-anak mengopur mulai beroperasi. Operasi mengopur biasanya dimulai dari kebun-kebun penduduk terjauh. Beberapa anak telah berhasil memetakan tempat-tempat yang banyak menyediakan ‘lengeh’ dan ‘pelohang’. Lengeh adalah buah pala yang sudah masak dan jatuh dari atas pohonnya sedangkan pelohang adalah buah pala yang dikeluarkan dari anus burung, biasanya buah yang lengeh menjadi makanan ‘burung aheng’ dan ‘burung punteng’. Pelohang ditemukan persis pada kebun pala yang dirindangi oleh pohon daihango, pohon aha dan pohon gumahe yang senantiasa dijadikan tempat beristirahat bagi kawanan burung-burung mitra kerja anak-anak mengopur itu. Tempat-tempat yang seperti inilah menjadi ‘tetinamang’ bagi anak-anak mengopure. Tetinamang adalah sebutan bagi suatu tempat yang telah teridentifikasi menyediakan pelohang dan lengeh bagi anak-anak mengopur. Bahkan dalam sehari kadang-kadang seorang anak bisa 3 sampai 5 kali kembali ke tatinamang dan masih menemukan hasil yang diharapkannya dari sana.
Sayangnya tetinamang ini tidak berlangsung lama, karena masih ada orang dewasa yang jahil dan tak paham sama sekali prinsip-prinsip kerja alam. Adalah Yono si pemburu liar dari Batusenggo melengkapi diri dengan senjata angin. Dengan jip dan motor trailnya tampak gagah memanggul senjata seperti sedang ikut berpartisipasi dalam perang di negeri dongeng. Di sakunya tersedia 2 pak peluru terbungkus gardus. Setiap sore Yono mentereng seperti berhasil menaklukan musuh. Membawa 2 ekor aheng seukuran ayam betina kampong tak bernyawa. Tuhe-nya merangkai raga 3 sampai 5 ekor lengguh. Yono meninggalkan hasil ujicoba ketrampilan menembak sejumlah talumisi yang bersarang di tangkai-tangkai pala, bayi talumisi kehilangan induk. Para pahlawan kebunku satu demi satu gugur. Yono bebas melakukan aksinya tanpa izin memburuh dan membunuh.
Pesan Penulis:
Banyak sisi lain yang merupakan penyimpangan terhadap kode etik mengopur bagi anak-anak Laghaeng serta perkembangan cara menanganinya, yang tak diungkap dalam artikel ini. Tetapi penulis hanya bermaksud untuk menegaskan kembali, bahwa mangopur adalah sebuah kearifan local yang perlu dipertimbangkan dalam tata kelola agribisnis pada tataran sangat lokalistik. Di setiap kampong tidak hanya di Laghaeng, pernah hidup kearifan ini. Oleh sebab itu, guna merancang sebuah strategi pengembangan agrobisnis yang hendak melipatgandakan jumlah dan mutu produksi pala di Siau, para pemangku kepentingan hendaklah tidak melupahkan satu tatanan ini.@@@
Langganan:
Postingan (Atom)
