Gunde adalah tarian asli dari masyarakat SaTaS yang ditemukan sejak masa kedatuan zaman dulu sekitar abad ke 15. Gunde berasal dari kata "gundeng" yang berarti pelayan istana. Pekerjaan para gundeng masa itu, antara lain mencatat berbagai keperluan datu (raja) dan keluarganya di dalam ...kedatuan. Selain itu juga mencatat berbagai hal terkait dengan fungsi penyelenggaraan kekuasaan datu. Dalam menjalankan fungsi kedatuan, datu dibantu oleh "Komolang Bobatung Datu", yaitu mereka yang bertugas untuk memberikan nasehat terkait penyelenggaraan pemerintahan kepada datu sehingga pemerintahan dapat berjalan efektif sesuai dengan kebutuhan dan kehendak bala rakyat.
Demikian penting peranan para gundeng dalam menegakkan kebijakan datu sekaligus menjamin keamanan lingkungan internal kedatuan. Para gundeng tidak diposisikan sebagai budak, melainkan pelayan datu yang bertanggungjawab, mereka mendapatkan perlakuan istimewa dari bala rakyat, bahkan dikategorikan sebagai kelompok terhormat dalam struktur dan tatanan nilai kedatuan. Mereka tidak berani mengambil harta kekayaan kedatuan karena loyalitas mereka pada nilai-nilai bersama, bukan sekedar kepatuhan pada datu. Datu pun demikian, ia tidak mengumpulkan harta kekayaan untuk kepentingan memperkaya diri meskipun hal itu memungkinkan dia untuk melakukan dengan otoritas yang dimilikinya. Sebaliknya seperti yang pernah dilakukan datu Lemuel David, memerintahkan rakyat untuk menanam pala di seantero wilayah kedatuan menjadi milik rakyat.
Peranan gundeng masa lalu itu relevan dengan peranan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam era otda dewasa ini. Demikian juga kearifan dan kebijaksanaan datu waktu itu sangat relevan dengan posisi bupati dan wakilnya saat ini. Mereka bekerja mengurus segala keperluan daerah (baca: rakyat). Realitas yang terjadi dewasa ini justru mengalami distorsi peran sehingga rakyat mulai bangkit untuk melakukan perlawanan. Resistensi mulai terjadi di beberapa kelas sosial yang berpotensi terjadinya chaos dalam sistem pemerintahan baik internal (sesama PNS dalam satu instansi) maupun eksternal (inter dan antar instansi) serta mempengaruhi stabilitas tatanan kehidupan bersama di Sitaro. Pejabat membeli hak milik masyarakat dari hasil gajinya selaku pejabat negara, pejabat yang lain melakukan korupsi, pejabat yang lain lagi sibuk memindah-mindahkan staf dari satu tempat ke tempat lain tanpa alasan yang jelas, proyek-proyek batal ditenderkan, proyek-proyek yang ditenderkan tidak mempunyai output yang terukur dan hanya menghasilkan monumen-monumen yang mubazir, arah pembangunan tidak memiliki konsep strategis. Para gundeng yang direkrut saat ini justru banyak yang bukan putra daerah sehingga mereka bebas menari-nari di atas penderitaan rakyat Sitaro setelah mereka dinyatakan lulus dari tes CPNS.
Komponen pemerintahan lain yaitu DPRD, belum sedikitpun mencerminkan ciri-ciri seperti yang diperankan oleh KBD (Komolang Bobatung Datu), karena sebagian besar belum memahami peranannya dalam fungsi legislasi. Untuk maksud menemukan peranan itu mereka lebih banyak keluar daerah untuk mengikuti berbagai "pelatihan ketangkasan" agar bisa menjadi kompeten sepanjang lima tahun masa jabatan mereka dan pada lima tahun berikutnya mereka hampir pasti tidak terpilih lagi.
Oleh karena itu saudara-saudaraku, marilah kita belajar pada tatanan nilai yang pernah kita cetak sebagai sebuah bangsa yang sangat bermartabat di masa lampau. Seharusnya kita berkembang kearah progres yang lebih baik dari masa lalu. Pergerakan hendaknya dibangun di atas nilai-nilai bersama. Kita adalah bangsa yang kuat nilai persatuan dan kesatuannya. Mengapa hari ini seakan-akan kita sudah lupa pada filosofi yang pernah digagas oleh pendahulu-pendahulu kita, yaitu: Taumatang Siau Kere Kiasong Tahiti, Maning Tontongang Mang Mu Tumbiki, dimana maknanya adalah orang-orang Siau (baca: Sitaro) takan mudah jatuh meski digoncang kerasnya kehidupan. Hiduplah rakyatku. Bangkitlah dan bersatu melawan kelaliman di negeri kita.
Senin, 16 Agustus 2010
Tantangan Perempuan Pesisir Indonesia
Negara kita memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km (terpanjang ke-2 setelah kanada). Wilayah perairan Indonesia adalah 75,3% dari total wilayah NKRI (9,8juta Km2). Laut Indonesia memiliki sekitar 8.500 spesies ikan, 555 jenis rumput laut dan 950 jenis terumbu karang. Kemiskinan dan keterbelakangan lekat dengan keluarga nelayan yang bergelut dengan kekayaan laut (70% nelayan Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan) 82% nelayan berpendidikan sekolah dasar kebawah sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi laut secara optimal & pengolahan ikan menjadi terbatas (segar & kering). Sarana & prasarana tidak memadai (kapal kecil & teknologi rendah, BBM susah, fasilitas pendingin minim, lembaga pembiayaan tidak mendukung, dll).
Pembangunan membutuhkan tenaga dan fikiran perempuan dan laki-laki. Pemberian kesempatan yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki sebagai pelaksana pembangunan berarti Inefisiensi. Demikian juga pemberian kesempatan yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki dalam menikmati hasil pembangunan berarti melanggar HAM. Fakta menunjukan bahwa perempuan kurang dapat berpartisipasi dan menikmati akses/fasilitas: Pendidikan, Kesehatan; Pekerjaan; Upah yang sama untuk jenis pekerjaan yang sama; Akses ke kredit; Kesempatan mewakili Daerah di forum nasional/nasional di forum internasional; dsb.
Rendahnya angka HDI Indonesia (Index Pembangunan Manusia Indonesia thn 2002 urutan 112 dari 175 negara or terburuk di ASEAN) disebabkan oleh rendahya kualitas hidup perempuan Indonesia yang notabene jumlahnya lebih dari 50% Penduduk Indonesia. Mengingat besarnya jumlah perempuan Indonesia dan rendahnya kualitas hidup perempuan, maka peningkatan HDI (Human Development Index) Indonesia hanya bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas SDM-nya.
Perempuan yang belum melek huruf sebanyak 14,06% (di desa 19,20% sementara pria 9,63%). Perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan SLTP keatas 36,9% sementara pria sebanyak 46%. Perempuan yang menikmati pendidikan tinggi 3,06% sementara pria 4,17%. (Susenas, 2000). Angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas tinggi yaitu 307/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian Balita sebesar 46/1000 kelahiran hidup. Rendahnya kualitas hidup perempuan dibidang kesehatan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, perilaku masyarakat termasuk perempuan sendiri, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Sementara perilaku masyarakat dipengaruhi oleh pengetahuan, pendidikan, pelatihan, akses terhadap informasi, sarana, dukungan sosial, dsb.
Banyaknya perempuan Indonesia yang bekerja sebagai TKW (pembantu rumah tangga), prostitusi dan trafficking menunjukan permasalahan perempuan dibidang ekonomi tidak terlepas dari kemiskinan. Perempuan dari keluarga miskin sulit berfikir jernih dan terbuka dalam menatap kedepan. Penerapan teknologi Pertanian dan adanya industrialisasi menyebabkan perempuan terlempar dari pekerjaan pertanian, beralih menjadi buruh pabrik atau berusaha pada skala mikro. Krisis keuangan berakibat pada banyaknya buruh di-PHK. Perempuan rentan terhadap PHK. Di perkotaan perempuan ini banyak yang bergelut di sektor informal (PKL). Permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha mikro umumnya berkaitan dengan: modal, kualitas produk dan pasar. Khusus untuk PKL, mereka juga dihadapkan oleh masalah keamanan berusaha.
Tantangan Intern (dari dalam diri perempuan) adalah 1. Sulit saving pendapatan, untuk menambah tingkat pendidikan dirinya atau anak perempuannya, 2. Merasa cukup dengan “bekal” yang dimilikinya dan enggan meningkatkan pendidikannya, sehingga menyebabkan rendahnya kreativitas, 3. Sulit meningkatkan Rasa Percaya diri, dan 4. Sulit merubah Attitude (cara berfikir, merasa dan bertingkahlaku). Sedangkan Tantangan Ekstern (dari luar diri Perempuan) antara lain: 1) Adanya pandangan bahwa pelaksana pembangunan adalah pria sementara fungsi perempuan hanya dibatasi pada “sumur, dapur dan kasur”. 2) Pandangan “miring” terhadap perempuan berstatus Janda (terlebih pada janda yang masih muda, cantik dan ramah), 3.“Women Vs Women” yaitu perempuan tidak rela bila “bos” dan/atau “bawahan” suaminya, perempuan sadar/tidak sadar hal ini akan membatasi akses perempuan pada dunia kerja sehingga perempuan sulit mendapatkan lapangan kerja, dan 4. Terbatasnya sarana/prasarana; keamanan lingkungan perempuan sulit/tidak berani keluar rumah untuk bekerja.
Jumlah perempuan lebih dari 50% jumlah penduduk Indonesia. Jika jumlah yang besar tersebut tidak dioptimalkan fungsi dan perannya, niscaya hanya akan menjadi beban pembangunan. Agar fungsi dan peran perempuan (terutama pesisir) dalam pembangunan Indonesia bisa optimal, maka kualitas SDM perempuan harus ditingkatkan. Peningkatan SDM tidak harus menunggu program pemerintah, kita semua (individu/ organisasi terlebih organisasi perempuan) berkewajiban meningkatkan SDM Perempuan Indonesia. Peningkatan pendidikan tidak harus formal, tapi juga bisa secara non formal maupun informal. Kalau perempuan dan organisasi perempuan Indonesia bersatu, bahu membahu berjuang meningkatkan SDM perempuan (yang juga berarti SDM Indonesia) tanpa diwarnai “kecurigaan” dan ketakutan antar perempuan niscaya negara kita akan segera sejahtera.
Semoga perempuan Indonesia makin berjaya.
Pembangunan membutuhkan tenaga dan fikiran perempuan dan laki-laki. Pemberian kesempatan yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki sebagai pelaksana pembangunan berarti Inefisiensi. Demikian juga pemberian kesempatan yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki dalam menikmati hasil pembangunan berarti melanggar HAM. Fakta menunjukan bahwa perempuan kurang dapat berpartisipasi dan menikmati akses/fasilitas: Pendidikan, Kesehatan; Pekerjaan; Upah yang sama untuk jenis pekerjaan yang sama; Akses ke kredit; Kesempatan mewakili Daerah di forum nasional/nasional di forum internasional; dsb.
Rendahnya angka HDI Indonesia (Index Pembangunan Manusia Indonesia thn 2002 urutan 112 dari 175 negara or terburuk di ASEAN) disebabkan oleh rendahya kualitas hidup perempuan Indonesia yang notabene jumlahnya lebih dari 50% Penduduk Indonesia. Mengingat besarnya jumlah perempuan Indonesia dan rendahnya kualitas hidup perempuan, maka peningkatan HDI (Human Development Index) Indonesia hanya bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas SDM-nya.
Perempuan yang belum melek huruf sebanyak 14,06% (di desa 19,20% sementara pria 9,63%). Perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan SLTP keatas 36,9% sementara pria sebanyak 46%. Perempuan yang menikmati pendidikan tinggi 3,06% sementara pria 4,17%. (Susenas, 2000). Angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas tinggi yaitu 307/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian Balita sebesar 46/1000 kelahiran hidup. Rendahnya kualitas hidup perempuan dibidang kesehatan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, perilaku masyarakat termasuk perempuan sendiri, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Sementara perilaku masyarakat dipengaruhi oleh pengetahuan, pendidikan, pelatihan, akses terhadap informasi, sarana, dukungan sosial, dsb.
Banyaknya perempuan Indonesia yang bekerja sebagai TKW (pembantu rumah tangga), prostitusi dan trafficking menunjukan permasalahan perempuan dibidang ekonomi tidak terlepas dari kemiskinan. Perempuan dari keluarga miskin sulit berfikir jernih dan terbuka dalam menatap kedepan. Penerapan teknologi Pertanian dan adanya industrialisasi menyebabkan perempuan terlempar dari pekerjaan pertanian, beralih menjadi buruh pabrik atau berusaha pada skala mikro. Krisis keuangan berakibat pada banyaknya buruh di-PHK. Perempuan rentan terhadap PHK. Di perkotaan perempuan ini banyak yang bergelut di sektor informal (PKL). Permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha mikro umumnya berkaitan dengan: modal, kualitas produk dan pasar. Khusus untuk PKL, mereka juga dihadapkan oleh masalah keamanan berusaha.
Tantangan Intern (dari dalam diri perempuan) adalah 1. Sulit saving pendapatan, untuk menambah tingkat pendidikan dirinya atau anak perempuannya, 2. Merasa cukup dengan “bekal” yang dimilikinya dan enggan meningkatkan pendidikannya, sehingga menyebabkan rendahnya kreativitas, 3. Sulit meningkatkan Rasa Percaya diri, dan 4. Sulit merubah Attitude (cara berfikir, merasa dan bertingkahlaku). Sedangkan Tantangan Ekstern (dari luar diri Perempuan) antara lain: 1) Adanya pandangan bahwa pelaksana pembangunan adalah pria sementara fungsi perempuan hanya dibatasi pada “sumur, dapur dan kasur”. 2) Pandangan “miring” terhadap perempuan berstatus Janda (terlebih pada janda yang masih muda, cantik dan ramah), 3.“Women Vs Women” yaitu perempuan tidak rela bila “bos” dan/atau “bawahan” suaminya, perempuan sadar/tidak sadar hal ini akan membatasi akses perempuan pada dunia kerja sehingga perempuan sulit mendapatkan lapangan kerja, dan 4. Terbatasnya sarana/prasarana; keamanan lingkungan perempuan sulit/tidak berani keluar rumah untuk bekerja.
Jumlah perempuan lebih dari 50% jumlah penduduk Indonesia. Jika jumlah yang besar tersebut tidak dioptimalkan fungsi dan perannya, niscaya hanya akan menjadi beban pembangunan. Agar fungsi dan peran perempuan (terutama pesisir) dalam pembangunan Indonesia bisa optimal, maka kualitas SDM perempuan harus ditingkatkan. Peningkatan SDM tidak harus menunggu program pemerintah, kita semua (individu/ organisasi terlebih organisasi perempuan) berkewajiban meningkatkan SDM Perempuan Indonesia. Peningkatan pendidikan tidak harus formal, tapi juga bisa secara non formal maupun informal. Kalau perempuan dan organisasi perempuan Indonesia bersatu, bahu membahu berjuang meningkatkan SDM perempuan (yang juga berarti SDM Indonesia) tanpa diwarnai “kecurigaan” dan ketakutan antar perempuan niscaya negara kita akan segera sejahtera.
Semoga perempuan Indonesia makin berjaya.
Pemiskinan Struktural
Masyarakat petani pala di Siau sejak beratus tahun yang lalu, kurang lebih dimulai tahun 1818, raja Lemuel David telah menginstruksikan agar rakyat menanam pala di atas tanah kebunnya sendiri. Mereka kemudian memiliki kebun itu dan mewariskannya kepada anak-anak cucu hingga pada generasi ke tiga dan keempat dewasa ini. Pada tahun-tahun kemudian, Brillman pernah mencatat dalam bukunya Kabar Baik Dari Bibir Pasifik, bahwa pada tahun 1935 di Ulu sudah terdapat pedagang-pedagang Cina yang membeli hasil pertanian pala dari penduduk Siau dan dijual ke Eropa. Sepanjang sejarah, kontribusi tanaman miristica franganhouts ini sangat signifikan menopang kebutuhan masyarakat untuk bertahan hidup. Pernah sekali membuat terobosan sebagai pala terbaik dunia sekitar tahun 1980-an.
Pada masa krisis ekonomi melanda bangsa-bangsa di dunia, para petani pala Siau justru hidup dengan bergelimang uang. Ada yang dapat membangun rumah saudara-saudaranya di rantau, membeli lemari es, memasang teghel rumah, renovasi rumah menjadi bertingkat, hingga kaleng-kaleng bir berseliweran di kebun-kebun pala karena petani mengkonsumsi jerih payah mereka secara "berlebihan/konsumtif". Oleh sebab itu, para pelaku usaha dalam bidang yang lain melihat kesempatan itu sebagai peluang untuk mengembangkan usaha di Siau. Kondisi dadakan ini terjadi kurang lebih selama 2 tahun.
Datanglah kemudian para migran dari kota-kota (Manado/Gorontalo, Makasar dan Jawa) membentuk komunitas rural di dekat pasar Ulu dan pasar Ondong. Komunitas rural ini bertahan hidup lebih baik dari penduduk lokal. Ketika krisis ekonomi relatif membaik, maka terjadi situasi normal dan masyarakat yang tak sempat mengelola penghasilannya dengan maksimal kembali menjadi miskin, ada yang telah mengadaikan atau menyewakan kebunnya kepada pembeli (orang cina) untuk menebus hutang mereka bahkan ada yang menjual hak kepemilikan atas tanah dan kebun mereka kepada orang cina, makasar dan para pendatang lainnya. Akhirnya tidak sedikit orang-orang asing yang tadinya tidak memiliki lahan atau kebun pala, sekarang sudah memilikinya. Tuan tanah menjadi tamu di negerinya sendiri. Inilah yang dinamakan sebagai kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh mobilitas sosial vertikal yang terstruktur.
Pada situasi seperti ini, pemerintah seharusnya bersikap proaktif dalam mengantisipasi berkembangnya fenomena konflik sosial yang bakal terjadi dikemudian hari, akibat dari struktur yang berubah drastis itu. Saat dimana masyarakat menjadi lapar (miskin), maka sangat rentan terhadap konflik sosial. Ironisnya, saya mendapat kabar dari sumber yang sangat terpercaya tentang sebuah upaya yang tengah dilakukan oleh salah satu pejabat daerah di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Kabar itu mengenai adanya usaha dari sekelompok orang yang sengaja diorganisir untuk mendapatkan sejumlah informasi dari penduduk di kampung-kampung yang berniat untuk menjual tanah hak milik yang di atasnya terdapat tanaman pala. Setelah mendapatkan informasi yang memadai, maka sang pejabat itu melakukan transaksi baik pembelian dengan perpindahan hak penuh kepada pembeli, maupun dengan sistem jual gadai atau sistem sewa.
Jelaslah bahwa pemerintah Sitaro sengaja membiarkan fenomena ini terjadi, mala nimbrung bersama kelompok kapitalis lain untuk turut menyengsarakan rakyatnya sendiri, setelah mereka selesai menguras uang negara, lantas semakin rakus mengeksploitasi hak milik rakyatnya. Mereka sengaja tidak membuat regulasi terhadap pengelolaan komoditi unggulan itu untuk kepentingan membangun kesejahteraan rakyat. Kemungkinan lain adalah mereka tidak tahu cara membuat regulasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Visi dan misi yang disampaikan sewaktu Pilkada dan Pemilu yang lalu tak satupun terbukti. Sebaliknya di Sitaro kini justru tengah terjadi sebuah misi yang sangat mustahil, yaitu Misi Pemiskinan Struktural. Kelak disuatu waktu nanti, saudara-saudara kita yang hidup disana akan jatuh miskin dan menjadi peminta-minta di ruas-ruas jalan Ondong dan Ulu, menjadi orang gila yang duduk di leput-leput, anak-anak kita senantiasa meratap, menjadi anak-anak yang kurang gizi dan pembodohan terjadi dimana-mana. Berdiam dirikah kita bila fenomena itu dibiarkan...???
Pada masa krisis ekonomi melanda bangsa-bangsa di dunia, para petani pala Siau justru hidup dengan bergelimang uang. Ada yang dapat membangun rumah saudara-saudaranya di rantau, membeli lemari es, memasang teghel rumah, renovasi rumah menjadi bertingkat, hingga kaleng-kaleng bir berseliweran di kebun-kebun pala karena petani mengkonsumsi jerih payah mereka secara "berlebihan/konsumtif". Oleh sebab itu, para pelaku usaha dalam bidang yang lain melihat kesempatan itu sebagai peluang untuk mengembangkan usaha di Siau. Kondisi dadakan ini terjadi kurang lebih selama 2 tahun.
Datanglah kemudian para migran dari kota-kota (Manado/Gorontalo, Makasar dan Jawa) membentuk komunitas rural di dekat pasar Ulu dan pasar Ondong. Komunitas rural ini bertahan hidup lebih baik dari penduduk lokal. Ketika krisis ekonomi relatif membaik, maka terjadi situasi normal dan masyarakat yang tak sempat mengelola penghasilannya dengan maksimal kembali menjadi miskin, ada yang telah mengadaikan atau menyewakan kebunnya kepada pembeli (orang cina) untuk menebus hutang mereka bahkan ada yang menjual hak kepemilikan atas tanah dan kebun mereka kepada orang cina, makasar dan para pendatang lainnya. Akhirnya tidak sedikit orang-orang asing yang tadinya tidak memiliki lahan atau kebun pala, sekarang sudah memilikinya. Tuan tanah menjadi tamu di negerinya sendiri. Inilah yang dinamakan sebagai kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh mobilitas sosial vertikal yang terstruktur.
Pada situasi seperti ini, pemerintah seharusnya bersikap proaktif dalam mengantisipasi berkembangnya fenomena konflik sosial yang bakal terjadi dikemudian hari, akibat dari struktur yang berubah drastis itu. Saat dimana masyarakat menjadi lapar (miskin), maka sangat rentan terhadap konflik sosial. Ironisnya, saya mendapat kabar dari sumber yang sangat terpercaya tentang sebuah upaya yang tengah dilakukan oleh salah satu pejabat daerah di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Kabar itu mengenai adanya usaha dari sekelompok orang yang sengaja diorganisir untuk mendapatkan sejumlah informasi dari penduduk di kampung-kampung yang berniat untuk menjual tanah hak milik yang di atasnya terdapat tanaman pala. Setelah mendapatkan informasi yang memadai, maka sang pejabat itu melakukan transaksi baik pembelian dengan perpindahan hak penuh kepada pembeli, maupun dengan sistem jual gadai atau sistem sewa.
Jelaslah bahwa pemerintah Sitaro sengaja membiarkan fenomena ini terjadi, mala nimbrung bersama kelompok kapitalis lain untuk turut menyengsarakan rakyatnya sendiri, setelah mereka selesai menguras uang negara, lantas semakin rakus mengeksploitasi hak milik rakyatnya. Mereka sengaja tidak membuat regulasi terhadap pengelolaan komoditi unggulan itu untuk kepentingan membangun kesejahteraan rakyat. Kemungkinan lain adalah mereka tidak tahu cara membuat regulasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Visi dan misi yang disampaikan sewaktu Pilkada dan Pemilu yang lalu tak satupun terbukti. Sebaliknya di Sitaro kini justru tengah terjadi sebuah misi yang sangat mustahil, yaitu Misi Pemiskinan Struktural. Kelak disuatu waktu nanti, saudara-saudara kita yang hidup disana akan jatuh miskin dan menjadi peminta-minta di ruas-ruas jalan Ondong dan Ulu, menjadi orang gila yang duduk di leput-leput, anak-anak kita senantiasa meratap, menjadi anak-anak yang kurang gizi dan pembodohan terjadi dimana-mana. Berdiam dirikah kita bila fenomena itu dibiarkan...???
Segenggam Garam Atasi Segunung Masalah
Kisah ini untuk kekasihku yang paling aku cintai dan saudara2ku yang aku kasihi. Simaklah baik-baik.
Suatu ketika, seorang gadis muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai, raut mukanya muram. Ia berjalan menyusuri telaga kecil dan singgah di sebuah pondok. Di pondok itu ada seorang kakek. Tanpa buang waktu gadis kecil itu menceritakan semua masalahnya. Kakek yang bijaksana mendengarkannya dengan seksama. Lalu kakek mengambil segenggam garam dan sebuah gelas berisi air minum. Ditaburkanlah garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
Coba kamu minum ini dan katakan bagaimana rasanya" ujar pak tua itu.
Pahit, pahit sekali!!!... jawab si gadis sambil meludah kesamping luar pondok.
Kakek itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak gadis ini berjalan menyusuri tepi telaga. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke bagian telaga yang paling tenang. Kakek itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu.
Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah, saran kakek.
Saat gadis itu selesai mereguk air itu, pak tua berkata lagi: "bagaimana rasanya?."
Segar,... sahut si gadis. Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu? tanya pak tua lagi. Tidak....., jawab si gadis lugu itu.
Dengan bijak Kakek itu menepuk-nepuk punggung si anak muda . ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
Katanya: "anak muda, dengarlah... pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. jumlah dan rasa pahit itu sama dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan, yaitu lapangkanlah dadamu menerima semuanya lantas luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.
Kakek itu memberikan nasehat penutup, "hatimu, perasaanmu dan kalbumu adalah wadah itu, yaitu tempat kamu menampung segala-galanya selama hidup. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Kakek bijak itu kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Saudara2ku: Tetaplah hidup dalam harmoni yang indah. Ketahuilah, dalam memberikan nama bagi anakku "Marsel "Field" Kaghoo, kata ditengahnya mengandung makna Hati Yang Lapang.
Suatu ketika, seorang gadis muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai, raut mukanya muram. Ia berjalan menyusuri telaga kecil dan singgah di sebuah pondok. Di pondok itu ada seorang kakek. Tanpa buang waktu gadis kecil itu menceritakan semua masalahnya. Kakek yang bijaksana mendengarkannya dengan seksama. Lalu kakek mengambil segenggam garam dan sebuah gelas berisi air minum. Ditaburkanlah garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
Coba kamu minum ini dan katakan bagaimana rasanya" ujar pak tua itu.
Pahit, pahit sekali!!!... jawab si gadis sambil meludah kesamping luar pondok.
Kakek itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak gadis ini berjalan menyusuri tepi telaga. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke bagian telaga yang paling tenang. Kakek itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu.
Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah, saran kakek.
Saat gadis itu selesai mereguk air itu, pak tua berkata lagi: "bagaimana rasanya?."
Segar,... sahut si gadis. Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu? tanya pak tua lagi. Tidak....., jawab si gadis lugu itu.
Dengan bijak Kakek itu menepuk-nepuk punggung si anak muda . ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
Katanya: "anak muda, dengarlah... pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. jumlah dan rasa pahit itu sama dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan, yaitu lapangkanlah dadamu menerima semuanya lantas luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.
Kakek itu memberikan nasehat penutup, "hatimu, perasaanmu dan kalbumu adalah wadah itu, yaitu tempat kamu menampung segala-galanya selama hidup. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Kakek bijak itu kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Saudara2ku: Tetaplah hidup dalam harmoni yang indah. Ketahuilah, dalam memberikan nama bagi anakku "Marsel "Field" Kaghoo, kata ditengahnya mengandung makna Hati Yang Lapang.
Minggu, 13 Juni 2010
Mengejar Mimpi (1)

Dari puncak bukit kecil disebut rukue, kala matahari agak meninggi, mulai ada sedikit keraguan dan buru-buru kami memandang ke tengah-tengah kampung Sanumpito, bila pucuk tiang bendera kosong berarti kelas belum masuk, sebaliknya bila merah putih tlah berkibar di ujung tiangnya, kelas sedang berlangsung. Itulah simbol yang kami tandai bilamana dalam tiga per empat perjalanan menuju SDN Inpres Sanumpito yang bebas biaya pendidikannya tetapi sungguh jauh lokasinya bagi anak seukuran kami. Aku harus bagun pagi-pagi membersihkan tempat tidur, dapur dan halaman rumah, baru berangkat ke sekolah dengan "titania" bertelapak sobek karena aus selama 4 tahun pemakaian tak diganti-ganti. Sekali waktu, bendera telah berkibar dan aku ngotot meneruskan perjalanan. Tiga kawanku yang lain menyatakan kembali ke kampung. Karena kerasnya tekadku sebagai "pengkhianat" dalam perspektif kerdil mereka, akupun dihajar dengan mistar kayu di betisku, sebelum nanti dihajar guru karena terlambat.
Situasi itu sering terjadi, hingga pelajaran tentang makna yang lain akhirnya mengubah pandangan kami sekeluarga tentang bahayanya sekolah jauh. Aku terkapar hilang kesadaran setelah pelajaran siang dilanjutkan less sore dan aku bertahan tidak makan siang itu. Sore pukul 5 less usai, aku melangkah gontai pulang ke rumah, kulahap sebuah pala muda di jalan menuju kampungku. Entah karena zat apa dalam buah pala itu, membuat aku seketika tertidur di sebuah regel di Liwua. Akupun kaget terbangun pukul 21.00 dan pamanku berada di samping sambil meneteskan air matanya. Air mata yang membuat aku siuman. Keesokkan hari aku dipindahkan ke SD YPK Laghaeng, sekolah yang berada di belakang rumah kami. Tapi di sekolah itu aku harus bayar. Tidak apa2, kata paman,...... karena tinggal sekelas lagi aku segra tamat. Sejak saat itu aku sangat berkeinginan menjadi guru.
Setahun kemudian kepala kampung mendapat kehormatan untuk memberikan secara langsung lembaran Nilai Ebtanas Tertinggi dari puluhan siswa berseragam putih merah. Aku, anak tanpa ayah yang kerap ditinggalkan kerabatnya karena eksodus, menerima lembaran itu dari tangan kepala kampung. Uniknya, aku itu tidak tercatat sebagai juara. Aku menempati posisi keempat dalam hierarki penjuaraan sekolah. Di tempat pertama diduduki oleh putri sekretaris kampung. Demikian sekolah mengeluarkan kebijakan tentang kategori prestasi anak didik di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen milik Jemaat Efrata Laghaeng. Aku tidak melakukan protes, karena belum begitu mengerti dengan waham besar para penentu kebijakan internal sekolah. Aku menjadi siswa pendiam dengan sejuta heran dan seribu tanya.
Nyaris Mati
Nepo tetanggaku, nama lain dari Charlis, memberiku hadiah sepiring teh benda menyerupai gula yang nampak membeku. Maklum karena aku suka gula-gula. Kunikmati gula-gula itu sebagai hadiah bagi sang juara empat yang diberikan dengan tulus hati oleh seseorang yang kuanggap sebagai kakak sendiri. Hadiah Nepo adalah Pupuk Urea. Sungguh aku tidak tahu barang itu. Tubuhku tiba-tiba lemas dan rahangku seakan-akan tak bisa digerakkan lagi. Oma segera melakukan tindakan pertolongan mengambil kuah kelapa tua dan aku dipaksa minum, hingga akhirnya nyawaku terselamatkan.
Aku menapaki SMP bertempur dengan kerasnya kehidupan yang setingkat lebih keras dari kondisi sewaktu SD. Karena di Manado, bibiku harus menyelesaikan studi diploma gurunya, maka seluruh pasukan produktif harus eksodus ke Manado untuk membantu membiayai pendidikan bibiku dengan bekerja sebagai buruh kasar. Aku tertinggal seorang diri dengan satu keyakinan akan dapat melewati masa-masa sulit kala itu yang belum diketahui. Prestasi akademik tidak mengalami perubahan signifikan, pengalaman baru mengelola organisasi selaku sekretaris OSIS cukup membuat diri terlatih berhadap-hadapan dengan banyak orang. Tapi soal makan, aku tidak selalu menempatkan pada posisi urgen sehingga selalu saja mengalami lapar berat. Pantang bagiku naik turun dapur tetangga hanya untuk sesuap nasi. Aku lebih suka mengopur dan menemukan buah2 pala tua (lengeh) di kebun untuk konsumsiku, kehidupan keras layaknya Tarzan. Kulihat ada pohon pisang sepatu yang ditanam opaku di kebun, separuhnya sudah masak. Kupotong pisang itu dan kubawa pulang ke rumah tempat aku ditinggalkan kerabat, yaitu di rumah orang tua rohani. Kebetulan dia seorang gembala gereja yang sangat feodal. Peluhku seember, karena memikul buah pisang itu, tetapi satu saja kupetik dari sesikat yang masak, membuat sang gembala naik pitam. Kenapa? Menurutnya, aku melanggar etika. Entahlah etika apa? tiba-tiba telapak tangannya yang besar menghantam pipi kiriku, pisang yang kumakan muncrat tiba-tiba dan aku terjatuh pada 12 anak tangga, berakhir di jalan besar. Tulang pada bahu kiriku patah, aku menjadi cacat seumur hidup. Aku ditolong oleh seorang yang mahir memulihkan patah tulang, tetapi katanya, aku sudah sulit ditolong lagi, karena patahan itu mengandung kekuatan gaib. Oh....... aku kesakitan..... sungguh sangat kesakitan. Tapi aku tidak boleh lalai ke sekolah.
Akhirnya SMP Talawid mencetak beberapa jebolan yang memiliki kualitas, seperti Fidel Malumbot dan Elgien Kahuweka, aku yang selalu tak pernah bertengger pada posisi satu karena harus kuakui Fidel masih jauh lebih ulet belajar daripada aku. Aku sangat yakin beberapa kawan lain yang menyandang gelar juara, adalah mereka yang ditopang oleh kebijakan internal sekolah yang sarat nepotisme. Satu hal yang harus kucatat dalam masa-masa SMP ini, yaitu layanan Perpustakaan tidak sehebat waktu aku sekolah di SD Inpres di Sanumpito. Di SMP Talawid Filial Laghaeng tidak tersedia perpustakaan, semuanya tersedia di sekolah induk. Aku semakin jarang membaca di sekolah dan bahan bacaanku lebih banyak tentang kisah historik para pejuang-pejuang gereja semacam Calvin dan Kisah Perang Salib serta kisah-kisah dari Yunani. Kedua buku itu kuperoleh dari Yayasan Anugerah yang kebetulan diikuti oleh pamanku. Rumah kami sering bocor dilempari orang tak dikenal bilamana kelompok ibadah jemaat anugerah itu sedang melakukan ritual peribadatan di rumah kami. Stigma ajaran sesat menjadi label bagi keluarga kami. Kami dipandang sebagai keluarga yang unik dan wajar kalau diisolir.
Kisah-Kasih di SMA
Menanjak ke jenjang SMA, aku hidup dengan pamanku yang saat itu menikahi seorang mantri bertugas di kampung Kanang. Disana aku bekerja memproduksi pion pagar untuk pembangunan gereja. Pagi-pagi pukul 05.00 aku harus bangun mengambil pasir di pantai Kanang yang jaraknya kurang lebih sekilo dari kampung. Setelah itu diproduksi pagi sebanyak 10 buah, pulang sekolah harus mengambil pasir lagi dan memproduksi 10 buah lagi. Demikian hari-hari produktif itu dilewati sepanjang 3 tahun. Sebagai pekerjaan sampingan aku diberi tanggungjawab mengasuh anak. Anderson dan adiknya.
Di sekolah aku sering berperan sebagai orang yang memimpin barisan ketika kami hendak apel pagi. Prestasi akademikku cukup bersaing dengan 40-an kawan yang terpilih dari segi kecerdasan intelektual di jurusan Fisika (A1) yang kala itu dikenal umum sebagai jurusan milik kaum yang kutu buku dan suka repot-repot berhitung. Aku tidak sehebat Liefson Jakobus, Noldy Salindeho, Wenny Kansil, Wati, Mega, Frieds Albert, atau Max Munaung. Tapi aku masih senasib dengan Max Munaung, karena kami berasal dari latar belakang keluarga dan hidup dalam getir yang nyaris sama, tentu selain nama depan kami sama-sama Max. Bedanya, Max dibesarkan dengan pendampingan orang-orang kuat dan tegar bertarung dengan kehidupan, sedangkan aku dibiarkan sendiri tanpa pendamping. Dari cara berpakaian kami sangat berbeda, Max tampil seperti "begal-begalan" lantaran sering ditegur guru akibat perbuatannya melawan aturan, bajunya selalu kelihatan kusam, ukurannya lebih besar dari ukuran badannya dan ujung bajunya sering dilipat-lipat dan dibiarkan di luar celana. Aku sendiri sosok pendiam dan kelihatan feminim padahal dari bentuk wajahku, Lombroso (filsuf kriminologi) bisa menilai aku ini type penjahat..... syukurlah belum satupun kami di kelas saat itu belajar tentang teori Lombroso sehingga aku terhindar dari stigma yang pernah menimpaku kala SD dulu.
Singkatnya, saat duduk di bangku SMA Ulu Siau, aku menjadi manusia yang banyak belajar hal-hal positif. Dalam kehidupan berorganisasi aku bertumbuh menjadi sosok yang mengenal banyak watak dan perilaku manusia dalam organisasi sehingga kurasakan cukup sebagai pengetahuan untuk memahami makna kehidupan bersama. Kegiatan-kegiatan yang bermuatan sejarah mulai kukenal ketika Silvia Janis salah satu pengurus OSIS mengusulkan untuk melakukan napaktilas keliling Siau. Ide itu kebetulan relevan dengan obsesiku untuk mengunjungi setiap kampung di pulau Siau. Akhirnya kami berhasil melakukannya, masuk dari kampung Kanang dan keluar dari kampung Lehi dalam perjalanan pagi hingga sore hari. Dari sanalah aku mengenal dengan baik kisah patriotik sang panglima kora-kora "Hengkengu Naung" semasa kedatuan Siau dipimpin oleh datu Batahi.
Dari perspektif kacamata kuda, aku harus mengatakan bahwa jebolan SMA Ulu Siau Angkatan 1992 memiliki kreativitas yang cukup tinggi dan pantas disebut angkatan paling berprestasi dalam sejarah sekolah ini, demikian pengakuan Kepsek setelah menerima laporan OSIS yang kami serahkan kepadanya. Betapa tidak, selain memiliki tim sepak bola yang tak terkalahkan, mempunyai pasukan drum band yang tangkas dan mengagumkan, siswa-siswinya memiliki sejumlah ide kreatif yang diimplemtasikan melalui program-program OSIS, guna mengharumkan nama baik sekolah. Sulit dilupahkan.
Kelompok drum band yang paling heboh itu dimajoreti oleh empat putri cantik secara bergantian, Iske Luntungan, Sista Liuntuhaseng, Merry Makasenda dan Silvia Janis. Dalam sekali aksi biasanya diterjunkan berpasangan, Iske menjadi mayoret utama dan Silvia Janis menjadi mitranya pada barisan kedua, demikian juga bila Sista menjadi mayoret utama, maka Merry menjadi mayoret di barisan kedua. Man dan Lion mendapat kepercayaan untuk mendentumkan bass, mereka meliuk-liuk mendemonstrasikan kepiawaian masing-masing, meski Man kelihatan lebih kecil dari drumnya, tetapi kecepatan dan ketepatan pukulan tidak pernah salah. Baik Man maupun Lion memiliki karakter tersendiri memainkan bass dan bariton, sehingga seringkali mata penonton terfokus pada penampilan kedua remaja itu.
Hampir seluruh isi kelasku terpakai dalam pasukan drum band itu, kecuali aku dan Sosipater Pangumpia. Walahuallam, aku dan Sosipater memang tak berbakat dalam soal music. Sosi, ayo kita pergi dari keributan ini, ujarku pada Sosi yang sering terlihat hampir kehilangan rasa percaya dirinya. Aku mengajak kawanku satu ini ke perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah, karena aku tahu dia tidak berminat pada buku-buku aljabar apalagi aritmatika yang dipenuhi logaritma tak kunjung pernah dipahaminya. Tapi aku sungguh heran Sosipater bisa lulus dari kelas dua Fisika. Dia berani seperti Hengkengunaung kakek buyutnya dari Kiawang.
Bakatnya memahami sejarah, banyak terbantu oleh Enci Urbanus, yang kebetulan beliau adalah guru jurusan sosial. Suara enci Urbanus menggemuruh bak kegemparan Medelu bila sedang menuangkan ilmu…. Tanpa suara keras enci Urbanus, Sosipater pasti kesulitan memahami perilaku patriotisme eyangnya dari Kiawang yang dijuluki Panglima Perang Korakora, yaitu Hengkengunaung. Maklum telinga kawan karibku itu mengalami gangguan koneksi sejak masa kecilnya. Bukan karena akibat perang menaklukkan kesaktian Makaampo atau dalam rangkaian ekspansi militer dengan armada lautnya, melainkan karena serangan penyakit malaria tropika yang pernah mewabah, semasa layanan kesehatan prima belum maksimal sebagai agenda pembangunan masa orde baru. Kiawang relatif jauh dari pusat kota yang merupakan centra layanan kesehatan masyarakat di pulau Siau kala itu.
Sosi demikian saya memanggilnya, sangat tidak bahagia bila Pak Guru Tumbio mengajar Bahasa Indonesia. Sosi sering murung seperti sedang merenung nasib sial sepanjang Pak Tumbio terus menerus menggunakan lelucon dan sekali-sekali mengiris bathin pribadi feminism itu. Ketika seisi kelas menyambut dengan gelak tawa atas guyonan pak Tumbio, Sosi menunduk malu seraya menyembunyikan senyum. Dia sebenarnya ingin ketawa lepas. Tapi katanya ia masih lebih malu kalau suara ketawa yang dikiranya biasa-biasa saja justru akan menjadi sangat mengganggu suasana atau memicu penyakit jantung Pak Tumbio menjadi kambuh. Sosi benar-benar sosok yang sangat manusiawi dalam kelas kami.
Misteri Batu Giok
Kawan, jangan pernah mengira air tenang tak ada buayanya. Justru di air tenanglah, sering kita jumpai banyak hal yang sensasional. Pernah ada suatu masa, rencanaku gagal dan tersisa hanya harapan. Sebuah harapan yang selalu membuat aku terdorong untuk bangkit. Aku menyimpan banyak kisah bersama seseorang dalam banyak keterbatasan sekaligus kelebihannya yang kubanggakan. Perasaan itu telah lama kupendam dalam sanubari terdalam. Karena itu sulit dideteksi. Sekedar untuk sebuah pembenaran semu, orang semacam aku, yang mendapat tanggungjawab memimpin apel pagi, sudah wajib hukumnya untuk tiba lebih awal dari semua siswa lain.
Dalam pembagian tugas menyapu ruang kelas, aku dan beberapa teman mendapat giliran setiap hari selasa. Bukan saja hari selasa aku sendiri datang lebih awal sebelum sunset di ufuk timur terbit. Setiap hari. Setiap pagi benar. Untuk apa? Bukan untuk memimpin pasukan, bukan pula untuk tunaikan kewajiban membersihkan kelas. Hanya untuk satu hal yang tak pernah kutemukan sejak tiga tahun berselang. Yaitu dia. Dia berkilau, menyebut namanya saja aku harus pandai melafal bahasa asing dan cerdas memahami tulisan kanji, sering membaca banyak referensi tentang mite nusa-nusa sangihe yang terangkai dalam tajuk Sang Ian. Kisah ratapan airmata A-Hung yang menjelmakan sederet pulau dimana kami tinggali sekarang. Yaitu sebuah kisah abad ke 3, jauh sebelum Sense Madunde diperbincangkan dalam dongeng sebelum tidur.
Tapi kisah ini bukan tentang A-Hung dan Sang Ian atau kisah tentang Sense Madunde dan Bidadari bungsu. Ini adalah kisahku, kisah antara aku dan Nioe Sioe Lie… kisah yang menyimpan terlampau banyak misteri. Misteri tentang batu giok. Nioe Sioe Lie adalah sebuah batu giok yang berkilau. Dia memiliki kekuatan dasyat. Kekuatan untuk menarik. Berada di dekatnya, akan terserap oleh kemilau cahayanya. Bahkan bila sedang marah, ia hanya bertutur dengan suara yang sulit di dengar oleh telinga normal. Aku sering bertanya pada Sosipater. Sosi, apakah kau pernah mendengar suara batu giok? Sosi tersenyum lebar, lalu menunduk. Kataku lagi, Sosi…. Jangan-jangan kau batu giok laki-laki ya?.... Sosipater menunduk lagi. Tapi kali ini dia sudah tidak senyum. Aku tidak berani bertanya lagi.
Masih lebih baik aku bertanya langsung pada batu giok yang sedang kubicarakan. Aku terus menerus membiasakan diri untuk menatap matanya. Dia menunduk, menepi, kadang-kadang terlihat sedang membenci. Kala dia mulai menaru simpati, dia menunduk lagi…… sejurus kemudian dia bangkit dan berjalan… seakan-akan berada di pinggir ruas yang sangat sempit, pada sebuah jalan raya yang maha luas. Mataku membelalak lebar. Kuamati sekitarnya, jangan-jangan ada sesuatu yang tak terlihat kasat mata menghalau jalannya. Mataku tidak mampu menembus dimensi metafisis itu… saat kudekati, yang terjangkau dengan panca inderaku hanyalah wangi bunga endemic dari khayangan. Raganya telah menjauh, seolah-olah sudah terbang kembali ke khayangan meninggalkan harumnya, bisik hidungku sekedar membantu rabun mataku itu. Mungkin, gumamku…. Mereka yang dari khayangan memiliki sifat malu berlebihan dan sering meninggalkan misteri untuk dipecahkan oleh manusia seperti aku.
Aku mencoba dan terus mencoba mendekatinya. Aku harus bisa mendekatinya dan akan kucuri hatinya, kumasukan dalam suling bambu, aku ingin mendendangkan syair lagu-lagu indah dari suling itu di dekatmu… dalam dekapanku. Tetapi bagaimana caranya? Aku butuh bantuan seseorang. Pilihan paling dekat waktu itu adalah Telly Kabuhung. Aku berharap Telly dapat menyampaikan maksud hatiku. Telly adalah sosok yang baik hati, tidak sombong lagi penyayang. Lengkap. Telly its ok. Sewindu lamanya Telly berikhtiar membantuku, menyampaikan aspirasi politik dalam orasi-orasi yang hanya dilakukan pada waktu mereka pulang sekolah. Trik sudah beberapa kali dilakukan. Hasilnya nihil.
Nioe Sioe Lie pujaanku tak kunjung keluar sedikitpun dari balik kamarnya. Dia kutu buku paling setia menghabiskan hari-harinya untuk aktivitas memoles kemilau gioknya. Jarak terjauh dari aktivitas selain sekolah adalah mengganti jadwal jaga tokoh bapaknya. Kali ini aku harus menggunakan intrik, dengan berpura-pura membeli sesuatu di tokonya sambil berharap sedang dijaga oleh Nioe Sioe Lie. Aku melakukan survey guna memastikan calon kekasihku ada disana. Terlihat jelas wajah ayu di balik laci tidak lain dia yang kudambakan. Benar dia ada disana sedang membantu bapaknya. Inilah kesempatanku melancarkan intrik.
Rencana mendadak hendak mencari buku cetak yang ditugaskan bapak Panguliman guru Biologi di kelasku. Aku lupa satu hal. Toko itu tidak pernah menjual buku cetak. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, toko di bilangan Malele itu hanya menjual barang-barang kelontong. Walahualam….. sudah terlanjur. Aku sudah terlanjur bertanya apakah ada terjual buku cetak biologi SMA Kelas 1 di sini? Bapaknya sontak kaget dan spontan berkata, haiiiya, anak…. Sejak tempo apa jual buku disini?... disini hanya ada “buku-buku” saja. Kali ini aku benar-benar malu. Sangat malu sampai aku harus memaki diriku sendiri; Bodoh…. Bodohnya aku karena melewatkan kesempatan indah ini. Mengapa aku tidak bertanya harga ember saja? Mengapa bukan datang membeli tali Jepang saja atau hal-hal sederhana lain….? Kenapa harus buku?.... dasar kutu busuk…. dasar memang kutu buku… pikiranku buku melulu.
Kawan, aku tidak kecewa. Aku menghibur diri, kelak pada suatu masa, hoki akan memihakku. Hingga tiba waktunya kelasku melakukan kegiatan ekstra belajar sore alias less dalam rangka persiapan ujian kenaikan kelas. Jelaslah selaku anak gedongan, senjataku hanyalah buku catatan harian. Nioe Sioe Lie dilengkapi dengan serial buku cetak yang nyaris lengkap. Setiap buku yang digunakan guru, juga dimiliki Nioe. Dalam masa-masa less itu, tempat duduk kami bertukar. Aku yang tadinya sebangku dengan Sosipater si giok laki-laki itu, kini berpindah dan aku duduk di samping giok perempuan (Nioe Sioe Lie).
Melihat perpindahan posisi tempat duduk demikian, Man Dalughu selaku ketua kelas 1(1) di tetangga kami, mengamati gerak-gerik kami. Beberapa kali dia memergoki dari luar kelas, saat aku sedang memegang jemari lentik sang kekasih yang lama kupendam. Aneh bin ajaib. Nioe Sioe Lie, tidak berkelit sedikitpun saat jari-jari tangannya kusentuh dengan lembut. Jujur saja, aku baru belajar bercinta kala itu. Mulutku terkatup dan sulit dibuka, tegangan darah mungkin sudah tidak normal karena jantungku berdetak keras. Aku ngos-ngosan seperti sedang dikejar hantu. Sungguh aku tidak tahu apa yang sedang diterangkan guru di depan kelas kala itu. Nioe Sioe Lie pun tak berkata apa-apa sepanjang dia merasakan belai lembut jemariku. Aku seperti mengelus-elus batu giok dan keluarlah kesaktiannya…. desau suara yang menakjubkan, yaitu suara jantungku. Aku tidak pernah berkata kalau aku mencintainya, lazim seperti yang selalu dikatakan pasangan yang sedang jatuh cinta dalam sebuah adegan film semacam Lupus yang tenar waktu itu. Sejak saat itu, semua buku cetak bahkan catatan harian milik Nioe Sioe Lie boleh kubawa pulang ke pondok kecilku di Akesimbeka. Aku mendapat restunya. Bagiku, inilah jawaban atas ungkapan cinta yang kusimbolkan dengan mengelus jemari tangannya.
Prestasi OSIS dan Sepeda Motor Kepsek
Organisasi Siswa Intra Sekolah yang dipimpin Liefson Jakobus dan dimotori Sista Liuntuhaseng, sementara aku hanya memberi sedikit warna dalam bayang-bayang wakil sekretaris, namun kami berhasil melaksanakan napaktilas bersejarah itu dan menyelenggarakan beberapa iven pertandingan sepakbola, lomba pidato antar sekolah se Siau. Aku, Jayadi Lontolawa dan Lusye Mangolo merupakan bintang kelas dalam lomba pidato itu. Sementara Frieds Albert alias Hendra Taghulihi yang postur tubuhnya paling jangkung diimbangi Rodly Tamahari (teman sebangkuku), mereka berdua membuat Pak Guru Sada harus melompat jika mau menjewer telinga mereka dalam posisi berdiri.
Lion dan Man Dalughu, dua sosok yang paling nakal dalam kelasku. Ironisnya, Lion memiliki postur tubuh tambun dan siswa paling "ditakuti" di kelas, beliau mantan kakak kelas kami yang harus menunggu nasibnya untuk diluluskan bersama Man sesama bintang kelas sepak bola yang tandem dengan bintang2 dari kelas III Sosial yang dipelopori Winston Maloringan. Winston sebagai bintang sepak bola memiliki obsesi untuk keliling dunia menelusuri detil club-club yang menjadi favoritnya. Sementara kawan setianya yang sering menjadi pimpinan regu supporter kalau tidak mau disebut "pemandu sorak" yaitu Richard Kabuhung, pria lincah dari kompleks Akelabo itu lihai memainkan kata-kata mutiara untuk menyemangati tim sepak bola yang dipimpin Yeldi Merpati Cs dari kelas bahasa.
Kecakapan lain dari Hendra Tagulihi adalah "mengakali" kepala sekolah. Suatu saat, aku dan Hendra menyelesaikan laporan kegiatan bulanan OSIS karena waktu itu Sista mengalami sedikit persoalan dengan kekasihnya, Egriet Tinagari sehingga menyebabkan tugas pelaporan itu terbeban ke pundak saya dan Hendra. Untunglah si jangkung itu masih diidolakan oleh Verra Pande, gadis riang yang tak pernah murung. Menurut Hendra, dia lebih menyayangi Uto Pepi daripada menyambut cinta Verra. Kasihan Verra, dia mencintaimu bertepuk sebelah tangan, kataku pada Hendra.
Untuk menyelesaikan tugas laporan itu sampai tuntas, kami berdua harus begadang semalam suntuk. Tengah malam kami membangunkan kepala sekolah untuk meminjam sepeda motornya. Dengan sukarela kepsek memberikan motor kesayangannya. Tepat pukul 01.00 laporan rampung, aku dan Hendra melaju pada kecepatan normal hingga tiba di perbatasan kampung Dame dan Karalung. Sepeda Motor itu tiba-tiba mengalami pecah ban. Terpaksa perjalanan ke kampung Kanang batal dan kami berdua harus kembali ke Bahu untuk mengembalikan sepeda motor itu kepada pemiliknya dalam keadaan rusak. Sayapun tidur di kamar belakang milik Hendra bila sedang mencari inspirasi untuk membuat tembang-tembang Iwan Fals menjadi indah dinyanyikan dengan melody-melody gitarnya.
Metafak Cinta
Uto Pepi maupun Verra sebenarnya adalah dua bunga kelas yang sangat kental persahabatannya, ukuran tubuh kedua gadis mungil itu hanya sebatas pinggul Hendra. Beda-beda tipis dengan Wenny Kansil. Tetapi dari segi intelektual aku mau jujur, sulit bersaing dengan Wenny dan Uto Pepi.... Bila uto pepi dan verra ditemukan bersama Hendra, sungguh kontras bedanya, bak jari telunjuk berpasangan dengan jari kelingking (verra) dan jempol (pepi). Tetapi mereka unik.... sangat unik dan banyak yang menyukainya bila mereka sedang asyik begadang di perpustakaan.
Pak Oskar Malale guru mata pelajaran olahraga seringkali memergoki ketiga pasang sejoli itu bila sedang enjoy. Untunglah si Noldy dan Wenny hampir selalu tak meninggalkan kelas, mereka lebih memilih berdiam di dalam kelas menunggu bel masuk pasca istirahat berbunyi. Sebaliknya, Sista dan Egrie Tinagari merupakan pasangan yang tak kalah serunya dibanding Noldy dan Wenny. Kedua pasang ini, memberikan makna yang dalam bagi sebuah status berpacaran yang maha dasyat sewaktu SMA.
Demikianlah cinta mereka bersemi dan mereka layak melakukan hubungan itu karena nilai metafak yang terkandung di dalamnya. Mungkin akulah satu-satunya orang yang paling mengerti metafak dibalik hubungan cinta itu. Aku lelaki pendiam yang bertugas mengamati setiap perilaku mereka. Baik Weny-Noldy atau Egry-Sista, mereka adalah pelajaran berharga bagiku memahami kehidupan dari sisi cinta..... Kusimpulkan dari kisah mereka, Cinta hanya untuk cinta.... meskipun kelak mereka tidak harus saling memiliki ataupun mereka harus berpisah karena sebuah alasan, yaitu cinta sejati.
Bidang Fisika yang merupakan jurusan pokok kami sekaligus merupakan pelajaran yang paling kami idolakan bersama Pak Martin yang cerdas mengajar kami teknik merangkai dimmer control yaitu sistem kerja lampu yang dapat diturunkan dayanya pada batas-batas sesuai keinginan pengguna. Tentunya selain Fisika, mata pelajaran yang paling digemari adalah Matematika. Kebetulan yang mengajar Matematika kala itu adalah kakak kandung Liefson, yang kami sapa Enci Tuti Jakobus. Dia bukan saja cerdas, dia memilki kecantikan sekelas Marlyn Moendroe yang sering membuat mata jahil Liong jadi terpanah. Enci Tuti pasti menyadari situasi itu.
Mengunci Kelas
Mata pelajaran lain kurang disenangi adalah bahasa Indonesia, tapi untunglah gurunya, pak guru Tumbio memiliki sejuta jurus untuk membuat siswanya senang belajar bidang studinya. Dia nampak lugu dan sekali-kali agak sedikit keras. Man dan Liong meskipun mereka sedikit lalod (lama loading) tetapi soal kenakalan mereka tidak kalah dengan guru. Suatu saat jam Pak Tumbio harus mengajar bahasa Indonesia terpaksa batal karena kelakuan Man dan Lion yang menyembunyikan kunci pintu kelas sehingga Pak Tumbio tidak bisa masuk. Lion mengancam agar kami berdiam diri. Tidak boleh ada suara keluar sedikitpun dari mulut kami.
Sebagai teman setia, kami sekelas ikut saja pada kedua petinggi kelas itu. Jika tidak, solidaritas kelas kami pasti terganggu. Rodly Tamahari, Risno Pangulimang, Unsong, dan Sosipater Pangumpia selaku pria bersosok lembut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak setuju dan terpaksa manut demi solidaritas kelas yg diciptakan Man dan Lion. Ulah kedua lelaki itu sontak membuat lingkungan sekolah menjadi ribut karena Pak Tumbio untuk pertama kalinya mengalami marah besar karena merasa terusir oleh siswa kelas III Fisika.
Menyadari situasi ribut itu, kami sekelas justru semakin diam di dalam kelas menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Man Dalughu panik dan membuang kunci dari jendela ke semak-semak di samping kelas. Perbuatan itu coba dilerai oleh Mega dan Wati namun sayang kedua perempuan besar itu gagal menangkap tangan Man yang gesit seperti kilat. Anak kunci pintu kelas melayang ke luar jendela, tak dapat terdeteksi lagi.
Pintu kelas yang tidak dapat dibuka itu harus dibongkar oleh Pak Oskar Malale. Lantas kami dikeluarkan dari kelas dan disuruh berbaris di depan ruang tunggu. Satu-satu kami berbaris menurut derajat ketinggian, dimulai dari yang paling kecil yaitu Verra Pande, kemudian Wenni Kansil dan ketiga Uto Pepi seterusnya Unsong sampai akhirnya di paling belakang terdapat Hendra dan Rodly Tamahari. Karena ulah Man dan Lion itulah, kami semua menjadi korban dijemur di bawah terik matahari pukul 12.00. Kami diwajibkan menjawab secara jujur setiap detil pertanyaan dari guru BP yang bertindak selaku hakim kala itu. Tiga perempuan kecil-kecil itu sudah diadili dan terakhir giliran Uto Pepi nampak pucat pasih setelah menjawab puluhan pertanyaan seolah-olah dituduh melakukan korupsi.
Melihat gelagat Uto pepi yang hampir pingsan itu, serta merta Man yang berdiri di depanku bebisik pelan-pelan, Max, kalo kita jatuh tangkap akang ne?.... kataku.... rencana apa lagi bro?..... Belum selesai pertanyaanku kawan, Man sudah jatuh pingsan. Barisan kami langsung bubar karena strategi kedua yang dilancarkan Man melawan penghakiman hari itu. Barisan yang berjejer itu mengerumuni Man yang sedang pingsan, dan mungkin karena terlampau panas suhu udara di sekitar Man, maka itulah yang membuat dia menjadi pingsan beneran sehingga mulutnya mengeluarkan busa. Man pun dilarikan ke Puskesmas Ulu (kini Rumah Sakit Ulu Siau) untuk mendapatkan pertolongan emergency. Semua guru menjadi panik. Gara-gara persoalan itu, Man tidak masuk kelas selama dua minggu dan aku orang yang setia merawat dia di rumahnya.
Video Terlarang
Dalam bidang penelitian biologi, katak-katak di kompleks Akelabo terpaksa harus bersembunyi jika anak-anak berseragam putih abu-abu sudah mulai merangsek terjun kedalam kolam. Katak-katak percobaan itu lebih banyak dikonsumsi daripada digunakan untuk kepentingan penelitian. Man menggorengnya buat makan siang kami di sebuah pondok yang saya tinggali untuk menyelesaikan studi karena bersiap2 hendak Ebta sekolah dan Ebtanas.
Selesai melakukan kegiatan praktek, dan bell istirahat berbunyi, muncullah gagasan dari Lion dan kawan-kawan untuk nonton film porno. Tempat strategis yang menjadi pilihan kami untuk pemutaran video porno itu adalah di rumah Uto Sandra Maluenseng. Sandra tak bisa menolak, karena mata Lion seperti mata elang menatap penuh ancaman persis menyoroti mata kecil si "anak ayam" kurus. Kasian Uto Sandra.... dia tak sanggup mengelak. Alasan yang sangat masuk akal, rumah terdekat dengan sekolah dan cukup strategis karena jauh dari keramaian kota Ulu.
Kedua orang tua dari Sandra Maluenseng adalah guru, mereka tidak berada di rumah pada jam-jam sekolah seperti itu. Sekali lagi jam pelajaran diganti dengan aksi kuriositas anak muda yang ingin tahu banyak tentang praktek membuat manusia baru. Tetapi kami tidak melakukan hal-hal negatif, karena yang nonton film porno itu hanya laki-laki yang nakal saja. Para perempuan kami, ditugaskan oleh Ketua Osis untuk membuat rujak dari buah pepaya di kintal belakang rumah Sandra.
Situasi itu sering terjadi, hingga pelajaran tentang makna yang lain akhirnya mengubah pandangan kami sekeluarga tentang bahayanya sekolah jauh. Aku terkapar hilang kesadaran setelah pelajaran siang dilanjutkan less sore dan aku bertahan tidak makan siang itu. Sore pukul 5 less usai, aku melangkah gontai pulang ke rumah, kulahap sebuah pala muda di jalan menuju kampungku. Entah karena zat apa dalam buah pala itu, membuat aku seketika tertidur di sebuah regel di Liwua. Akupun kaget terbangun pukul 21.00 dan pamanku berada di samping sambil meneteskan air matanya. Air mata yang membuat aku siuman. Keesokkan hari aku dipindahkan ke SD YPK Laghaeng, sekolah yang berada di belakang rumah kami. Tapi di sekolah itu aku harus bayar. Tidak apa2, kata paman,...... karena tinggal sekelas lagi aku segra tamat. Sejak saat itu aku sangat berkeinginan menjadi guru.
Setahun kemudian kepala kampung mendapat kehormatan untuk memberikan secara langsung lembaran Nilai Ebtanas Tertinggi dari puluhan siswa berseragam putih merah. Aku, anak tanpa ayah yang kerap ditinggalkan kerabatnya karena eksodus, menerima lembaran itu dari tangan kepala kampung. Uniknya, aku itu tidak tercatat sebagai juara. Aku menempati posisi keempat dalam hierarki penjuaraan sekolah. Di tempat pertama diduduki oleh putri sekretaris kampung. Demikian sekolah mengeluarkan kebijakan tentang kategori prestasi anak didik di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen milik Jemaat Efrata Laghaeng. Aku tidak melakukan protes, karena belum begitu mengerti dengan waham besar para penentu kebijakan internal sekolah. Aku menjadi siswa pendiam dengan sejuta heran dan seribu tanya.
Nyaris Mati
Nepo tetanggaku, nama lain dari Charlis, memberiku hadiah sepiring teh benda menyerupai gula yang nampak membeku. Maklum karena aku suka gula-gula. Kunikmati gula-gula itu sebagai hadiah bagi sang juara empat yang diberikan dengan tulus hati oleh seseorang yang kuanggap sebagai kakak sendiri. Hadiah Nepo adalah Pupuk Urea. Sungguh aku tidak tahu barang itu. Tubuhku tiba-tiba lemas dan rahangku seakan-akan tak bisa digerakkan lagi. Oma segera melakukan tindakan pertolongan mengambil kuah kelapa tua dan aku dipaksa minum, hingga akhirnya nyawaku terselamatkan.
Aku menapaki SMP bertempur dengan kerasnya kehidupan yang setingkat lebih keras dari kondisi sewaktu SD. Karena di Manado, bibiku harus menyelesaikan studi diploma gurunya, maka seluruh pasukan produktif harus eksodus ke Manado untuk membantu membiayai pendidikan bibiku dengan bekerja sebagai buruh kasar. Aku tertinggal seorang diri dengan satu keyakinan akan dapat melewati masa-masa sulit kala itu yang belum diketahui. Prestasi akademik tidak mengalami perubahan signifikan, pengalaman baru mengelola organisasi selaku sekretaris OSIS cukup membuat diri terlatih berhadap-hadapan dengan banyak orang. Tapi soal makan, aku tidak selalu menempatkan pada posisi urgen sehingga selalu saja mengalami lapar berat. Pantang bagiku naik turun dapur tetangga hanya untuk sesuap nasi. Aku lebih suka mengopur dan menemukan buah2 pala tua (lengeh) di kebun untuk konsumsiku, kehidupan keras layaknya Tarzan. Kulihat ada pohon pisang sepatu yang ditanam opaku di kebun, separuhnya sudah masak. Kupotong pisang itu dan kubawa pulang ke rumah tempat aku ditinggalkan kerabat, yaitu di rumah orang tua rohani. Kebetulan dia seorang gembala gereja yang sangat feodal. Peluhku seember, karena memikul buah pisang itu, tetapi satu saja kupetik dari sesikat yang masak, membuat sang gembala naik pitam. Kenapa? Menurutnya, aku melanggar etika. Entahlah etika apa? tiba-tiba telapak tangannya yang besar menghantam pipi kiriku, pisang yang kumakan muncrat tiba-tiba dan aku terjatuh pada 12 anak tangga, berakhir di jalan besar. Tulang pada bahu kiriku patah, aku menjadi cacat seumur hidup. Aku ditolong oleh seorang yang mahir memulihkan patah tulang, tetapi katanya, aku sudah sulit ditolong lagi, karena patahan itu mengandung kekuatan gaib. Oh....... aku kesakitan..... sungguh sangat kesakitan. Tapi aku tidak boleh lalai ke sekolah.
Akhirnya SMP Talawid mencetak beberapa jebolan yang memiliki kualitas, seperti Fidel Malumbot dan Elgien Kahuweka, aku yang selalu tak pernah bertengger pada posisi satu karena harus kuakui Fidel masih jauh lebih ulet belajar daripada aku. Aku sangat yakin beberapa kawan lain yang menyandang gelar juara, adalah mereka yang ditopang oleh kebijakan internal sekolah yang sarat nepotisme. Satu hal yang harus kucatat dalam masa-masa SMP ini, yaitu layanan Perpustakaan tidak sehebat waktu aku sekolah di SD Inpres di Sanumpito. Di SMP Talawid Filial Laghaeng tidak tersedia perpustakaan, semuanya tersedia di sekolah induk. Aku semakin jarang membaca di sekolah dan bahan bacaanku lebih banyak tentang kisah historik para pejuang-pejuang gereja semacam Calvin dan Kisah Perang Salib serta kisah-kisah dari Yunani. Kedua buku itu kuperoleh dari Yayasan Anugerah yang kebetulan diikuti oleh pamanku. Rumah kami sering bocor dilempari orang tak dikenal bilamana kelompok ibadah jemaat anugerah itu sedang melakukan ritual peribadatan di rumah kami. Stigma ajaran sesat menjadi label bagi keluarga kami. Kami dipandang sebagai keluarga yang unik dan wajar kalau diisolir.
Kisah-Kasih di SMA
Menanjak ke jenjang SMA, aku hidup dengan pamanku yang saat itu menikahi seorang mantri bertugas di kampung Kanang. Disana aku bekerja memproduksi pion pagar untuk pembangunan gereja. Pagi-pagi pukul 05.00 aku harus bangun mengambil pasir di pantai Kanang yang jaraknya kurang lebih sekilo dari kampung. Setelah itu diproduksi pagi sebanyak 10 buah, pulang sekolah harus mengambil pasir lagi dan memproduksi 10 buah lagi. Demikian hari-hari produktif itu dilewati sepanjang 3 tahun. Sebagai pekerjaan sampingan aku diberi tanggungjawab mengasuh anak. Anderson dan adiknya.
Di sekolah aku sering berperan sebagai orang yang memimpin barisan ketika kami hendak apel pagi. Prestasi akademikku cukup bersaing dengan 40-an kawan yang terpilih dari segi kecerdasan intelektual di jurusan Fisika (A1) yang kala itu dikenal umum sebagai jurusan milik kaum yang kutu buku dan suka repot-repot berhitung. Aku tidak sehebat Liefson Jakobus, Noldy Salindeho, Wenny Kansil, Wati, Mega, Frieds Albert, atau Max Munaung. Tapi aku masih senasib dengan Max Munaung, karena kami berasal dari latar belakang keluarga dan hidup dalam getir yang nyaris sama, tentu selain nama depan kami sama-sama Max. Bedanya, Max dibesarkan dengan pendampingan orang-orang kuat dan tegar bertarung dengan kehidupan, sedangkan aku dibiarkan sendiri tanpa pendamping. Dari cara berpakaian kami sangat berbeda, Max tampil seperti "begal-begalan" lantaran sering ditegur guru akibat perbuatannya melawan aturan, bajunya selalu kelihatan kusam, ukurannya lebih besar dari ukuran badannya dan ujung bajunya sering dilipat-lipat dan dibiarkan di luar celana. Aku sendiri sosok pendiam dan kelihatan feminim padahal dari bentuk wajahku, Lombroso (filsuf kriminologi) bisa menilai aku ini type penjahat..... syukurlah belum satupun kami di kelas saat itu belajar tentang teori Lombroso sehingga aku terhindar dari stigma yang pernah menimpaku kala SD dulu.
Singkatnya, saat duduk di bangku SMA Ulu Siau, aku menjadi manusia yang banyak belajar hal-hal positif. Dalam kehidupan berorganisasi aku bertumbuh menjadi sosok yang mengenal banyak watak dan perilaku manusia dalam organisasi sehingga kurasakan cukup sebagai pengetahuan untuk memahami makna kehidupan bersama. Kegiatan-kegiatan yang bermuatan sejarah mulai kukenal ketika Silvia Janis salah satu pengurus OSIS mengusulkan untuk melakukan napaktilas keliling Siau. Ide itu kebetulan relevan dengan obsesiku untuk mengunjungi setiap kampung di pulau Siau. Akhirnya kami berhasil melakukannya, masuk dari kampung Kanang dan keluar dari kampung Lehi dalam perjalanan pagi hingga sore hari. Dari sanalah aku mengenal dengan baik kisah patriotik sang panglima kora-kora "Hengkengu Naung" semasa kedatuan Siau dipimpin oleh datu Batahi.
Dari perspektif kacamata kuda, aku harus mengatakan bahwa jebolan SMA Ulu Siau Angkatan 1992 memiliki kreativitas yang cukup tinggi dan pantas disebut angkatan paling berprestasi dalam sejarah sekolah ini, demikian pengakuan Kepsek setelah menerima laporan OSIS yang kami serahkan kepadanya. Betapa tidak, selain memiliki tim sepak bola yang tak terkalahkan, mempunyai pasukan drum band yang tangkas dan mengagumkan, siswa-siswinya memiliki sejumlah ide kreatif yang diimplemtasikan melalui program-program OSIS, guna mengharumkan nama baik sekolah. Sulit dilupahkan.
Kelompok drum band yang paling heboh itu dimajoreti oleh empat putri cantik secara bergantian, Iske Luntungan, Sista Liuntuhaseng, Merry Makasenda dan Silvia Janis. Dalam sekali aksi biasanya diterjunkan berpasangan, Iske menjadi mayoret utama dan Silvia Janis menjadi mitranya pada barisan kedua, demikian juga bila Sista menjadi mayoret utama, maka Merry menjadi mayoret di barisan kedua. Man dan Lion mendapat kepercayaan untuk mendentumkan bass, mereka meliuk-liuk mendemonstrasikan kepiawaian masing-masing, meski Man kelihatan lebih kecil dari drumnya, tetapi kecepatan dan ketepatan pukulan tidak pernah salah. Baik Man maupun Lion memiliki karakter tersendiri memainkan bass dan bariton, sehingga seringkali mata penonton terfokus pada penampilan kedua remaja itu.
Hampir seluruh isi kelasku terpakai dalam pasukan drum band itu, kecuali aku dan Sosipater Pangumpia. Walahuallam, aku dan Sosipater memang tak berbakat dalam soal music. Sosi, ayo kita pergi dari keributan ini, ujarku pada Sosi yang sering terlihat hampir kehilangan rasa percaya dirinya. Aku mengajak kawanku satu ini ke perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah, karena aku tahu dia tidak berminat pada buku-buku aljabar apalagi aritmatika yang dipenuhi logaritma tak kunjung pernah dipahaminya. Tapi aku sungguh heran Sosipater bisa lulus dari kelas dua Fisika. Dia berani seperti Hengkengunaung kakek buyutnya dari Kiawang.
Bakatnya memahami sejarah, banyak terbantu oleh Enci Urbanus, yang kebetulan beliau adalah guru jurusan sosial. Suara enci Urbanus menggemuruh bak kegemparan Medelu bila sedang menuangkan ilmu…. Tanpa suara keras enci Urbanus, Sosipater pasti kesulitan memahami perilaku patriotisme eyangnya dari Kiawang yang dijuluki Panglima Perang Korakora, yaitu Hengkengunaung. Maklum telinga kawan karibku itu mengalami gangguan koneksi sejak masa kecilnya. Bukan karena akibat perang menaklukkan kesaktian Makaampo atau dalam rangkaian ekspansi militer dengan armada lautnya, melainkan karena serangan penyakit malaria tropika yang pernah mewabah, semasa layanan kesehatan prima belum maksimal sebagai agenda pembangunan masa orde baru. Kiawang relatif jauh dari pusat kota yang merupakan centra layanan kesehatan masyarakat di pulau Siau kala itu.
Sosi demikian saya memanggilnya, sangat tidak bahagia bila Pak Guru Tumbio mengajar Bahasa Indonesia. Sosi sering murung seperti sedang merenung nasib sial sepanjang Pak Tumbio terus menerus menggunakan lelucon dan sekali-sekali mengiris bathin pribadi feminism itu. Ketika seisi kelas menyambut dengan gelak tawa atas guyonan pak Tumbio, Sosi menunduk malu seraya menyembunyikan senyum. Dia sebenarnya ingin ketawa lepas. Tapi katanya ia masih lebih malu kalau suara ketawa yang dikiranya biasa-biasa saja justru akan menjadi sangat mengganggu suasana atau memicu penyakit jantung Pak Tumbio menjadi kambuh. Sosi benar-benar sosok yang sangat manusiawi dalam kelas kami.
Misteri Batu Giok
Kawan, jangan pernah mengira air tenang tak ada buayanya. Justru di air tenanglah, sering kita jumpai banyak hal yang sensasional. Pernah ada suatu masa, rencanaku gagal dan tersisa hanya harapan. Sebuah harapan yang selalu membuat aku terdorong untuk bangkit. Aku menyimpan banyak kisah bersama seseorang dalam banyak keterbatasan sekaligus kelebihannya yang kubanggakan. Perasaan itu telah lama kupendam dalam sanubari terdalam. Karena itu sulit dideteksi. Sekedar untuk sebuah pembenaran semu, orang semacam aku, yang mendapat tanggungjawab memimpin apel pagi, sudah wajib hukumnya untuk tiba lebih awal dari semua siswa lain.
Dalam pembagian tugas menyapu ruang kelas, aku dan beberapa teman mendapat giliran setiap hari selasa. Bukan saja hari selasa aku sendiri datang lebih awal sebelum sunset di ufuk timur terbit. Setiap hari. Setiap pagi benar. Untuk apa? Bukan untuk memimpin pasukan, bukan pula untuk tunaikan kewajiban membersihkan kelas. Hanya untuk satu hal yang tak pernah kutemukan sejak tiga tahun berselang. Yaitu dia. Dia berkilau, menyebut namanya saja aku harus pandai melafal bahasa asing dan cerdas memahami tulisan kanji, sering membaca banyak referensi tentang mite nusa-nusa sangihe yang terangkai dalam tajuk Sang Ian. Kisah ratapan airmata A-Hung yang menjelmakan sederet pulau dimana kami tinggali sekarang. Yaitu sebuah kisah abad ke 3, jauh sebelum Sense Madunde diperbincangkan dalam dongeng sebelum tidur.
Tapi kisah ini bukan tentang A-Hung dan Sang Ian atau kisah tentang Sense Madunde dan Bidadari bungsu. Ini adalah kisahku, kisah antara aku dan Nioe Sioe Lie… kisah yang menyimpan terlampau banyak misteri. Misteri tentang batu giok. Nioe Sioe Lie adalah sebuah batu giok yang berkilau. Dia memiliki kekuatan dasyat. Kekuatan untuk menarik. Berada di dekatnya, akan terserap oleh kemilau cahayanya. Bahkan bila sedang marah, ia hanya bertutur dengan suara yang sulit di dengar oleh telinga normal. Aku sering bertanya pada Sosipater. Sosi, apakah kau pernah mendengar suara batu giok? Sosi tersenyum lebar, lalu menunduk. Kataku lagi, Sosi…. Jangan-jangan kau batu giok laki-laki ya?.... Sosipater menunduk lagi. Tapi kali ini dia sudah tidak senyum. Aku tidak berani bertanya lagi.
Masih lebih baik aku bertanya langsung pada batu giok yang sedang kubicarakan. Aku terus menerus membiasakan diri untuk menatap matanya. Dia menunduk, menepi, kadang-kadang terlihat sedang membenci. Kala dia mulai menaru simpati, dia menunduk lagi…… sejurus kemudian dia bangkit dan berjalan… seakan-akan berada di pinggir ruas yang sangat sempit, pada sebuah jalan raya yang maha luas. Mataku membelalak lebar. Kuamati sekitarnya, jangan-jangan ada sesuatu yang tak terlihat kasat mata menghalau jalannya. Mataku tidak mampu menembus dimensi metafisis itu… saat kudekati, yang terjangkau dengan panca inderaku hanyalah wangi bunga endemic dari khayangan. Raganya telah menjauh, seolah-olah sudah terbang kembali ke khayangan meninggalkan harumnya, bisik hidungku sekedar membantu rabun mataku itu. Mungkin, gumamku…. Mereka yang dari khayangan memiliki sifat malu berlebihan dan sering meninggalkan misteri untuk dipecahkan oleh manusia seperti aku.
Aku mencoba dan terus mencoba mendekatinya. Aku harus bisa mendekatinya dan akan kucuri hatinya, kumasukan dalam suling bambu, aku ingin mendendangkan syair lagu-lagu indah dari suling itu di dekatmu… dalam dekapanku. Tetapi bagaimana caranya? Aku butuh bantuan seseorang. Pilihan paling dekat waktu itu adalah Telly Kabuhung. Aku berharap Telly dapat menyampaikan maksud hatiku. Telly adalah sosok yang baik hati, tidak sombong lagi penyayang. Lengkap. Telly its ok. Sewindu lamanya Telly berikhtiar membantuku, menyampaikan aspirasi politik dalam orasi-orasi yang hanya dilakukan pada waktu mereka pulang sekolah. Trik sudah beberapa kali dilakukan. Hasilnya nihil.
Nioe Sioe Lie pujaanku tak kunjung keluar sedikitpun dari balik kamarnya. Dia kutu buku paling setia menghabiskan hari-harinya untuk aktivitas memoles kemilau gioknya. Jarak terjauh dari aktivitas selain sekolah adalah mengganti jadwal jaga tokoh bapaknya. Kali ini aku harus menggunakan intrik, dengan berpura-pura membeli sesuatu di tokonya sambil berharap sedang dijaga oleh Nioe Sioe Lie. Aku melakukan survey guna memastikan calon kekasihku ada disana. Terlihat jelas wajah ayu di balik laci tidak lain dia yang kudambakan. Benar dia ada disana sedang membantu bapaknya. Inilah kesempatanku melancarkan intrik.
Rencana mendadak hendak mencari buku cetak yang ditugaskan bapak Panguliman guru Biologi di kelasku. Aku lupa satu hal. Toko itu tidak pernah menjual buku cetak. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, toko di bilangan Malele itu hanya menjual barang-barang kelontong. Walahualam….. sudah terlanjur. Aku sudah terlanjur bertanya apakah ada terjual buku cetak biologi SMA Kelas 1 di sini? Bapaknya sontak kaget dan spontan berkata, haiiiya, anak…. Sejak tempo apa jual buku disini?... disini hanya ada “buku-buku” saja. Kali ini aku benar-benar malu. Sangat malu sampai aku harus memaki diriku sendiri; Bodoh…. Bodohnya aku karena melewatkan kesempatan indah ini. Mengapa aku tidak bertanya harga ember saja? Mengapa bukan datang membeli tali Jepang saja atau hal-hal sederhana lain….? Kenapa harus buku?.... dasar kutu busuk…. dasar memang kutu buku… pikiranku buku melulu.
Kawan, aku tidak kecewa. Aku menghibur diri, kelak pada suatu masa, hoki akan memihakku. Hingga tiba waktunya kelasku melakukan kegiatan ekstra belajar sore alias less dalam rangka persiapan ujian kenaikan kelas. Jelaslah selaku anak gedongan, senjataku hanyalah buku catatan harian. Nioe Sioe Lie dilengkapi dengan serial buku cetak yang nyaris lengkap. Setiap buku yang digunakan guru, juga dimiliki Nioe. Dalam masa-masa less itu, tempat duduk kami bertukar. Aku yang tadinya sebangku dengan Sosipater si giok laki-laki itu, kini berpindah dan aku duduk di samping giok perempuan (Nioe Sioe Lie).
Melihat perpindahan posisi tempat duduk demikian, Man Dalughu selaku ketua kelas 1(1) di tetangga kami, mengamati gerak-gerik kami. Beberapa kali dia memergoki dari luar kelas, saat aku sedang memegang jemari lentik sang kekasih yang lama kupendam. Aneh bin ajaib. Nioe Sioe Lie, tidak berkelit sedikitpun saat jari-jari tangannya kusentuh dengan lembut. Jujur saja, aku baru belajar bercinta kala itu. Mulutku terkatup dan sulit dibuka, tegangan darah mungkin sudah tidak normal karena jantungku berdetak keras. Aku ngos-ngosan seperti sedang dikejar hantu. Sungguh aku tidak tahu apa yang sedang diterangkan guru di depan kelas kala itu. Nioe Sioe Lie pun tak berkata apa-apa sepanjang dia merasakan belai lembut jemariku. Aku seperti mengelus-elus batu giok dan keluarlah kesaktiannya…. desau suara yang menakjubkan, yaitu suara jantungku. Aku tidak pernah berkata kalau aku mencintainya, lazim seperti yang selalu dikatakan pasangan yang sedang jatuh cinta dalam sebuah adegan film semacam Lupus yang tenar waktu itu. Sejak saat itu, semua buku cetak bahkan catatan harian milik Nioe Sioe Lie boleh kubawa pulang ke pondok kecilku di Akesimbeka. Aku mendapat restunya. Bagiku, inilah jawaban atas ungkapan cinta yang kusimbolkan dengan mengelus jemari tangannya.
Prestasi OSIS dan Sepeda Motor Kepsek
Organisasi Siswa Intra Sekolah yang dipimpin Liefson Jakobus dan dimotori Sista Liuntuhaseng, sementara aku hanya memberi sedikit warna dalam bayang-bayang wakil sekretaris, namun kami berhasil melaksanakan napaktilas bersejarah itu dan menyelenggarakan beberapa iven pertandingan sepakbola, lomba pidato antar sekolah se Siau. Aku, Jayadi Lontolawa dan Lusye Mangolo merupakan bintang kelas dalam lomba pidato itu. Sementara Frieds Albert alias Hendra Taghulihi yang postur tubuhnya paling jangkung diimbangi Rodly Tamahari (teman sebangkuku), mereka berdua membuat Pak Guru Sada harus melompat jika mau menjewer telinga mereka dalam posisi berdiri.
Lion dan Man Dalughu, dua sosok yang paling nakal dalam kelasku. Ironisnya, Lion memiliki postur tubuh tambun dan siswa paling "ditakuti" di kelas, beliau mantan kakak kelas kami yang harus menunggu nasibnya untuk diluluskan bersama Man sesama bintang kelas sepak bola yang tandem dengan bintang2 dari kelas III Sosial yang dipelopori Winston Maloringan. Winston sebagai bintang sepak bola memiliki obsesi untuk keliling dunia menelusuri detil club-club yang menjadi favoritnya. Sementara kawan setianya yang sering menjadi pimpinan regu supporter kalau tidak mau disebut "pemandu sorak" yaitu Richard Kabuhung, pria lincah dari kompleks Akelabo itu lihai memainkan kata-kata mutiara untuk menyemangati tim sepak bola yang dipimpin Yeldi Merpati Cs dari kelas bahasa.
Kecakapan lain dari Hendra Tagulihi adalah "mengakali" kepala sekolah. Suatu saat, aku dan Hendra menyelesaikan laporan kegiatan bulanan OSIS karena waktu itu Sista mengalami sedikit persoalan dengan kekasihnya, Egriet Tinagari sehingga menyebabkan tugas pelaporan itu terbeban ke pundak saya dan Hendra. Untunglah si jangkung itu masih diidolakan oleh Verra Pande, gadis riang yang tak pernah murung. Menurut Hendra, dia lebih menyayangi Uto Pepi daripada menyambut cinta Verra. Kasihan Verra, dia mencintaimu bertepuk sebelah tangan, kataku pada Hendra.
Untuk menyelesaikan tugas laporan itu sampai tuntas, kami berdua harus begadang semalam suntuk. Tengah malam kami membangunkan kepala sekolah untuk meminjam sepeda motornya. Dengan sukarela kepsek memberikan motor kesayangannya. Tepat pukul 01.00 laporan rampung, aku dan Hendra melaju pada kecepatan normal hingga tiba di perbatasan kampung Dame dan Karalung. Sepeda Motor itu tiba-tiba mengalami pecah ban. Terpaksa perjalanan ke kampung Kanang batal dan kami berdua harus kembali ke Bahu untuk mengembalikan sepeda motor itu kepada pemiliknya dalam keadaan rusak. Sayapun tidur di kamar belakang milik Hendra bila sedang mencari inspirasi untuk membuat tembang-tembang Iwan Fals menjadi indah dinyanyikan dengan melody-melody gitarnya.
Metafak Cinta
Uto Pepi maupun Verra sebenarnya adalah dua bunga kelas yang sangat kental persahabatannya, ukuran tubuh kedua gadis mungil itu hanya sebatas pinggul Hendra. Beda-beda tipis dengan Wenny Kansil. Tetapi dari segi intelektual aku mau jujur, sulit bersaing dengan Wenny dan Uto Pepi.... Bila uto pepi dan verra ditemukan bersama Hendra, sungguh kontras bedanya, bak jari telunjuk berpasangan dengan jari kelingking (verra) dan jempol (pepi). Tetapi mereka unik.... sangat unik dan banyak yang menyukainya bila mereka sedang asyik begadang di perpustakaan.
Pak Oskar Malale guru mata pelajaran olahraga seringkali memergoki ketiga pasang sejoli itu bila sedang enjoy. Untunglah si Noldy dan Wenny hampir selalu tak meninggalkan kelas, mereka lebih memilih berdiam di dalam kelas menunggu bel masuk pasca istirahat berbunyi. Sebaliknya, Sista dan Egrie Tinagari merupakan pasangan yang tak kalah serunya dibanding Noldy dan Wenny. Kedua pasang ini, memberikan makna yang dalam bagi sebuah status berpacaran yang maha dasyat sewaktu SMA.
Demikianlah cinta mereka bersemi dan mereka layak melakukan hubungan itu karena nilai metafak yang terkandung di dalamnya. Mungkin akulah satu-satunya orang yang paling mengerti metafak dibalik hubungan cinta itu. Aku lelaki pendiam yang bertugas mengamati setiap perilaku mereka. Baik Weny-Noldy atau Egry-Sista, mereka adalah pelajaran berharga bagiku memahami kehidupan dari sisi cinta..... Kusimpulkan dari kisah mereka, Cinta hanya untuk cinta.... meskipun kelak mereka tidak harus saling memiliki ataupun mereka harus berpisah karena sebuah alasan, yaitu cinta sejati.
Bidang Fisika yang merupakan jurusan pokok kami sekaligus merupakan pelajaran yang paling kami idolakan bersama Pak Martin yang cerdas mengajar kami teknik merangkai dimmer control yaitu sistem kerja lampu yang dapat diturunkan dayanya pada batas-batas sesuai keinginan pengguna. Tentunya selain Fisika, mata pelajaran yang paling digemari adalah Matematika. Kebetulan yang mengajar Matematika kala itu adalah kakak kandung Liefson, yang kami sapa Enci Tuti Jakobus. Dia bukan saja cerdas, dia memilki kecantikan sekelas Marlyn Moendroe yang sering membuat mata jahil Liong jadi terpanah. Enci Tuti pasti menyadari situasi itu.
Mengunci Kelas
Mata pelajaran lain kurang disenangi adalah bahasa Indonesia, tapi untunglah gurunya, pak guru Tumbio memiliki sejuta jurus untuk membuat siswanya senang belajar bidang studinya. Dia nampak lugu dan sekali-kali agak sedikit keras. Man dan Liong meskipun mereka sedikit lalod (lama loading) tetapi soal kenakalan mereka tidak kalah dengan guru. Suatu saat jam Pak Tumbio harus mengajar bahasa Indonesia terpaksa batal karena kelakuan Man dan Lion yang menyembunyikan kunci pintu kelas sehingga Pak Tumbio tidak bisa masuk. Lion mengancam agar kami berdiam diri. Tidak boleh ada suara keluar sedikitpun dari mulut kami.
Sebagai teman setia, kami sekelas ikut saja pada kedua petinggi kelas itu. Jika tidak, solidaritas kelas kami pasti terganggu. Rodly Tamahari, Risno Pangulimang, Unsong, dan Sosipater Pangumpia selaku pria bersosok lembut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak setuju dan terpaksa manut demi solidaritas kelas yg diciptakan Man dan Lion. Ulah kedua lelaki itu sontak membuat lingkungan sekolah menjadi ribut karena Pak Tumbio untuk pertama kalinya mengalami marah besar karena merasa terusir oleh siswa kelas III Fisika.
Menyadari situasi ribut itu, kami sekelas justru semakin diam di dalam kelas menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Man Dalughu panik dan membuang kunci dari jendela ke semak-semak di samping kelas. Perbuatan itu coba dilerai oleh Mega dan Wati namun sayang kedua perempuan besar itu gagal menangkap tangan Man yang gesit seperti kilat. Anak kunci pintu kelas melayang ke luar jendela, tak dapat terdeteksi lagi.
Pintu kelas yang tidak dapat dibuka itu harus dibongkar oleh Pak Oskar Malale. Lantas kami dikeluarkan dari kelas dan disuruh berbaris di depan ruang tunggu. Satu-satu kami berbaris menurut derajat ketinggian, dimulai dari yang paling kecil yaitu Verra Pande, kemudian Wenni Kansil dan ketiga Uto Pepi seterusnya Unsong sampai akhirnya di paling belakang terdapat Hendra dan Rodly Tamahari. Karena ulah Man dan Lion itulah, kami semua menjadi korban dijemur di bawah terik matahari pukul 12.00. Kami diwajibkan menjawab secara jujur setiap detil pertanyaan dari guru BP yang bertindak selaku hakim kala itu. Tiga perempuan kecil-kecil itu sudah diadili dan terakhir giliran Uto Pepi nampak pucat pasih setelah menjawab puluhan pertanyaan seolah-olah dituduh melakukan korupsi.
Melihat gelagat Uto pepi yang hampir pingsan itu, serta merta Man yang berdiri di depanku bebisik pelan-pelan, Max, kalo kita jatuh tangkap akang ne?.... kataku.... rencana apa lagi bro?..... Belum selesai pertanyaanku kawan, Man sudah jatuh pingsan. Barisan kami langsung bubar karena strategi kedua yang dilancarkan Man melawan penghakiman hari itu. Barisan yang berjejer itu mengerumuni Man yang sedang pingsan, dan mungkin karena terlampau panas suhu udara di sekitar Man, maka itulah yang membuat dia menjadi pingsan beneran sehingga mulutnya mengeluarkan busa. Man pun dilarikan ke Puskesmas Ulu (kini Rumah Sakit Ulu Siau) untuk mendapatkan pertolongan emergency. Semua guru menjadi panik. Gara-gara persoalan itu, Man tidak masuk kelas selama dua minggu dan aku orang yang setia merawat dia di rumahnya.
Video Terlarang
Dalam bidang penelitian biologi, katak-katak di kompleks Akelabo terpaksa harus bersembunyi jika anak-anak berseragam putih abu-abu sudah mulai merangsek terjun kedalam kolam. Katak-katak percobaan itu lebih banyak dikonsumsi daripada digunakan untuk kepentingan penelitian. Man menggorengnya buat makan siang kami di sebuah pondok yang saya tinggali untuk menyelesaikan studi karena bersiap2 hendak Ebta sekolah dan Ebtanas.
Selesai melakukan kegiatan praktek, dan bell istirahat berbunyi, muncullah gagasan dari Lion dan kawan-kawan untuk nonton film porno. Tempat strategis yang menjadi pilihan kami untuk pemutaran video porno itu adalah di rumah Uto Sandra Maluenseng. Sandra tak bisa menolak, karena mata Lion seperti mata elang menatap penuh ancaman persis menyoroti mata kecil si "anak ayam" kurus. Kasian Uto Sandra.... dia tak sanggup mengelak. Alasan yang sangat masuk akal, rumah terdekat dengan sekolah dan cukup strategis karena jauh dari keramaian kota Ulu.
Kedua orang tua dari Sandra Maluenseng adalah guru, mereka tidak berada di rumah pada jam-jam sekolah seperti itu. Sekali lagi jam pelajaran diganti dengan aksi kuriositas anak muda yang ingin tahu banyak tentang praktek membuat manusia baru. Tetapi kami tidak melakukan hal-hal negatif, karena yang nonton film porno itu hanya laki-laki yang nakal saja. Para perempuan kami, ditugaskan oleh Ketua Osis untuk membuat rujak dari buah pepaya di kintal belakang rumah Sandra.
Rabu, 17 Februari 2010
Asal-Usul Manusia Sangihe Talaud
Oleh : Iverdixon Tinungki
Peta genetika yang kini terbuka luas, setidaknya memberikan cukup sinar atas tabir rahasia sebuah pertanyaan besar: Dari manakah nenek moyang kita berasal? Dari manakah kita datang? Meskipun masih menyisakan sejumlah teka-teki, tapi dibanding masa sebelumnya, dunia antropologi saat ini melakukan lompatan besar dalam menyusun peta genetis yang menjelaskan mata rantai persebaran umat manusia di suluruh bumi. Penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah ini mulai menggeser keyakinan klan-klan umat manusia diberbagai tempat akan cerita ke-asal-an manusia yang bersumber dari mite dan legenda.
Seperti klan lain di Indonesia, orang Sangihe Talaud sebagai sebuah indigenous, dalam kurun ribuan tahun hidup dalam mite dan legenda tersendiri, yang pada akhirnya melahirkan system nilai dalam kehidupan mereka. Tapi apakah dengan demikian membedakan ke-asal-an etnik ini dengan suku bangsa lain di jazirah Nusantara? Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangihe Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Milanesia yang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM. Kemudian disusul pada masa yang lebih muda sekitar 3.000 tahun SM dari Formosa yang berbahasa Austronesia. Penemuan terbaru yang lebih mengejutkan yang berhasil mematahkan terori linguistic di atas, adalah adanya kemungkinan nenek moyang suluruh klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, dengan ciri gen dari masa yang lebih tua sebelum migrasi Formosa.
Agak berbeda dengan sejumlah anasir antropologi kebudayaan, hasil peneletian gen manusia saat ini memberikan cerita tentang pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang berekspansi ke Eurasia. Perhitungan para paleoantropolog dan pakar genetika menyebutkan homo sapiens ini berasal dari 200.000 tahun silam dan berhasil mengembangkan keturunan sebanyak enam setengah miliar jiwa. Hal ini dibuktikan dengan pemetaan gen yang menunjukkan 99,9 persen kesamaan kode-kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia. Sisanya 1 persen hanya menegaskan perbedaan individual seperti warna mata atau resiko penyakit. Perjalanan panjang itu pun telah membawa sejumlah perubahan lain seperti mutasi neurologist yang menciptakan perbedaan bahasa lisan dan juga sebuah perubahan wajah dan ras baru.
Lalu, benarkah setiap manusia yang pernah hidup di bumi berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup pada 150.000 tahun silam di Afrika? Pertanyaan ini masih membuahkan kegelisahan para ahli untuk mengungkap jawaban yang memuaskan. Yang pasti sejumlah artefak masa lalu, menunjukkan adanya migrasi umat manusia dari suatu tempat ketempat yang lain. Dan setiap klan atau etnik telah hidup dalam milenia pada sebuah tempat hingga mengalami sujumlah mutasi budaya dan tunduk pada masing-masing dewa serta melahirkan mite-mite baru dalam kehidupan kelompok masing-masing.
Bila masuk lebih dalam menelisik aneka budaya lisan di masyarakat Sangihe Talaud, kita dipertemu dengan cerita jejak nenek moyang lebih unik dan menarik seperti pengakuan adanya para pendatang (homo sapiens) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Ampuang (manusia biasa). Selain para pendatang ini juga ada dua jenis manusia lain yang telah ada di sana dari masa sebelumnya yaitu Ansuang (raksasa) dan Apapuhang (manusia kerdil). Untuk dua jenis manusia terakhir itu, hingga kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Rujukkan terhadap keberadaan mereka masih terbatas pada kepercayaan adanya beberapa artefak seperti bekas kaki dalam ukuran besar yang terpahat di bebatuan yang bisa saja tercipta akibat fenomena alam. Apakah mereka merupakan penyimpangan genetika pada masa itu kemudian diabadikan dalam sejumlah mite dan legenda? Ini masih sebuah pertanyaan.
Sejumlah legenda pun ikut memperkaya kesimpangsiuran jejak asal muasal manusia Sangihe Talaud. Dari kepercayaan turun-temurun. Pulau-pulau Sangihe Talaud konon tercipta dari air mata seorang bidadari. Dari bidadari inilah manusia Sangihe dilahirkan. Ini sebabnya nama Sangihe itu berasal dari kata Sangi (tagis}. Di pulau-pulaud Talaud, penyebutan Porodisa untuk kawasan itu justru dikaitkan dengan anggapan dimana manusia Talaud adalah keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Padahal kata Porodisa menurut teori linguistic justru merupakan mutasi neurologist bahasa lisan dari bahasa Spanyol: Paradiso (surga). Kata Sangi di Sangihe sendiri merupakan mutasi dari kata Melayu: tangis. Mite lainnya bercerita tentang manusia yang berasal dari telur buaya. Ada juga yang beranggapan terjadi dari evolusi pelepah pisang secara mistis menjadi manusia.
Kepercayaan terhadap dewa dewi dan system nilai budaya orang Sangihe Talaud ini menujukan adanya persinggung dengan system nilai di tempat lain seperti teori keseimbangan alam, memiliki kesamaan dengan teori Fun She dan Esho Funi dalam pemahaman Hindu kuno. Kepercayaan “Manna” atau kepercayaan terhadap adanya kekuatan mekanis dalam alam yang mempengaruhi peri kehidupan manusia, bukan tidak mungkin merupakan interpretasi lain akibat mutasi dari pemahaman kaum semitik akan Tuhan. Demikian pula dengan budaya ritual persembahan kurban yang mengunakan symbol darah Manusia yang di pukul sampai mati.
Manusia Sangihe Talaud sejak masa purba, juga mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata,Ruata”, juga dinamakan ”Ghenggona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa daratan). Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.
Kendati begitu, eksplorasi yang lebih ilmiah terhadap asal usul manusia Sangihe Talaud, yang telah ada saat ini baru sebatas dari masa abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951.
Gumansalangi (Upung Dellu) sebagai Kulano tertua kerajaan Tabukan atau Tampunglawo, yang bermukim di gunung Sahendarumang bersama Ondoasa (Sangiang Killa), istrinya, adalah anak dari Humansandulage bersama istrinya Tendensehiwu, yang mendarat di Bowontehu pada awal mula migrasi Bowontehu, Desember 1399. Mereka melakukan pelayaran dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanau-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kerajaan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.
Sementara Bulango bermigrasi dari Bowontehu pada 1570 menuju Tagulandang dimana anaknya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang di pulau itu bersama para pengikutnya.
Bulango adalah saudara dari Lokongbanua II, raja pertama kerajaan Siau. Keduanya adalah anak dari raja Mokodoludut dengan istrinya Abunia dari kerajaan Bowontehu. Sedangkan Raja Bolaang Mangondow pertama, Yayubongkai, adalah juga putra Mokoduludut. Ini sebabnya ada kesamaan budaya dan marga antara orang Bolaang Mangondow dan orang Sangihe Talaud. Perubahan budaya di kedua etnik ini lebih dipengaruhi oleh alkulturasi pasca masuknya agama-agama semitik, (Kristen-Islam) di kedua kawasan etnik itu.
Untuk wilayah Kauhis-Manganitu, semuanya berasal dari keturunan Gumansalangi hingga keturunannya bernama Tolosang pada 1600 mendirikan kerajaan Kauhis- Manganitu. Demikian pula di Tahuna pada 1580 Tatehe Woba mendirikan kerajaan di sana, juga di Kendahe yang didirikan oleh Mehegelangi. Raja Kendahe ini anak dari Syarif Mansur dan istrinya Taupanglawo.
Sebelum periode migrasi Bowontehu (Manado Tua) pada 1399, kawasan itu telah dihuni manusia selama enam generasi. Tapi hal terpenting dalam hubungan kekeluargaan oranga Sangihe Talaud dan Bolang Mangondow, dipercaya karena berasal dari Migrasi Bowontehu.
Peta genetika yang kini terbuka luas, setidaknya memberikan cukup sinar atas tabir rahasia sebuah pertanyaan besar: Dari manakah nenek moyang kita berasal? Dari manakah kita datang? Meskipun masih menyisakan sejumlah teka-teki, tapi dibanding masa sebelumnya, dunia antropologi saat ini melakukan lompatan besar dalam menyusun peta genetis yang menjelaskan mata rantai persebaran umat manusia di suluruh bumi. Penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah ini mulai menggeser keyakinan klan-klan umat manusia diberbagai tempat akan cerita ke-asal-an manusia yang bersumber dari mite dan legenda.
Seperti klan lain di Indonesia, orang Sangihe Talaud sebagai sebuah indigenous, dalam kurun ribuan tahun hidup dalam mite dan legenda tersendiri, yang pada akhirnya melahirkan system nilai dalam kehidupan mereka. Tapi apakah dengan demikian membedakan ke-asal-an etnik ini dengan suku bangsa lain di jazirah Nusantara? Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangihe Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Milanesia yang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM. Kemudian disusul pada masa yang lebih muda sekitar 3.000 tahun SM dari Formosa yang berbahasa Austronesia. Penemuan terbaru yang lebih mengejutkan yang berhasil mematahkan terori linguistic di atas, adalah adanya kemungkinan nenek moyang suluruh klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, dengan ciri gen dari masa yang lebih tua sebelum migrasi Formosa.
Agak berbeda dengan sejumlah anasir antropologi kebudayaan, hasil peneletian gen manusia saat ini memberikan cerita tentang pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang berekspansi ke Eurasia. Perhitungan para paleoantropolog dan pakar genetika menyebutkan homo sapiens ini berasal dari 200.000 tahun silam dan berhasil mengembangkan keturunan sebanyak enam setengah miliar jiwa. Hal ini dibuktikan dengan pemetaan gen yang menunjukkan 99,9 persen kesamaan kode-kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia. Sisanya 1 persen hanya menegaskan perbedaan individual seperti warna mata atau resiko penyakit. Perjalanan panjang itu pun telah membawa sejumlah perubahan lain seperti mutasi neurologist yang menciptakan perbedaan bahasa lisan dan juga sebuah perubahan wajah dan ras baru.
Lalu, benarkah setiap manusia yang pernah hidup di bumi berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup pada 150.000 tahun silam di Afrika? Pertanyaan ini masih membuahkan kegelisahan para ahli untuk mengungkap jawaban yang memuaskan. Yang pasti sejumlah artefak masa lalu, menunjukkan adanya migrasi umat manusia dari suatu tempat ketempat yang lain. Dan setiap klan atau etnik telah hidup dalam milenia pada sebuah tempat hingga mengalami sujumlah mutasi budaya dan tunduk pada masing-masing dewa serta melahirkan mite-mite baru dalam kehidupan kelompok masing-masing.
Bila masuk lebih dalam menelisik aneka budaya lisan di masyarakat Sangihe Talaud, kita dipertemu dengan cerita jejak nenek moyang lebih unik dan menarik seperti pengakuan adanya para pendatang (homo sapiens) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Ampuang (manusia biasa). Selain para pendatang ini juga ada dua jenis manusia lain yang telah ada di sana dari masa sebelumnya yaitu Ansuang (raksasa) dan Apapuhang (manusia kerdil). Untuk dua jenis manusia terakhir itu, hingga kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Rujukkan terhadap keberadaan mereka masih terbatas pada kepercayaan adanya beberapa artefak seperti bekas kaki dalam ukuran besar yang terpahat di bebatuan yang bisa saja tercipta akibat fenomena alam. Apakah mereka merupakan penyimpangan genetika pada masa itu kemudian diabadikan dalam sejumlah mite dan legenda? Ini masih sebuah pertanyaan.
Sejumlah legenda pun ikut memperkaya kesimpangsiuran jejak asal muasal manusia Sangihe Talaud. Dari kepercayaan turun-temurun. Pulau-pulau Sangihe Talaud konon tercipta dari air mata seorang bidadari. Dari bidadari inilah manusia Sangihe dilahirkan. Ini sebabnya nama Sangihe itu berasal dari kata Sangi (tagis}. Di pulau-pulaud Talaud, penyebutan Porodisa untuk kawasan itu justru dikaitkan dengan anggapan dimana manusia Talaud adalah keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Padahal kata Porodisa menurut teori linguistic justru merupakan mutasi neurologist bahasa lisan dari bahasa Spanyol: Paradiso (surga). Kata Sangi di Sangihe sendiri merupakan mutasi dari kata Melayu: tangis. Mite lainnya bercerita tentang manusia yang berasal dari telur buaya. Ada juga yang beranggapan terjadi dari evolusi pelepah pisang secara mistis menjadi manusia.
Kepercayaan terhadap dewa dewi dan system nilai budaya orang Sangihe Talaud ini menujukan adanya persinggung dengan system nilai di tempat lain seperti teori keseimbangan alam, memiliki kesamaan dengan teori Fun She dan Esho Funi dalam pemahaman Hindu kuno. Kepercayaan “Manna” atau kepercayaan terhadap adanya kekuatan mekanis dalam alam yang mempengaruhi peri kehidupan manusia, bukan tidak mungkin merupakan interpretasi lain akibat mutasi dari pemahaman kaum semitik akan Tuhan. Demikian pula dengan budaya ritual persembahan kurban yang mengunakan symbol darah Manusia yang di pukul sampai mati.
Manusia Sangihe Talaud sejak masa purba, juga mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata,Ruata”, juga dinamakan ”Ghenggona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa daratan). Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.
Kendati begitu, eksplorasi yang lebih ilmiah terhadap asal usul manusia Sangihe Talaud, yang telah ada saat ini baru sebatas dari masa abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951.
Gumansalangi (Upung Dellu) sebagai Kulano tertua kerajaan Tabukan atau Tampunglawo, yang bermukim di gunung Sahendarumang bersama Ondoasa (Sangiang Killa), istrinya, adalah anak dari Humansandulage bersama istrinya Tendensehiwu, yang mendarat di Bowontehu pada awal mula migrasi Bowontehu, Desember 1399. Mereka melakukan pelayaran dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanau-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kerajaan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.
Sementara Bulango bermigrasi dari Bowontehu pada 1570 menuju Tagulandang dimana anaknya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang di pulau itu bersama para pengikutnya.
Bulango adalah saudara dari Lokongbanua II, raja pertama kerajaan Siau. Keduanya adalah anak dari raja Mokodoludut dengan istrinya Abunia dari kerajaan Bowontehu. Sedangkan Raja Bolaang Mangondow pertama, Yayubongkai, adalah juga putra Mokoduludut. Ini sebabnya ada kesamaan budaya dan marga antara orang Bolaang Mangondow dan orang Sangihe Talaud. Perubahan budaya di kedua etnik ini lebih dipengaruhi oleh alkulturasi pasca masuknya agama-agama semitik, (Kristen-Islam) di kedua kawasan etnik itu.
Untuk wilayah Kauhis-Manganitu, semuanya berasal dari keturunan Gumansalangi hingga keturunannya bernama Tolosang pada 1600 mendirikan kerajaan Kauhis- Manganitu. Demikian pula di Tahuna pada 1580 Tatehe Woba mendirikan kerajaan di sana, juga di Kendahe yang didirikan oleh Mehegelangi. Raja Kendahe ini anak dari Syarif Mansur dan istrinya Taupanglawo.
Sebelum periode migrasi Bowontehu (Manado Tua) pada 1399, kawasan itu telah dihuni manusia selama enam generasi. Tapi hal terpenting dalam hubungan kekeluargaan oranga Sangihe Talaud dan Bolang Mangondow, dipercaya karena berasal dari Migrasi Bowontehu.
KASUS ELLY LASUT DAN LELANG IKAN
Saya buta dengan dinamika politik mutakhir di Sulawesi Utara. Hari-hari ini, menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) provinsi, berita para kandidat cukup meraja di halaman media massa di Sulawesi Utara. Dengan maksud melepas kangen dengan kampung saya, hari ini saya baca Tribun Manado, harian yang dikelola kelompok Kompas-Gramedia, lewat berita online. Di harian itu, berita Elly Lasut, salah satu kandidat dan kini pejabat bupati Kepulauan Talaud, menjadi berita utama. Elly telah jadi tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi oleh Kejati Sulut.
Dugaan korupsi Elly bukan kabar baru. Awal 2007, saya sempat bercakap-cakap dan bertukar cerita dengan beberapa pegiat anti-korupsi di Sulawesi Utara. Salah satu dari mereka punya bukti dugaan korupsi tersebut. Setidaknya begitu yang ia utarakan.
Di daerah, seperti di Sulawesi Utara, membongkar korupsi relatif mudah dilakukan. Terdapat banyak orang yang bersedia memasok data-data dugaan korupsi, terutama mereka yang merasa dirugikan oleh pelaku, macam kontraktor yang kalah proyek, atau birokrat yang tak jadi diangkat. Data bukan soal. Begitu juga Whistle blower. Apa yang kurang? Barangkali Sulawesi Utara masih terus mencari pegiat anti-korupsi militan dan punya integritas. Ini masih begitu kurang, kalau bukan belum ada.
Data adalah satu syarat penting, tapi jauh dari syarat cukup. Dengan data, seorang pegiat anti-korupsi bisa berubah menjadi tukang peras para pejabat. Dengan data, ia juga bisa baku tawar untuk sejumlah privilese pribadi -- minta uang, minta proyek, minta makan, minta posisi. Bekerja dalam sebuah kelompok atau jejaring yang demokratis, menjadi syarat utama guna menekan kemungkinan-kemungkinan di atas. Kalau tidak, beragam kompromi sangat mungkin jadi akhir cerita. Lebih dari itu, gerakan anti-korupsi dapat berhasil dan punya daya tonjok, tentu, andaikata ia disokong masyarakat secara luas dan masal. Dan dilancarkan penuh perhitungan. Tidak nekad.
Catatan lain barangkali adalah kelemahan analitik terkait korupsi. Analisa korupsi, termasuk dari para pakar, rasanya belum cukup membumi. Di tempat pertama, ini bukan karena sebagian pakar itu masih dapat dibeli, baik tubuh atau jiwa mereka, sehingga mereka berkepentingan untuk membangun analisa kurang jujur. Melainkan, karena korupsi di daerah punya kerumitan yang khas. Antara lain, social proximity yang pendek. Dengan enteng, Torang dapat memaki Neoliberalisme yang abstrak. Torang dapat pula mengumpat dana talangan Century yang heboh di Jawa. Tapi, Torang harus putar otak saat berhadapmuka dengan Om, Tante, Saudara, atau anggota Majelis Jemaat gereja sendiri, yang korupsi.
Terakhir, satu sketsa kasar terkait kelembagaan dan dinamika aktor. Saat membaca berita Tribun Manado, saya berpikir begini. Mungkin, kasus Elly sepatutnya dilihat sebagai sebuah proses tawar-menawar belaka. Di mana Kejati boleh jadi sedang memainkan peran titipan (pada aras institusi) dan peran sendiri (pada aras kepentingan individu), secara serempak. Dengan begitu, barangkali kasus itu tak beda jauh dengan proses yang dapat kita amati di pasar lelang ikan di Manado. Penjual dan pembeli senang, ikan pun pindah tangan.
Bagaimanapun juga ini masa menjelang Pilkada, ketika mesin-mesin pencitraan membuat kita sulit membaui amis ikan, dan cepat tenggelam dalam fantasi kenikmatan ikan bakar. Tapi, tamang, soal pokok mungkin bukan di situ.
Sulawesi Utara sedang paceklik pegiat anti-korupsi yang militan. Semilitan Robert Wolter Monginsidi, tuama dari kampung ikan itu.***Sonny Mumbunan
Dugaan korupsi Elly bukan kabar baru. Awal 2007, saya sempat bercakap-cakap dan bertukar cerita dengan beberapa pegiat anti-korupsi di Sulawesi Utara. Salah satu dari mereka punya bukti dugaan korupsi tersebut. Setidaknya begitu yang ia utarakan.
Di daerah, seperti di Sulawesi Utara, membongkar korupsi relatif mudah dilakukan. Terdapat banyak orang yang bersedia memasok data-data dugaan korupsi, terutama mereka yang merasa dirugikan oleh pelaku, macam kontraktor yang kalah proyek, atau birokrat yang tak jadi diangkat. Data bukan soal. Begitu juga Whistle blower. Apa yang kurang? Barangkali Sulawesi Utara masih terus mencari pegiat anti-korupsi militan dan punya integritas. Ini masih begitu kurang, kalau bukan belum ada.
Data adalah satu syarat penting, tapi jauh dari syarat cukup. Dengan data, seorang pegiat anti-korupsi bisa berubah menjadi tukang peras para pejabat. Dengan data, ia juga bisa baku tawar untuk sejumlah privilese pribadi -- minta uang, minta proyek, minta makan, minta posisi. Bekerja dalam sebuah kelompok atau jejaring yang demokratis, menjadi syarat utama guna menekan kemungkinan-kemungkinan di atas. Kalau tidak, beragam kompromi sangat mungkin jadi akhir cerita. Lebih dari itu, gerakan anti-korupsi dapat berhasil dan punya daya tonjok, tentu, andaikata ia disokong masyarakat secara luas dan masal. Dan dilancarkan penuh perhitungan. Tidak nekad.
Catatan lain barangkali adalah kelemahan analitik terkait korupsi. Analisa korupsi, termasuk dari para pakar, rasanya belum cukup membumi. Di tempat pertama, ini bukan karena sebagian pakar itu masih dapat dibeli, baik tubuh atau jiwa mereka, sehingga mereka berkepentingan untuk membangun analisa kurang jujur. Melainkan, karena korupsi di daerah punya kerumitan yang khas. Antara lain, social proximity yang pendek. Dengan enteng, Torang dapat memaki Neoliberalisme yang abstrak. Torang dapat pula mengumpat dana talangan Century yang heboh di Jawa. Tapi, Torang harus putar otak saat berhadapmuka dengan Om, Tante, Saudara, atau anggota Majelis Jemaat gereja sendiri, yang korupsi.
Terakhir, satu sketsa kasar terkait kelembagaan dan dinamika aktor. Saat membaca berita Tribun Manado, saya berpikir begini. Mungkin, kasus Elly sepatutnya dilihat sebagai sebuah proses tawar-menawar belaka. Di mana Kejati boleh jadi sedang memainkan peran titipan (pada aras institusi) dan peran sendiri (pada aras kepentingan individu), secara serempak. Dengan begitu, barangkali kasus itu tak beda jauh dengan proses yang dapat kita amati di pasar lelang ikan di Manado. Penjual dan pembeli senang, ikan pun pindah tangan.
Bagaimanapun juga ini masa menjelang Pilkada, ketika mesin-mesin pencitraan membuat kita sulit membaui amis ikan, dan cepat tenggelam dalam fantasi kenikmatan ikan bakar. Tapi, tamang, soal pokok mungkin bukan di situ.
Sulawesi Utara sedang paceklik pegiat anti-korupsi yang militan. Semilitan Robert Wolter Monginsidi, tuama dari kampung ikan itu.***Sonny Mumbunan
Langganan:
Postingan (Atom)
